Geser Kebawah
Nasional

Demo Ojol Desak THR Tunai, Grab dan Gojek Tanggapi

114
×

Demo Ojol Desak THR Tunai, Grab dan Gojek Tanggapi

Sebarkan artikel ini
Demo Ojol Desak THR Tunai, Grab dan Gojek Tanggapi
Pengemudi ojol demo di depan Gedung Kemenaker RI, desak THR tunai untuk ojol, taksi online, dan kurir. Simak tanggapan Grab dan Gojek.

Aksi Demo di Depan Gedung Kemenaker RI

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pengemudi ojek online (ojol) menggelar aksi demo di depan Gedung Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker RI) pada Selasa (18/2/2025).

Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap perlakuan yang dianggap merugikan hak-hak buruh di sektor angkutan. Para pengemudi ojol, taksi online, dan kurir menuntut agar pemilik platform memberikan tunjangan hari raya (THR) dalam bentuk uang tunai.

Sponsor
Iklan

Menurut Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pujiati, “10 tahun belum pernah ada yang memberikan THR untuk mereka, sedangkan mereka bekerja setiap hari menghasilkan ratusan juta.”

Ucapan tersebut mengungkapkan kekecewaan mendalam para pekerja atas kurangnya perhatian perusahaan penyedia jasa angkutan terhadap hak-hak mereka.


Respons Pemerintah dan Kebijakan Kemenaker

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli beserta Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Gerungan segera merespons aksi demo tersebut. Kemenaker meminta agar pihak aplikator memberikan THR secara tunai untuk para mitra pengemudi, taksi online, dan kurir menjelang Lebaran 2025.

Kebijakan ini merupakan upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan yang lebih nyata kepada pekerja di sektor transportasi, yang selama ini merasa diabaikan.

Kemenaker menegaskan bahwa pemberian THR tunai harus dilakukan tanpa menggantikan bantuan sembako yang selama ini menjadi praktik umum. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan buruh dan memberikan motivasi agar sektor angkutan beroperasi dengan lebih produktif.


Tanggapan dari Pihak Grab

Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, menyatakan bahwa pihak Grab tengah berkoordinasi dengan pemerintah terkait wacana pemberian Bantuan Hari Raya (BHR) untuk mitra pengemudi.

Menurut Tirza, Grab memahami bahwa Hari Raya Idul Fitri merupakan momen penting bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk para mitra pengemudi.

“Kami menyadari bahwa momen ini sangat krusial, dan kami berkomitmen untuk mendukung mitra kami melalui berbagai inisiatif jangka panjang seperti GrabBenefits, dana santunan, dan program GrabScholar,” ujar Tirza dalam keterangan yang diterima Kompas.com.

Ia juga menambahkan bahwa Grab terus bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan dan lembaga terkait lainnya untuk memastikan bahwa dukungan kepada mitra pengemudi dapat terwujud secara optimal. Pihak Grab berharap kebijakan pemerintah nantinya akan menciptakan kerangka kerja yang seimbang dan adil bagi seluruh pelaku industri angkutan.


Tanggapan dari Pihak Gojek

Sementara itu, Gojek, melalui Chief of Public Policy & Government Relations GoTo Group, Ade Mulya, mengungkapkan bahwa perusahaan mendukung penuh kebijakan pemberian THR tunai untuk para mitra driver.

Ade menegaskan bahwa sebagai perusahaan teknologi digital, Gojek selalu berupaya menciptakan dampak positif bagi mitra driver yang telah menjadi tulang punggung operasionalnya.

“Kami memiliki program Paket Sembako Bazar Swadaya sebagai salah satu bentuk dukungan, dan tahun ini, kami tengah berkoordinasi intensif dengan Kemenaker untuk membahas Tali Asih Hari Raya yang akan mendukung kesejahteraan mitra driver,” kata Ade dalam pernyataan terpisah.

Lebih lanjut, Ade mengungkapkan bahwa sejak Gojek berdiri, perusahaan telah memberikan saham gratis kepada mitra driver saat Initial Public Offering (IPO) GoTo pada 2022.

Langkah ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan mitra, tetapi juga mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif dalam pertumbuhan ekonomi perusahaan.

Gojek berharap bahwa dengan dukungan kebijakan pemerintah dan upaya internal, para mitra driver dapat merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan lebih baik dan merasakan manfaat langsung dari program pemberian THR tunai.


Implikasi bagi Industri dan Ekonomi

Dampak Sosial bagi Pekerja Angkutan

Aksi demo yang dilakukan oleh pengemudi ojol mencerminkan permasalahan mendasar dalam industri transportasi. Kurangnya pemberian THR tunai selama 10 tahun terakhir menjadi indikator bahwa hak-hak pekerja sering kali diabaikan oleh perusahaan penyedia layanan.

Tuntutan agar THR diberikan secara tunai diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan para pengemudi, tetapi juga mendorong perbaikan kondisi kerja secara keseluruhan.

Potensi Dampak Kebijakan Terhadap Ekonomi Informal

Keputusan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan THR tunai dapat memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi informal.

Dengan adanya dukungan ini, para pekerja di sektor angkutan, termasuk pengemudi ojol, taksi online, dan kurir, akan memiliki daya beli yang lebih baik.

Hal ini tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat sektor transportasi memiliki peran strategis dalam menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.

Tantangan dan Peluang bagi Aplikator

Di sisi lain, aplikasi dan perusahaan penyedia jasa angkutan harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebijakan. Mereka perlu mengatur ulang struktur kompensasi dan insentif untuk mendukung pemberian THR tunai, tanpa mengganggu model bisnis yang telah berjalan.

Tantangan ini juga memberikan peluang bagi inovasi dalam pengelolaan sumber daya manusia, sehingga dapat menciptakan model kerja yang lebih adil dan produktif di masa mendatang.


Aksi demo pengemudi ojol di depan Gedung Kemenaker RI menandai momentum penting bagi peninjauan ulang kebijakan THR tunai bagi para mitra pengemudi, taksi online, dan kurir. Tuntutan yang dilontarkan oleh Ketua SPAI, Lily Pujiati, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kurangnya dukungan selama sepuluh tahun terakhir.

Respons dari Kemenaker RI, Grab, dan Gojek menunjukkan bahwa masalah ini telah menjadi perhatian serius dan diharapkan akan segera mendapatkan solusi yang adil.

Kebijakan THR tunai tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya beli.

Sementara itu, bagi aplikator, tantangan ini membuka peluang untuk mengimplementasikan model kompensasi yang lebih berorientasi pada kebutuhan karyawan. Dengan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah, perusahaan penyedia layanan, dan serikat pekerja, diharapkan kebijakan ini dapat diterapkan secara efektif sehingga semua pihak mendapatkan manfaat.

Investasi dalam program dukungan seperti GrabBenefits, Paket Sembako Bazar Swadaya, dan Tali Asih Hari Raya menunjukkan bahwa perusahaan besar berupaya memenuhi tanggung jawab sosialnya.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Indonesia.

Dengan pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan, strategi kebijakan ini akan menjadi kunci dalam mengatasi tantangan ekonomi dan memastikan bahwa hak-hak buruh terpenuhi dengan optimal.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru