JAKARTA, BursaNusantara.com – Proyeksi Moderat Pertumbuhan EPS dan Kredit Pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) sektor perbankan pada tahun 2025 diperkirakan mengalami moderasi sebesar 5,8%.
Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi 2024 yang mencapai 6,7%. Selain itu, pertumbuhan kredit perbankan juga diproyeksikan melambat ke angka 9,9% pada 2025, turun dari estimasi 2024 sebesar 13,4%.
Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ekspansi korporasi yang lebih moderat pada sektor pertambangan dan penggalian. Segmen UMKM juga diperkirakan masih dalam proses pemulihan kualitas aset yang memengaruhi total pertumbuhan kredit.
“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit bank-bank besar akan terus mengungguli industri pada 2025, karena didukung oleh likuiditas yang lebih tinggi dan biaya dana (cost of fund/CoF) yang lebih tangguh,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya.
Kondisi Likuiditas dan Risiko Kredit Likuiditas ketat diprediksi terus berlanjut terutama pada semester pertama 2025. Kondisi ini didorong oleh penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan yield tinggi serta penurunan dana cadangan sekunder. Selain itu, dampak insentif giro wajib minimum (GWM) juga kurang signifikan dalam memperbaiki kondisi likuiditas bank.
Tantangan lainnya adalah risiko non-performing loan (NPL) dan cost of credit (CoC) yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh basis yang rendah pada tahun 2024 serta ketidakpastian kondisi ekonomi global. Dengan demikian, pelaku pasar disarankan untuk tetap berhati-hati dalam menyikapi sektor perbankan.
Saham BBCA: Rekomendasi Beli dengan Target Harga Rp 11.800 BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi “beli” untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Target harga saham BBCA dipatok sebesar Rp 11.800. Saham ini tetap menjadi pilihan utama berkat potensi return on equity (ROE) yang solid serta kemampuan membayar dividen yang menarik.
Namun, analis juga mencatat bahwa risiko tunggakan kredit tetap menjadi perhatian. Oleh sebab itu, investor perlu mencermati pergerakan harga saham serta faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi kinerja bank.
Penilaian Sektor Perbankan: Sikap Netral BRI Danareksa Sekuritas menurunkan peringkat sektor perbankan dari “overweight” menjadi “netral”. Keputusan ini didasarkan pada pertumbuhan laba yang lebih rendah, likuiditas yang ketat, serta risiko kredit yang lebih tinggi. Meski demikian, sektor perbankan tetap menunjukkan stabilitas berkat fundamental yang kuat.
Sebagai catatan tambahan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diberi label non-rated oleh BRI Danareksa Sekuritas karena adanya afiliasi dengan induk usaha. Namun, secara umum, BRI juga diprediksi mampu menjaga performa yang baik berkat strategi efisiensi dan diversifikasi portofolio kreditnya.
Kesimpulan: BBCA Tetap Pilihan Terbaik Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, saham BBCA tetap menjadi rekomendasi utama untuk tahun 2025. Dukungan likuiditas yang tangguh, potensi dividen yang menarik, serta proyeksi ROE yang solid menjadikan BBCA sebagai pilihan terbaik di tengah tantangan sektor perbankan.
Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter yang dapat memengaruhi kinerja saham-saham perbankan. Langkah ini penting untuk mengoptimalkan strategi investasi dalam jangka panjang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







