MANILA, BursaNusantara.com – Ketegangan antara Filipina dan China semakin memanas. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menegaskan bahwa negaranya bersedia mengembalikan sistem peluncur rudal Typhon kepada Amerika Serikat (AS). Namun, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi oleh China: menghentikan segala bentuk tindakan agresif di wilayah Laut China Selatan.
Syarat Filipina untuk China
Marcos Jr. dalam pernyataannya yang dirilis oleh Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina pada Jumat (31/1/2025), memberikan ultimatum tegas kepada Beijing.
“Mari kita buat kesepakatan dengan China: setop mengeklaim wilayah kami, berhenti mengganggu nelayan kami dan biarkan mereka mencari nafkah. Berhenti menabrak perahu kami, berhenti menyemprotkan meriam air ke rakyat kami, berhenti menembakkan laser ke arah kami, dan hentikan perilaku agresif dan koersif kalian, dan kami akan mengembalikan rudal Typhon,” ujar Marcos Jr.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara akibat klaim China atas hampir seluruh Laut China Selatan, yang tumpang tindih dengan perairan Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Reaksi China dan Ancaman Ketegangan Regional
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan bahwa keberadaan rudal Typhon di Filipina hanya akan memperburuk situasi dan meningkatkan eskalasi di kawasan. Beijing secara terbuka mendesak Filipina agar segera menarik kembali sistem pertahanan ini.
Namun, Filipina tetap berpegang pada kerja sama militernya dengan AS, yang semakin intensif dalam menghadapi dominasi China di wilayah perairan strategis tersebut. Laut China Selatan merupakan jalur perdagangan global utama dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$ 11,3 miliar (Rp 184,1 triliun) per tahun, menurut data dari Pusat Studi Strategis dan Internasional.
Penangkapan Warga China Diduga Mata-Mata
Ketegangan ini semakin diperparah dengan penangkapan lima warga negara China di Filipina. Kelima orang tersebut diduga melakukan aktivitas spionase terhadap penjaga pantai dan angkatan laut Filipina dengan menggunakan drone.
Menurut laporan dari Biro Investigasi Nasional Filipina, para tersangka diyakini telah mengumpulkan data militer Filipina dan melakukan pengintaian udara di beberapa pangkalan strategis. Sebelumnya, pada 17 Januari 2025, seorang warga China bernama Deng Yuanqing juga ditangkap atas dugaan melakukan mata-mata bersama dua warga Filipina.
Dinamika Geopolitik dan Implikasinya
Konflik antara Filipina dan China ini berpotensi memperumit dinamika geopolitik di Asia Tenggara. AS, yang menjadi sekutu utama Filipina, kemungkinan akan meningkatkan keterlibatannya dalam mendukung Manila menghadapi tekanan dari Beijing.
Sementara itu, China diprediksi akan terus mengupayakan jalur diplomatik sekaligus mempertahankan klaimnya atas Laut China Selatan. Situasi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik panas geopolitik yang patut diperhatikan oleh dunia internasional.
Kesimpulan
Pernyataan tegas Marcos Jr. menandakan ketegangan yang terus meningkat antara Filipina dan China. Dengan syarat pengembalian rudal Typhon yang diajukan, langkah berikutnya dari kedua negara akan sangat menentukan stabilitas kawasan. Apakah China akan menanggapi tuntutan Filipina atau ketegangan justru semakin meningkat? Semua mata kini tertuju pada Laut China Selatan.











