Harga Saham Telkom Mulai Bangkit, Apa Strategi Utamanya?
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) kembali menunjukkan pergerakan positif. Pada perdagangan Jumat, 3 Januari 2025, TLKM mengalami kenaikan sebesar 1,85% ke level Rp2.750. Selama sesi perdagangan tersebut, tercatat sebanyak 49,91 juta saham TLKM ditransaksikan dengan frekuensi mencapai 9.264 kali dan nilai transaksi sebesar Rp137,23 miliar.
Akumulasi Saham TLKM oleh Investor Besar
Analis mencatat bahwa saham TLKM sedang diakumulasi oleh sejumlah broker besar. Mandiri Sekuritas tercatat melakukan net buy sebesar Rp26,9 miliar, sementara UBS Sekuritas mencatatkan net buy Rp26,5 miliar. Total pembelian asing pada saham ini mencapai Rp46,8 miliar, dengan nilai transaksi beli sebesar Rp108 miliar.
Rekomendasi dan Target Harga Saham TLKM
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan strategi trading buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp2.810. Level resistance ditetapkan pada Rp2.810, sedangkan support berada di Rp2.720. Stop loss untuk menjaga risiko ditetapkan di Rp2.630.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga lebih tinggi, yakni Rp4.250, berbasis analisis discounted cash flow (DCF).
Strategi FMC: Kunci Pertumbuhan Telkom
Pertumbuhan kinerja Telkom diproyeksikan akan didukung oleh implementasi strategi Fixed Mobile Convergence (FMC). Strategi ini menggabungkan jaringan fixed broadband dengan layanan internet mobile, memungkinkan potensi cross-selling yang kuat melalui penawaran terpadu.
Telkom diperkirakan akan memperkuat posisinya di pasar melalui sistem penagihan tunggal yang mulai diterapkan pada kuartal IV-2024 atau awal 2025. Langkah ini memberikan kenyamanan bagi konsumen, sekaligus meningkatkan potensi pendapatan perusahaan.
Katalis Positif untuk Tahun 2025
Beberapa katalis utama diprediksi akan mendukung strategi FMC Telkom, di antaranya:
- Stabilisasi Belanja Konsumen: Terlihat sejak Oktober 2024.
- Kenaikan Harga Layanan: Beberapa paket layanan telah mengalami kenaikan harga.
- Momentum Musiman: Pemilu 2024, hari libur, dan Lebaran 2025 diprediksi meningkatkan trafik jaringan.
Pada kuartal IV-2024, Telkom diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 2% secara quarter-on-quarter (qoq), yang akan menjadi pijakan positif untuk tahun 2025.
Tantangan yang Dihadapi TLKM
Meski memiliki prospek cerah, Telkom masih menghadapi beberapa tantangan. Pada kuartal III-2024, pendapatan perusahaan turun 2,7% qoq, dengan margin EBITDA inti yang menyusut 140 bps menjadi 50,6%. Hal ini mencerminkan dampak kondisi makroekonomi yang kurang kondusif.
Namun, berbeda dengan pesaingnya, Telkom tetap mempertahankan kepemilikan aset fiber optic melalui InfraCo. Aset ini direncanakan untuk dimonetisasi pada periode 2025-2026, yang diperkirakan akan memberikan kontribusi besar terhadap margin EBITDA minimal 51%.
Kesimpulan dan Prospek Saham TLKM
Dengan strategi FMC dan momentum pasar yang mendukung, Telkom Indonesia (TLKM) memiliki potensi besar untuk bangkit dari tekanan sebelumnya. Investor yang mempertimbangkan saham ini disarankan untuk memanfaatkan level support dan resistance, serta memperhatikan target harga jangka panjang yang diproyeksikan mencapai Rp4.250.
Jika Anda tertarik dengan saham TLKM atau ingin mengetahui lebih dalam tentang strategi FMC yang diterapkan Telkom, kunjungi situs berita lengkap untuk informasi lebih mendalam.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









