Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Dana IPO COIN Rp207 Miliar Menganggur, Belum Terpakai!

352
×

Dana IPO COIN Rp207 Miliar Menganggur, Belum Terpakai!

Sebarkan artikel ini
Dana IPO COIN Rp207 Miliar Masih Menganggur
Enam bulan melantai di BEI, PT Indokripto Koin Semesta (COIN) belum gunakan dana IPO Rp207 M. Dana justru parkir di deposito & giro. Cek strategi manajemen!

Duit Publik "Parkir" di Bank: Dana IPO COIN Rp207 Miliar Nihil Realisasi!

JAKARTA – Sudah setengah tahun melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Indokripto Koin Semesta (COIN) mengejutkan publik dengan laporan penggunaan dana hasil IPO-nya.

Bukannya agresif membangun infrastruktur kripto, emiten ini justru memilih untuk “membiakkan” dana segar tersebut di instrumen perbankan.

Sponsor
Iklan

Hingga Januari 2026, dana bersih senilai Rp207 miliar hasil Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dilaporkan masih utuh dan belum tersentuh untuk rencana operasional awal.

Strategi “Mencari Bunga” di Tengah Masa Tunggu

Alih-alih menyuntikkannya ke modal kerja sesuai skenario awal, manajemen COIN memutuskan untuk mengendapkan dana tersebut agar mendapatkan keuntungan bunga:

  • Deposito: Senilai Rp30 miliar dengan bunga 5% per tahun.
  • Rekening Giro: Senilai Rp177,05 miliar dengan bunga mencapai 6% per tahun.

Langkah ini memastikan dana publik tetap aman, namun sekaligus menandai adanya penundaan eksekusi strategis yang seharusnya menjadi motor pertumbuhan perusahaan sejak listing pada 9 Juli 2025 lalu.

Rencana Besar yang Tertunda

Berdasarkan prospektus aslinya, COIN seharusnya mengalokasikan dana tersebut untuk dua lini utama:

  1. Modal Kerja CFX (85%): Termasuk infrastruktur teknologi (cloud & IT security) serta biaya provisi likuiditas bursa kripto.
  2. Modal Kerja ICC (15%): Untuk biaya operasional, riset blockchain, dan edukasi publik.

Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa dari total Rp207 miliar tersebut, realisasinya masih nihil (0%).

Kilas Balik IPO: Modal Besar, Eksekusi Lambat?

Saat IPO, COIN berhasil melepas 2,20 miliar saham baru dan meraup dana kotor Rp220,58 miliar.

Setelah dipotong biaya emisi Rp13,53 miliar, perusahaan mengantongi dana bersih yang sangat cukup untuk mendominasi ekosistem kripto tanah air.

Pertanyaannya bagi investor: Apakah ini bentuk kehati-hatian manajemen dalam menghadapi volatilitas pasar kripto, ataukah ada kendala infrastruktur yang menghambat eksekusi bisnis mereka? Yang pasti, saat ini COIN lebih terlihat seperti “pemegang deposito kakap” daripada pemain teknologi blockchain yang agresif.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.