Bitcoin Tertekan, Aktivitas Jaringan Mengalami Penurunan Tajam
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar kripto kembali mengalami pelemahan dalam 24 jam terakhir, dengan harga Bitcoin (BTC) yang terkoreksi akibat turunnya aktivitas jaringan.
Berdasarkan data Coinmarketcap per Sabtu (8/2/2025) pukul 09.30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 1,12% menjadi US$ 3,14 triliun. Bitcoin sendiri melemah 0,87% dalam sehari ke level US$ 96.654 per koin.
Selain Bitcoin, aset kripto utama lainnya juga mengalami penurunan. Ethereum (ETH) turun 3,55% menjadi US$ 2.631 per koin, sedangkan Binance Coin (BNB) melemah 1,15% ke US$ 575 per koin. Pelemahan ini mengindikasikan pasar sedang dalam tekanan besar.
Jaringan Bitcoin Alami Penurunan Aktivitas
Dikutip dari laporan CryptoQuant yang dibagikan kepada CryptoNews, aktivitas jaringan Bitcoin turun signifikan, mencapai titik terendah dalam satu tahun terakhir. Indeks aktivitas jaringan Bitcoin turun 15% sejak puncaknya pada November 2024 dan kini berada di level 3.760.
Salah satu penyebab utama penurunan aktivitas jaringan Bitcoin adalah anjloknya jumlah transaksi harian. Volume transaksi Bitcoin yang sebelumnya mencapai 734 ribu pada September 2024 kini menyusut hingga 346 ribu, atau turun sebesar 53%.
Penyebab utama merosotnya transaksi ini adalah runtuhnya protokol RUNES. Sistem ini digunakan untuk mencetak token di blockchain Bitcoin. Saat diluncurkan pada April 2024, penggunaan kode OP RETURN yang menyimpan data terkait pencetakan token sempat melonjak hingga 802 ribu. Namun, angka ini kini turun drastis menjadi hanya 10 ribu.
Mempool Bitcoin Turun Drastis
Selain penurunan transaksi, data juga menunjukkan bahwa mempool Bitcoin—tempat penyimpanan sementara untuk transaksi yang belum dikonfirmasi—mengalami penurunan drastis. Jumlah transaksi tertunda merosot 99%, dari 287 ribu pada Desember 2024 menjadi hanya 3 ribu saat ini. Ini merupakan kondisi paling kosong sejak Maret 2022.
Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan investor karena menunjukkan berkurangnya aktivitas jaringan Bitcoin secara keseluruhan. Semakin rendah tingkat aktivitas, semakin kecil minat pasar terhadap Bitcoin sebagai aset transaksi.
Bitcoin Overvalued, Berisiko Tertekan Lebih Dalam
Dari sisi valuasi, Bitcoin saat ini dianggap overvalued pada harga US$ 99 ribu. Berdasarkan Metcalfe Valuation Bands, nilai wajar Bitcoin seharusnya berada dalam rentang US$ 48 ribu hingga US$ 95 ribu. Jika aktivitas jaringan tidak segera membaik, tekanan terhadap harga Bitcoin diperkirakan akan terus berlanjut.
CryptoQuant menggunakan Bitcoin Network Activity Index untuk menilai seberapa sering Bitcoin digunakan. Indeks ini mempertimbangkan volume transaksi, jumlah alamat aktif, serta kepadatan mempool. Penurunan indeks ini menjadi sinyal kuat bahwa permintaan terhadap transaksi on-chain semakin menurun.
Prospek Bitcoin di Tengah Penurunan Aktivitas
Meskipun harga Bitcoin masih berada di atas US$ 96 ribu, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi koreksi lebih lanjut. Jika aktivitas jaringan tidak meningkat dalam waktu dekat, Bitcoin bisa mengalami tekanan menuju level support US$ 90 ribu atau lebih rendah.
Namun, bagi investor jangka panjang, momen ini juga bisa menjadi peluang untuk membeli di harga diskon. Jika permintaan pasar kembali meningkat dan jaringan Bitcoin kembali aktif, potensi kenaikan harga dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Dengan demikian, pergerakan harga Bitcoin dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada pemulihan aktivitas jaringan dan sentimen pasar kripto secara keseluruhan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












