BNI Dorong Optimisme di Tengah Era Suku Bunga Tinggi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank Indonesia (BI) dan pemerintah tengah menghadapi tantangan kontraksi ekonomi yang memengaruhi likuiditas dan arus uang beredar.
Di tengah situasi ini, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI mengambil langkah strategis dengan meluncurkan layanan BNIDirect, yang dirancang untuk menurunkan biaya dana (cost of fund/COF) dan memberikan solusi efektif bagi pelaku usaha.
Kontraksi Ekonomi dan Respons BNI
Dalam acara BNI Investor Daily Roundtable yang berlangsung di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (15/1/2025), Executive Chairman B-Universe, Enggartiasto Lukita, menjelaskan bahwa kebijakan kontraksi yang diterapkan oleh BI dan pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar.
Hal ini, menurutnya, berdampak pada apresiasi nilai uang, kenaikan suku bunga kredit, dan bertambahnya beban pelaku usaha.
“BI dan pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan yang menunjukkan adanya kontraksi, yang berarti akan ada berkurangnya uang yang beredar. Ini juga akan memengaruhi potensi apresiasi nilai uang dan menyebabkan kenaikan nilai kredit,” ungkap Enggartiasto.
Namun, di tengah tantangan tersebut, BNI meluncurkan BNIDirect sebagai solusi untuk menekan COF dan memberikan optimisme kepada pelaku usaha. Layanan internet banking ini memungkinkan pengelolaan keuangan yang lebih efisien dan efektif melalui fitur-fitur inovatif yang dihadirkan.
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang Positif
Langkah BNI untuk menjaga likuiditas dan efisiensi tidak lepas dari kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus tumbuh positif. Per November 2024, DPK BNI tercatat naik 6,99% year on year (yoy) menjadi Rp 783,78 triliun.
Penopang utama pertumbuhan ini adalah dana murah (current account saving account/CASA) yang melesat 11,08% yoy menjadi Rp 559,36 triliun. CASA juga menguat secara persentase, dari 68,73% menjadi 71,37% dari total DPK. Rincian lebih lanjut menunjukkan giro BNI melonjak 12,95% menjadi Rp 316,32 triliun, sedangkan tabungan meningkat 8,75% menjadi Rp 243,03 triliun.
Sebaliknya, deposito yang merupakan instrumen pendanaan mahal justru ditekan pertumbuhannya sebesar 2,02% menjadi Rp 224,42 triliun. Strategi ini menunjukkan efektivitas BNI dalam mengelola struktur pendanaan untuk mendukung pelaku usaha.
BNIDirect: Solusi di Era Suku Bunga Tinggi
Dengan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate), biaya pendanaan dan tingkat bunga deposito meningkat, memberikan tekanan tambahan pada pelaku usaha. BNIDirect hadir sebagai solusi dengan berbagai fitur yang dirancang untuk menekan COF.
Enggartiasto mengapresiasi langkah ini, mengatakan, “Kami menghargai langkah BNI yang responsif terhadap situasi ini dengan menghadirkan solusi yang dapat mengurangi beban biaya pendanaan.”
BNIDirect memberikan akses kepada pelaku usaha untuk mengelola keuangan dengan mudah dan efisien melalui fitur-fitur seperti pembayaran, pencatatan transaksi, dan manajemen likuiditas secara terintegrasi. Dengan layanan ini, BNI memperkuat posisinya sebagai bank yang peduli pada kebutuhan dunia usaha di tengah tantangan ekonomi.
Optimisme Menghadapi 2025
Enggartiasto juga mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap optimis menghadapi 2025. Ia menilai bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global.
“Harapannya, ke depan otoritas moneter tidak lagi melakukan kontraksi apapun, termasuk untuk mengendalikan inflasi,” tambahnya.
Sebagai bank yang terus berinovasi, BNI melalui BNIDirect menunjukkan komitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha yang menjadi motor penggerak perekonomian nasional.












