Anthoni Salim: Dari Posisi Kelima Turun ke Keenam
Nama Anthoni Salim masih tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) per 31 Desember 2024.
Berdasarkan data terbaru, konglomerat Indonesia ini menggenggam 855.239.635 lembar saham BCA atau setara 0,69%. Meskipun jumlah kepemilikannya tetap sama dibandingkan data per 31 Januari 2024, peringkatnya turun dari posisi kelima menjadi keenam.
Kepemilikan Anthoni Salim terlampaui oleh BBH Boston S/A GQG Partners Emerging Markets Equity Fund yang mengoleksi 873.752.230 (0,71%) saham BCA.
Menariknya, nilai kepemilikan Anthoni Salim masih sangat signifikan. Dengan asumsi harga saham BCA (BBCA) pada 14 Februari 2025 di level Rp8.975 per saham, portofolio Anthoni Salim setara dengan Rp7,67 triliun.
BCA, yang dikenal luas sebagai salah satu bank terbesar dan paling bernilai di Indonesia, selalu menjadi incaran investor lokal maupun asing.
Perubahan peringkat kepemilikan ini menggarisbawahi dinamika pasar modal yang terus berkembang, di mana pemegang saham institusi global seperti GQG Partners dapat memperbesar posisi mereka dalam waktu relatif singkat.
Dwimuria Investama Andalan Tetap di Puncak
Sementara itu, PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham terbesar BCA dengan kepemilikan 67.729.950.000 lembar atau 54,94% per 31 Desember 2024.
Jumlah ini tidak berubah sejak 31 Januari 2024. Dwimuria Investama dimiliki oleh duo konglomerat pemilik Grup Djarum, yakni Robert Budi Hartono (51%) dan Bambang Hartono (49%). Nilai kepemilikan mereka mencapai Rp607,8 triliun (berdasarkan asumsi harga BBCA Rp8.975 per saham).
Dominasi Dwimuria Investama mencerminkan stabilitas kepemilikan saham mayoritas di BCA, yang selama ini dikenal dengan kinerja keuangan solid, tingkat profitabilitas tinggi, serta manajemen risiko yang andal.
Keberhasilan BCA mempertahankan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah dan pertumbuhan kredit stabil menjadikannya salah satu bank paling menguntungkan di Asia Tenggara.
Deretan Pemegang Saham Terbesar BCA
Selain Anthoni Salim dan Dwimuria Investama Andalan, berikut daftar singkat top 20 pemegang saham BCA per 31 Desember 2024 berdasarkan gambar yang dilampirkan:

Meski nama-nama pemegang saham institusi asing seperti Government of Singapore dan GQG Partners Emerging Markets Fund ikut meramaikan daftar, Dwimuria Investama tetap menjadi pengendali mayoritas.
Peringkat Anthoni Salim yang bergeser mencerminkan adanya transaksi saham BCA yang melibatkan investor institusi global, walaupun jumlah kepemilikan Anthoni Salim tidak berubah.
Kinerja dan Prospek BCA di Pasar Modal
BCA konsisten menunjukkan kinerja positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit, peningkatan dana pihak ketiga (DPK), dan inovasi digital.
Kuatnya fundamental bank ini menjadikannya pilihan utama bagi investor lokal maupun asing, baik institusi maupun perorangan.
Saham BBCA kerap menjadi salah satu saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan volume perdagangannya tergolong tinggi.
- Profitabilitas Tinggi: BCA terus mencatat net interest margin (NIM) yang stabil, menjaga laba bersih yang tumbuh dari tahun ke tahun.
- Inovasi Digital: Pengembangan layanan mobile banking dan digital banking lain seperti myBCA, BCA mobile, serta integrasi QRIS mendukung efisiensi operasional.
- Manajemen Risiko Terkendali: Dengan fokus pada nasabah korporasi dan ritel, BCA mampu menjaga NPL di level rendah.
Keberhasilan BCA dalam memperluas layanan digital, termasuk kolaborasi dengan berbagai fintech dan e-commerce, juga meningkatkan minat investor.
