Transformasi Strategis BUMI Menuju Pemulihan Keuangan
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah bersiap melakukan langkah strategis besar dengan mengajukan rencana kuasi reorganisasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk kinerja tahun buku 2024.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menghapus defisit sebesar US$2,2 miliar yang selama ini membebani keuangan perusahaan.
Rencana ini diharapkan tidak hanya dapat memperbaiki fundamental keuangan BUMI, tetapi juga membuka akses pendanaan baru sehingga perusahaan berpeluang membagikan dividen yang lebih tinggi kepada pemegang saham.
Dalam Mandiri Investment Forum (MIF) 2025, manajemen BUMI menegaskan bahwa rencana reorganisasi ini merupakan bagian dari program transformasi korporat yang komprehensif.
Dengan memenuhi sejumlah syarat ketat yang ditetapkan oleh OJK, diharapkan reorganisasi ini akan meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat struktur modal.
Dua syarat utama yang harus dipenuhi adalah: pertama, defisit harus mencapai 60% lebih dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh; kedua, defisit harus mencapai 10 kali dari laba bersih dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan hitungan yang dilakukan oleh Mansek, BUMI perlu mengoleksi laba bersih sebesar US$90 juta pada tahun 2024 agar rencana ini dapat disetujui. Data per September 2024 menunjukkan bahwa BUMI telah berhasil meraih laba bersih sebesar US$136 juta, menjadi indikator positif untuk realisasi rencana tersebut.
Struktur Kepemilikan dan Rencana Ekspansi Bisnis
Dominasi Pemegang Saham Utama
BUMI saat ini didominasi oleh dua grup besar, yaitu Grup Bakrie dan Grup Salim yang bersama-sama memegang 54% saham. Kedua grup ini telah mengucurkan dana sebesar Rp24 triliun untuk akuisisi saham di harga Rp120 per saham. Sisanya, CIC memegang 10,7% saham, sementara publik menguasai 35,5%.
Struktur kepemilikan ini menjadi modal utama dalam mendukung rencana reorganisasi, karena konsistensi dukungan dari pemegang saham besar akan memberikan stabilitas dan kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Ekspansi ke Bisnis Nonbatubara
Sebagai bagian dari diversifikasi usaha, BUMI juga merencanakan ekspansi ke sektor nonbatubara, termasuk bauksit, alumina, emas, dan coking coal.
Perusahaan telah mengakuisisi aset strategis di luar negeri, khususnya di Australia, sebagai produsen coking coal terbesar dunia.
Manajemen BUMI memproyeksikan bahwa EBITDA dari bisnis nonbatubara akan meningkat drastis, dari hanya 3% pada tahun 2025 menjadi 33% pada tahun 2027 dan mencapai 46% pada tahun 2028.
Langkah ekspansi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan perusahaan pada komoditas batubara dan memperkuat portofolio bisnis secara keseluruhan.
Implikasi Reorganisasi Terhadap Dividen dan Kinerja Keuangan
Penutupan Defisit dan Peningkatan Akses Pendanaan
Dengan rencana kuasi reorganisasi ini, BUMI berupaya menghapus defisit sebesar US$2,2 miliar, yang selama ini menghambat kinerja keuangan perusahaan. Penutupan defisit diharapkan membuka akses pendanaan yang lebih luas, sehingga memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan distribusi dividen.
Proses reorganisasi ini akan membawa dampak langsung terhadap struktur modal perusahaan, yang pada akhirnya memungkinkan BUMI untuk membagikan dividen yang lebih tinggi kepada pemegang saham.
Dengan laba bersih yang sudah menunjukkan tren positif, perusahaan menargetkan agar dividen yang dibagikan dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan mendukung pertumbuhan investasi.
Proyeksi Pembagian Dividen
Menurut pernyataan manajemen, jika target dividend payout ratio mencapai antara 80% hingga 85% dari laba tahun buku 2024, BUMI berpotensi membagikan dividen yang signifikan.
Hal ini menjadi indikator bahwa upaya reorganisasi dan penguatan struktur modal tidak hanya berfokus pada perbaikan internal, tetapi juga memberikan keuntungan langsung bagi investor.
Rencana ini diharapkan dapat menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya tarik saham BUMI di pasar modal.
Strategi Penguatan Fundamental dan Inovasi Manajemen
Fokus pada Efisiensi dan Pengendalian Biaya
BUMI juga menekankan pentingnya efisiensi operasional sebagai bagian dari strategi reorganisasi. Dengan mengoptimalkan pengelolaan biaya dan meningkatkan kinerja operasional, perusahaan diharapkan dapat memperbaiki margin laba dan menghasilkan keuntungan yang lebih maksimal.
Efisiensi ini, jika digabungkan dengan upaya restrukturisasi modal, akan memberikan dampak positif pada fundamental keuangan BUMI dan membantu perusahaan untuk bertahan di tengah dinamika pasar global.
Inovasi dan Transformasi Digital
Di era digital, inovasi merupakan kunci untuk bersaing di pasar global. BUMI berencana untuk terus mengintegrasikan teknologi dan sistem informasi dalam proses operasionalnya.
Inovasi digital akan mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan efisien, serta membantu perusahaan dalam mengelola risiko keuangan dengan lebih baik.
Langkah ini sejalan dengan tren global dalam pengelolaan perusahaan besar, yang mengutamakan transformasi digital untuk mencapai efisiensi dan pertumbuhan berkelanjutan.
Harapan Investasi
Rencana kuasi reorganisasi yang diajukan oleh PT Bumi Resources Tbk ke OJK merupakan langkah strategis penting untuk menghapus defisit sebesar US$2,2 miliar dan membuka akses pendanaan baru, sehingga perusahaan dapat membagikan dividen yang lebih tinggi.
Dukungan dari Grup Bakrie dan Grup Salim, serta rencana ekspansi ke bisnis nonbatubara, memperkuat fondasi perusahaan untuk menghadapi tantangan pasar global.
Dengan fokus pada efisiensi operasional dan inovasi digital, BUMI diharapkan mampu mengoptimalkan struktur modal dan meningkatkan kinerja keuangan secara signifikan.
Bagi investor, langkah ini memberikan sinyal positif bahwa fundamental BUMI masih kuat meskipun perusahaan harus menghadapi tantangan besar.
Proyeksi pembagian dividen yang tinggi, jika berhasil, akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi para pemegang saham. Dengan strategi yang matang dan dukungan investor utama, BUMI siap menapaki fase baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat posisinya di pasar global.
Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan investasi di sektor pertambangan dan nonbatubara.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









