Efek Domino Selat Hormuz Menghantam Bursa dan Ekspektasi The Fed
JAKARTA, BursaNusantara.com – Gelombang kejut geopolitik di Timur Tengah kembali mengoyak stabilitas pasar finansial global dan memusnahkan harapan pelonggaran moneter.
Eskalasi kampanye militer ini secara langsung memicu pelemahan masif pada kinerja pasar saham.
Mengutip laporan Reuters, eskalasi dipicu oleh aksi pihak Iran yang menyerang sejumlah kapal di jalur Selat Hormuz.
Ketegangan memuncak secara drastis ketika fasilitas pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab (UEA) turut dibakar.
Harga Minyak Dunia jenis Brent terpantau melambung sebesar 5,8 persen pada hari Senin (4/5/2026).
Kenaikan tajam tersebut mendorong posisi penutupan Brent bertengger di level USD114,44 per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut mencatatkan lonjakan harga sebesar 4,4 persen.
Kinerja WTI tersebut mengakhiri sesi perdagangan secara kokoh di angka USD106,42 per barel.
Pergerakan ekstrem komoditas ini secara keseluruhan mewakili lonjakan harga minyak yang hampir menyentuh angka 6 persen dalam sehari.
Volatilitas ini terjadi sesaat setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan strategis pada akhir pekan.
Presiden Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan berjanji untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz.
Respons dan gesekan militer ini memicu eskalasi konflik yang diklaim sebagai yang terbesar sejak gencatan senjata diumumkan empat pekan lalu.
Apakah Stimulus Fiskal Akan Berubah Jadi Bantalan Krisis?
Jalur Selat Hormuz menanggung beban vital karena dilewati oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas laut dunia.
Kawasan perairan strategis tersebut telah menderita gangguan distribusi yang sangat serius dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Lonjakan biaya komoditas energi ini memukul mundur kinerja pasar saham Wall Street secara merata di berbagai sektor.
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat tergelincir turun sebesar 1,13 persen.
Indeks S&P 500 ikut mengalami pelemahan dengan koreksi sebesar 0,41 persen.
Indeks teknologi Nasdaq Composite tidak luput dari tekanan dengan mencatatkan penurunan sebesar 0,19 persen.
Analis strategi investasi Edward Jones, Brock Weimer, memperingatkan adanya ancaman pergeseran dampak stimulus ekonomi korporasi.
Ia memproyeksikan stimulus fiskal yang berasal dari pemotongan pajak tahun 2025 tidak akan lagi berfungsi sebagai pendorong pertumbuhan.
Manfaat pemotongan pajak tersebut hanya akan terserap menjadi peredam guncangan apabila harga minyak terus bertahan di atas level USD100 per barel.
Bagi investor ritel, skenario ini menjadi peringatan keras bahwa ekspansi bisnis emiten berisiko terhenti karena kelebihan kas mereka akan terbakar habis untuk menambal lonjakan biaya operasional energi.
Inflasi Mencekik, Era Pemangkasan The Fed Resmi Berakhir?
Tekanan jual akibat krisis energi tidak hanya meruntuhkan bursa Amerika, tetapi juga menyeret indeks saham global MSCI di luar Jepang turun 0,22 persen.
Bursa regional Eropa ikut tertekan hebat oleh sentimen pelemahan saham-saham produsen mobil asal Jerman.
Kejatuhan sektor otomotif ini dipicu oleh ancaman Trump pada hari Jumat yang berniat menaikkan tarif untuk mobil dan truk asal Eropa.
Sentimen perang dagang tersebut secara agresif menekan indeks pan-Eropa STOXX 600 hingga terkoreksi 0,99 persen.
Transaksi di benua biru semakin lesu mengingat pasar utama di London ditutup sementara karena penetapan hari libur.
Fokus utama institusi keuangan global kini beralih pada ketakutan inflasi yang dipicu oleh mahalnya harga minyak.
Ancaman inflasi ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan sangat memperumit arah prospek kebijakan moneter global ke depan.
Pelaku pasar saat ini secara drastis tidak lagi memperkirakan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada tahun ini.
Institusi perbankan Barclays pada hari Senin turut bergabung dengan sejumlah lembaga lain yang memprediksi absennya kebijakan pelonggaran dari The Fed.
Ekspektasi pasar bahkan mulai merubah haluan dengan mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa dan Bank of England.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun langsung merespons sentimen ini dengan kenaikan 6 basis poin ke posisi 4,438 persen.
Di kawasan euro, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun yang menjadi acuan juga merangkak naik 5 basis poin menjadi 3,08 persen.
Eskalasi militer di perairan Timur Tengah terbukti berisiko tinggi menghancurkan struktur valuasi portofolio investasi secara sistemik.
Laporan data tenaga kerja (payroll) Amerika Serikat bulan April yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat berpotensi menjadi katalis tajam yang akan kembali menggeser ekspektasi arah pasar.
Pemodal diwajibkan untuk tetap berhati-hati, menahan diri dari aset berisiko, dan memantau pergerakan pasar valuta asing yang tidak stabil untuk melihat kemungkinan intervensi Jepang dalam menopang nilai tukar yen.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












