Geser Kebawah
Aksi KorporasiHeadlinePasar

Adaro Genjot Proyek Smelter & PLTA Rp 76 T, Saham ADMR Prospektif

2222
×

Adaro Genjot Proyek Smelter & PLTA Rp 76 T, Saham ADMR Prospektif

Sebarkan artikel ini
Adaro Genjot Proyek Smelter PLTA Rp 76 T Saham ADMR Prospektif
Adaro melalui ADMR mempercepat proyek smelter aluminium, PLTS, dan PLTA senilai Rp 76 triliun. Saham ADMR tetap prospektif di tengah ekspansi bisnis.

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT AlamTri Resources Indonesia Tbk (ADRO) atau Grup Adaro melalui sejumlah anak usahanya mengebut sederet proyek jumbo yang bakal menjadi motor pendapatan bisnis perseroan ke depan.

Di antaranya, proyek smelter aluminium di kawasan industri Kalimantan Utara (Kaltara) bernilai investasi sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 32,9 triliun yang dikerjakan PT Adaro Minerals Tbk (ADMR) lewat anak usaha, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Sponsor
Iklan

Emiten portofolio Garibaldi “Boy” Thohir ini juga bersiap melakukan ekspansi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dari kapasitas 500 kilowatt (KW) menjadi 1 megawatt (MW) di Kelanis Kalimantan Tengah melalui anak usahanya, PT AlamTri Power.

Termasuk, Grup AlamTri melalui PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN) terus mengakselerasi proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Mentarang Induk di Kaltara senilai US$ 2,7 miliar atau ekuivalen Rp 44 triliun. KHN merupakan perusahaan patungan antara ADRO dengan kepemilikan 50%, serta sisanya dipegang Sarawak Energy Berhad, dan PT Kayan Patria Pratama.

Progres Smelter Aluminium

Direktur ADMR Wito Krisnahadi menyampaikan, saat ini ADMR tetap fokus melakukan penambangan coking coal sambil terus mengembangkan smelter aluminium di Kaltara. Diharapkan, sebanyak 72 pot mulai produksi paling lambat Desember tahun ini dan ramping up pada tahun depan.

Sesuai rencana, smelter tersebut akan mempunyai kapasitas produksi sebanyak 500 ribu ton aluminium per tahun. Lalu, meningkat lagi menjadi 500 ribu ton aluminium per tahun, dan bertambah 500 ribu ton aluminium hijau per tahun sampai mencapai skala produksi 1,5 juta ton aluminium per tahun.

Wito memastikan, proyek smelter berjalan sesuai target mulai dari pembangunan fondasi, building, sampai permanent dorm, termasuk instalasi untuk bus bar yang semuanya berjalan baik. “Jadi, mudah-mudahan semuanya on plan, on schedule, di mana commercial operation date (COD) ditargetkan mulai Desember ini dan ramping up pada kuartal III-IV 2026, sehingga COD penuh sekitar September atau Oktober 2027,” tutur dia.

Selain itu, Wito menekankan pentingnya keberlanjutan dalam operasional smelter. Dengan meningkatnya permintaan aluminium global, perseroan optimistis akan daya saing produk dari smelter tersebut, terutama dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional.

“Pasar aluminium terus berkembang, dan kami ingin memastikan bahwa smelter ini tidak hanya menghasilkan aluminium berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dengan konsep aluminium hijau yang berbasis energi terbarukan,” tambah Wito.

Ekspansi PLTS untuk Masa Depan Energi Bersih

CEO AlamTri Power Dharma Djojonegoro menambahkan, Grup Adaro melalui AlamTri Power juga fokus menggarap proyek renewable energy dan mineral salah satunya PLTS. “Kami punya PLTS berskala kecil (130 kWp PV rooftop dan 468 kWp PV Terapung) di Kelanis dan mau kami ekspansi. Kami mau bikin menjadi 8 megawatt di sini (Kelanis),” ungkapnya.

Ke depan, Grup AlamTri tetap terbuka untuk melakukan akuisisi dan ekspansi ke segmen mineral lain sepanjang harganya masuk perhitungan. “Cuma secara prinsip, kami merasa sudah mempunyai beberapa proyek bagus yang besar-besar. Kami fokus di situ dulu,” ucap Dharma.

