Prediksi Harga Emas 2026: Tembus US$ 5.175, Mampukah Menuju US$ 6.000?
Jakarta, BursaNusantara.com – Harga emas dunia kembali mengguncang pasar finansial global dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High) pada awal tahun 2026. Ketidakpastian geopolitik yang kian memanas dan tren dedolarisasi menjadi bahan bakar utama yang membuat logam mulia ini kian tak terbendung.
Bagi Anda para investor, apakah ini saat yang tepat untuk masuk, atau justru harga sudah terlalu mahal? Simak analisis mendalamnya di bawah ini.
Harga Emas Tembus Level Psikologis Baru
Berdasarkan data perdagangan Selasa (27/1/2026), harga emas spot mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 3,33% ke level US$ 5.175,39 per ons troi. Angka ini merupakan sejarah baru setelah sebelumnya emas berhasil bertahan di atas level psikologis US$ 5.000.
Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Februari juga melejit 1,81% hingga menyentuh US$ 5.215,04. Kenaikan ini mencerminkan tingginya permintaan pasar terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Mengapa Harga Emas Naik Begitu Cepat?
Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan harga emas “meledak” di pasar global:
1. Ketidakpastian Geopolitik & Ekonomi
Dunia saat ini tengah menghadapi tensi geopolitik yang tinggi. Dalam situasi konflik atau ketidakpastian ekonomi, investor cenderung memindahkan dana mereka dari aset berisiko (seperti saham) ke emas yang dianggap jauh lebih aman.
2. Sinyal Kebijakan The Fed
Pasar kini tengah menanti hasil pertemuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Adanya ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan atau bahkan diturunkan dalam jangka panjang membuat daya tarik dolar AS sedikit meredup, sehingga emas menjadi pilihan utama.
3. Tren Dedolarisasi Global
Bank sentral di berbagai belahan dunia dilaporkan terus menambah cadangan emas mereka secara agresif. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Dolar AS (dedolarisasi), yang secara otomatis mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi.
Ramalan Harga Emas: Menuju US$ 6.000?
Optimisme pasar tidak berhenti di angka US$ 5.100. Lembaga keuangan raksasa seperti Deutsche Bank dan Societe Generale telah merilis proyeksi yang berani. Mereka memperkirakan harga emas berpotensi menyentuh US$ 6.000 per ons troi pada akhir tahun 2026.
Data dari CME Group juga menunjukkan rekor transaksi harian yang mencapai lebih dari 3,3 juta kontrak, menandakan likuiditas dan minat pasar terhadap logam mulia berada di titik puncaknya.
Kesimpulan: Apakah Masih Layak Beli?
Dengan kenaikan lebih dari 18% sepanjang tahun berjalan, emas membuktikan dirinya sebagai aset terbaik di tengah badai ekonomi. Meski harga berada di rekor tertinggi, target menuju US$ 6.000 memberikan ruang pertumbuhan bagi investor jangka panjang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