Seiring meningkatnya inklusi keuangan di Indonesia, BCA dianggap sebagai salah satu bank yang paling siap menghadapi persaingan digital.
Alasan Penguatan Kepemilikan Investor Asing
Investor asing, termasuk fund manager global, kerap meningkatkan eksposur mereka di BBCA karena beberapa faktor berikut:
- Stabilitas Makroekonomi Indonesia: Prospek ekonomi Indonesia yang solid mendorong minat investor untuk menanamkan modal pada sektor perbankan yang dianggap defensif.
- Likuiditas Saham: BBCA memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar, menjadikannya salah satu saham dengan likuiditas tinggi di BEI. Hal ini menarik bagi investor institusi yang mencari saham dengan kapasitas besar untuk menampung dana mereka.
- Prospek Dividen: BCA dikenal sebagai salah satu emiten yang rajin membagikan dividen, sehingga menawarkan potensi pendapatan stabil bagi investor.
- Performa Saham yang Konsisten: Meskipun mengalami fluktuasi pasar, saham BBCA cenderung memberikan imbal hasil yang solid dalam jangka panjang.
Implikasi bagi Pasar Modal Indonesia
Perubahan peringkat pemegang saham terbesar di BCA dapat memengaruhi persepsi investor lain terhadap kondisi pasar.
Meskipun Anthoni Salim kini berada di posisi keenam, nilainya yang mencapai Rp7,67 triliun tetap menegaskan bahwa konglomerat tersebut masih berperan signifikan di pasar modal Indonesia.
Selain itu, kehadiran investor institusi global seperti GQG Partners Emerging Markets Fund dan Government of Singapore menegaskan bahwa pasar saham Indonesia, khususnya saham-saham blue chip seperti BCA, terus menarik perhatian investor asing.
Bagi investor ritel, dinamika kepemilikan saham BCA dapat dijadikan acuan untuk menilai minat dan kepercayaan pelaku pasar global.
Apabila investor asing memperbesar porsi kepemilikannya di saham BCA, hal ini bisa menjadi sinyal optimisme. Sebaliknya, jika aksi jual terjadi, investor lokal perlu mencermati sentimen negatif yang mungkin memicu penurunan harga.
Kesimpulan
Anthoni Salim, yang semula menempati posisi kelima pemegang saham terbesar di Bank Central Asia (BBCA), kini bergeser ke peringkat enam per 31 Desember 2024.
Meskipun jumlah kepemilikannya tetap sama di 0,69% saham BCA, posisinya disalip oleh BBH Boston S/A GQG Partners Emerging Markets Equity Fund yang memegang 0,71%. Nilai kepemilikan Anthoni Salim di BCA mencapai Rp7,67 triliun, dengan asumsi harga Rp8.975 per saham pada 14 Februari 2025.
Di sisi lain, PT Dwimuria Investama Andalan masih memimpin sebagai pemegang saham terbesar dengan porsi 54,94%, senilai Rp607,8 triliun. Struktur pemegang saham BCA ini menggambarkan kepercayaan investor, baik lokal maupun asing, terhadap fundamental kuat dan prospek cerah bank tersebut.
Perubahan peringkat kepemilikan juga menjadi indikasi pergeseran strategi investasi global, di mana institusi asing terus meningkatkan eksposur pada emiten-emiten unggulan Indonesia.
Bagi pasar modal Indonesia, dinamika kepemilikan saham BCA mencerminkan kuatnya minat investor pada saham perbankan berkualitas.
Hal ini diharapkan terus mendorong pertumbuhan indeks secara keseluruhan, memperkuat stabilitas, dan menarik lebih banyak modal asing masuk ke dalam negeri.
Kinerja positif BCA yang didukung oleh inovasi digital, manajemen risiko yang solid, dan profitabilitas tinggi menjadikannya pilihan favorit investor yang menginginkan portofolio saham bernilai tinggi di pasar domestik.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











