Debat Trump dan Zelensky: Diplomasi atau Perang?
JAKARTA, BursaNusantara.com – Suasana Gedung Putih mendadak tegang ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terlibat adu mulut dalam sebuah pertemuan penting, Jumat (28/2).
Trump, yang sejak lama mengusung kebijakan menghindari konflik berskala besar, berusaha mendorong jalur diplomasi untuk mengakhiri perang Ukraina. Namun, Zelensky serta sejumlah pemimpin Uni Eropa justru menolak upaya ini dan terus mendorong perlawanan militer terhadap Rusia.
Ketegangan memuncak ketika Wakil Presiden AS JD Vance ikut angkat bicara, menyebut Zelensky sebagai pemimpin yang “tidak tahu berterima kasih” atas bantuan besar yang telah diberikan AS kepada Ukraina. Sebaliknya, Zelensky menuding Trump condong kepada Rusia dan mempertanyakan komitmen AS dalam mendukung Ukraina.
Trump: “Perang Dunia III Bukan Solusi”
Dalam perdebatan tersebut, Trump mengeluarkan pernyataan tajam yang langsung mengarah ke Zelensky:
“Anda mempertaruhkan nyawa jutaan orang! Anda bertaruh dengan Perang Dunia III!”
Trump secara eksplisit menyatakan bahwa konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina hanya akan membawa dunia lebih dekat kepada perang global yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa solusi terbaik adalah diplomasi, bukan terus menerus menyuplai bantuan senjata yang hanya memperpanjang pertumpahan darah.
“Kita tidak bisa terus menggelontorkan miliaran dolar untuk perang yang tidak akan pernah berakhir jika tidak ada upaya nyata untuk mencapai kesepakatan damai,” tegas Trump.
Zelensky dan Uni Eropa: Mendorong Eskalasi?
Di sisi lain, pemimpin Uni Eropa justru kompak mendukung Zelensky dan sikapnya yang menolak negosiasi damai dengan Rusia. Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terbuka menegaskan bahwa mereka akan tetap memberikan dukungan militer penuh kepada Ukraina, meski langkah ini berisiko memperpanjang perang.
Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen bahkan menyatakan:
“Zelensky tidak pernah sendirian. Kami akan terus bekerja sama demi perdamaian yang adil dan abadi.”
Namun, pernyataan ini justru dipertanyakan banyak pihak. Jika Uni Eropa benar-benar menginginkan “perdamaian yang adil”, mengapa mereka lebih memilih mendukung perang ketimbang mencari solusi diplomasi seperti yang diusulkan Trump?
Hungaria: “Trump Berani Perjuangkan Perdamaian”
Berbeda dengan kebanyakan negara Uni Eropa, Hungaria melalui Perdana Menteri Viktor Orban justru memuji pendekatan Trump. Orban, yang dikenal sebagai salah satu sekutu Trump di Eropa, menyatakan:
“Orang kuat membuat perdamaian, orang lemah membuat perang.”
Hungaria secara konsisten menolak keterlibatan lebih dalam dalam konflik Rusia-Ukraina, dan mendukung langkah AS di bawah kepemimpinan Trump untuk mencari jalur damai.
Dampak bagi Dunia: Perang Berkepanjangan atau Stabilitas Global?
Keputusan Trump untuk lebih mengedepankan diplomasi memunculkan pertanyaan besar bagi dunia:
- Apakah pendekatan Trump akan berhasil menghentikan konflik?
- Apakah Zelensky dan Uni Eropa benar-benar menginginkan perdamaian, atau justru ingin mempertahankan eskalasi perang?
- Bagaimana reaksi Rusia terhadap upaya diplomasi ini?
Para analis menilai bahwa kebijakan Trump dalam menekan Ukraina untuk bernegosiasi dapat membawa perubahan besar dalam dinamika perang ini. Sebaliknya, sikap keras kepala Zelensky dan dukungan Uni Eropa terhadap langkah militer hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina dan berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik.
Akankah Dunia Mendukung Diplomasi Trump?
Langkah Trump dalam menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia bisa menjadi batu loncatan bagi perdamaian global, meski ditentang oleh Zelensky dan Uni Eropa. Dengan dukungan dari sebagian pemimpin dunia seperti Viktor Orban, Trump tetap berpegang teguh pada jalur diplomasi sebagai satu-satunya cara untuk mencegah Perang Dunia III.
Pertanyaannya sekarang: Akankah dunia mendukung Trump dalam upayanya meredakan ketegangan global, atau justru lebih memilih mengikuti Zelensky dan Uni Eropa yang tampaknya lebih condong ke arah konfrontasi?








