Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Asing Buang Saham BBCA & BMRI Rp1,3 T, IHSG Gagal Tembus 9.000

274
×

Asing Buang Saham BBCA & BMRI Rp1,3 T, IHSG Gagal Tembus 9.000

Sebarkan artikel ini
Asing Buang Saham BBCA & BMRI Rp1,3 T, IHSG Gagal Tembus 9.000
Investor asing net sell Rp1,32 triliun, sasar BBCA & BMRI. IHSG parkir di 8.992. Di tengah tekanan, saham ADRO & UNTR justru jadi buruan. Cek strategi lengkapnya!

Eksodus Dana Asing: Perbankan Raksasa Dilego, IHSG Terpental dari Level Psikologis

JAKARTA – Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh gelombang aksi jual masif investor mancanegara pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026.

“Uang panas” asing terpantau keluar secara agresif dari saham-saham blue chip perbankan, memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) layu sebelum sempat mencicipi level psikologis 9.000.

Sponsor
Iklan

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total aksi jual bersih (net sell) asing mencapai angka fantastis Rp 1,32 triliun hanya dalam satu hari.

Big Banks Jadi Samsat Jualan: BBCA Terpukul Paling Dalam

Sektor keuangan yang biasanya menjadi tulang punggung bursa kini berbalik menjadi pemberat. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama dengan net sell mencapai Rp 883,2 miliar. Langkah ini diikuti oleh bank-bank raksasa lainnya:

  • BMRI: Dilepas Rp 207,5 miliar.
  • BBNI: Terdepak Rp 104,2 miliar.
  • BBRI: Mencatat penjualan Rp 103,1 miliar.

Tak hanya perbankan, emiten pertambangan pelat merah ANTM juga ikut dilego asing senilai Rp 127 miliar. Aksi ini secara otomatis memangkas akumulasi beli bersih asing sepanjang tahun 2026 menjadi tersisa Rp 3,29 triliun saja.

Anomali di Tengah Tekanan: ADRO dan UNTR Tetap “Seksi”

Menariknya, di saat perbankan dibuang, asing justru terlihat memburu saham-saham berbasis sumber daya dan alat berat. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memimpin perolehan beli bersih (net buy) senilai Rp 157,39 miliar, disusul oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan akumulasi Rp 138,3 miliar.

Ini mengindikasikan adanya rotasi sektoral ke saham-saham yang dianggap memiliki yield menarik di tengah volatilitas pasar.

IHSG Bertahan di Bawah 9.000: Sektor Non-Primer Jadi Penyelamat

IHSG ditutup melemah tipis 0,2% di level 8.992,1. Meski dihujani aksi jual asing, pasar domestik masih menunjukkan perlawanan. Sektor barang konsumen non-primer melesat 1,4%, disusul sektor infrastruktur yang naik 1,3%. Sebaliknya, sektor energi dan teknologi menjadi beban terberat dengan pelemahan lebih dari 1,7%.

Dengan nilai transaksi yang jumbo mencapai Rp 37,5 triliun, pasar saat ini sedang dalam fase krusial. Apakah ini hanya koreksi sehat atau awal dari tren outflow yang lebih panjang? Investor disarankan tetap waspada terhadap pergerakan rupiah dan kebijakan suku bunga global yang bisa mempengaruhi arus modal pekan depan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.