Dia optimistis menatap kinerja Grup AlamTri tahun ini karena didukung oleh beberapa katalis seperti industrialisasi di kawasan dan tingginya kebutuhan terhadap baja. Karena itu, coking atau metallurgical coal masih akan menjadi penggerak utama pertumbuhan Grup Adaro. Belum lagi, ketika smelter aluminium sudah beroperasi, maka kontribusinya bakal semakin terlihat tahun depan.

Dharma mencermati, permintaan terhadap metallurgical coal masih cukup baik tercermin dari pergerakan harga selama sebulan terakhir yang mengalami kenaikan. Soalnya, komoditas tersebut digunakan untuk membuat besi. Sementara di saat bersamaan masyarakat dan pasar konstruksi memerlukan baja. “Intinya, kami optimistis. Selama dunia ini terus membangun baik solar panel, wind turbine, dan bangun-bangunan pasti aluminium ini bagus,” tegasnya.

Selain itu, Dharma juga menegaskan bahwa kehadiran energi terbarukan seperti PLTS akan menjadi faktor kunci dalam dekarbonisasi industri pertambangan dan pengolahan mineral. “Kami berkomitmen untuk menggunakan energi yang lebih bersih dalam operasional kami. Ke depan, kami berharap porsi penggunaan energi hijau dalam grup akan meningkat signifikan,” tuturnya.

Proyek PLTA Mentarang Induk

Terkait proyek PLTA Mentarang Induk, Direktur Kayan Hydropower Nusantara atau KHN Andhi Marjono mengungkapkan, KHN sedang melakukan banyak persiapan mulai dari menyambung jalan, mengerjakan bagian engineering procurement construction (EPC), dan membangun terowongan keempat. Setelah itu, KHN bersiap membangun terowongan utamanya.

“Sampai saat ini, progresnya masih di bawah 25%. Tapi, insyallah pertengahan tahun kami akan kebut, sehingga tercapai target COD di 2030. Nantinya, kami akan mengalirkan listrik ke kawasan industri Kaltara di tempat di mana smelter aluminium berada,” imbuhnya.

Andhi menyebut, kapasitas terpasang dari PLTA tersebut sebesar 1.375 MW dengan potensi menghasilkan sekitar 9 terawatt jam (TWh) per tahun. PLTA ini menggunakan concrete faced rockfill dam (CFRD) yang dirancang dengan tinggi puncak bendungan 235 m dan panjang puncak 815 m. “PLTA ini akan menjadi bendungan tertinggi di Indonesia bahkan salah satu tertinggi di dunia,” ujar Andhi.

Lebih jauh, PLTA Mentarang Induk juga akan mendukung swasembada energi dan hilirisasi. “Kami sedang berusaha memenuhi semua persyaratan karena kami menargetkan bisa financial close tahun depan. Total investasi sekitar US$ 2,7 miliar atau Rp 45-50 triliun khusus untuk PLTA Mentarang. Itu adalah kombinasi dari bendungan utama dan transmisi,” bebernya.

Rekomendasi Saham dan Prospek ADMR

Analis Trimega Sekuritas Alpinus Dewangga mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ADMR dengan target Rp 1.470 per saham. Rekomendasi itu mengacu pada target yang masih berjalan on the track dan progres proyek smelter aluminium yang dapat menjadi katalis.

Namun, permintaan lesu dari China ditambah melonjaknya suplai dari Australia, Alpinus prediksi berpotensi menekan harga. “Kami memproyeksikan laba akan turun sebesar 4%/9% secara yoy,” tulis Alpinus dalam riset yang dipublikasi.

Meski begitu, Alpinus tetap optimistis bahwa dengan diversifikasi proyek ADMR di sektor energi dan mineral, emiten ini masih memiliki prospek jangka panjang yang solid. Apalagi dengan fokus pada hilirisasi dan energi bersih, ADMR berpotensi mendapatkan insentif serta dukungan kebijakan dari pemerintah Indonesia.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan