Geser Kebawah
Gaya HidupKesehatan

AI Kesehatan: Revolusi Digital untuk Layanan Terintegrasi

176
×

AI Kesehatan: Revolusi Digital untuk Layanan Terintegrasi

Sebarkan artikel ini
AI Kesehatan Revolusi Digital untuk Layanan Terintegrasi
Kementerian Kesehatan optimalkan AI untuk deteksi penyakit, stunting, dan transformasi data kesehatan, pastikan layanan lebih terintegrasi.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kementerian Kesehatan Indonesia tengah gencar mengoptimalkan pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional.

Dengan penerapan AI, pemerintah berupaya mendeteksi berbagai penyakit mulai dari stunting, tuberculosis (TB) hingga penyakit kronis seperti hipertensi dan kanker, serta memastikan pengobatan yang tepat.

Sponsor
Iklan

Teknologi AI di sektor kesehatan dianggap sebagai terobosan yang akan mengubah paradigma pengelolaan data kesehatan di Indonesia, mirip seperti revolusi digital yang pernah terjadi di sektor perbankan tiga dekade lalu.

Penerapan AI dalam Deteksi Penyakit

Pemanfaatan Data Kesehatan Digital

Setiaji, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Chief Digital Transformation Office (DTO) Kementerian Kesehatan, menegaskan bahwa visi pemerintah adalah menciptakan data kesehatan digital terintegrasi dan terlindungi.

“Data kesehatan setiap masyarakat ditangkap dari sejak awal, bahkan saat masih di kandungan. Ini penting mengingat tingginya kasus stunting di Indonesia,” ujar Setiaji dalam diskusi Dentons HPRP Law & Regulations Outlook 2025 di Jakarta.

Penerapan AI dilakukan dengan mengintegrasikan data kesehatan melalui tiga pendekatan utama. Pertama, berbasis citra, seperti pemeriksaan radiologi untuk mendeteksi penyakit paru-paru dan kanker.

Kedua, berbasis genomic untuk analisis TB sesuai jenis bakterinya, sehingga pengobatan dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien. Ketiga, penggunaan Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT) yang merekam kondisi dan respon pengobatan secara komprehensif.

Studi Kasus dan Uji Coba di Rumah Sakit

Beberapa rumah sakit di Indonesia telah mulai menerapkan uji coba AI. Di RS Adam Malik, AI digunakan untuk analisis radiologi paru-paru, sedangkan di RS PON difokuskan untuk mendeteksi penyakit otak.

Rumah sakit Dharmais pun menggunakan AI dalam deteksi kanker melalui patologi, dan beberapa institusi pendidikan serta rumah sakit lainnya telah menguji coba sistem untuk deteksi kanker serviks.

Inovasi ini diharapkan dapat mempercepat diagnosis awal dan meningkatkan akurasi laporan medis, sehingga perawatan yang tepat dapat segera diberikan.

Tantangan dan Regulasi Penerapan AI

Regulasi dan Perlindungan Data

Meski potensi penerapan AI sangat besar, ada sejumlah tantangan yang harus diatasi, terutama dalam aspek regulasi dan perlindungan data.

Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan, Okto Irianto, menegaskan pentingnya pemerintah segera menetapkan zonasi lahan data center.

Zonasi ini diharapkan mampu memaksimalkan manfaat teknologi informasi di berbagai industri, termasuk kesehatan, dengan memastikan bahwa data kesehatan terlindungi dan dikelola secara efektif.

Selain itu, Nashatra Prita, Partner Dentons HPRP, mengingatkan bahwa regulasi adaptif sangat diperlukan agar AI dapat berkembang tanpa menghambat inovasi bisnis.

“Penyedia jasa harus mendapatkan persetujuan dari pasien untuk transfer data. Gap inilah yang perlu diatur agar tidak mengganggu hak-hak pasien,” tegas Nashatra. Langkah ini menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem AI yang aman dan berkelanjutan.

Tantangan Implementasi dan Keterbatasan Infrastruktur

Di sisi lain, pelaksana AI di bidang kesehatan juga menghadapi tantangan terkait keterbatasan tenaga medis dan ahli radiasi.

Dengan penyebaran dokter yang terbatas di daerah terpencil, AI diharapkan dapat mengisi kekosongan melalui diagnosis awal yang cepat dan akurat.

Namun, implementasi sistem ini memerlukan investasi besar dalam teknologi dan pelatihan tenaga medis agar bisa beroperasi secara optimal.

Harapan untuk Transformasi Layanan Kesehatan

Meningkatkan Efisiensi dan Aksesibilitas

Dengan adopsi teknologi AI, diharapkan layanan kesehatan di Indonesia akan menjadi lebih terintegrasi dan berkualitas.

Sistem digital yang modern memungkinkan pengumpulan data kesehatan dari berbagai sumber, mulai dari pemeriksaan prenatal hingga catatan medis harian pasien.

Hasilnya, diagnosis dan pengobatan akan lebih cepat dan tepat sasaran, terutama dalam menangani masalah kesehatan kronis dan penyakit menular seperti TB dan kanker.

Menjawab Tantangan Kesehatan Nasional

Penerapan AI juga diharapkan dapat mengatasi berbagai isu kesehatan nasional, seperti stunting, yang masih menjadi masalah serius di Indonesia.

Melalui analisis data yang komprehensif, pemerintah dapat mengidentifikasi area yang membutuhkan intervensi lebih cepat dan menyusun strategi penanggulangan yang lebih efektif.

Inovasi teknologi ini, jika diintegrasikan dengan kebijakan yang tepat, akan memberikan dampak besar bagi peningkatan kesehatan masyarakat dan pengembangan sektor kesehatan nasional.


Penerapan teknologi AI di bidang kesehatan menjadi salah satu terobosan penting dalam transformasi digital layanan publik Indonesia.

Dengan integrasi data kesehatan yang lebih menyeluruh dan peningkatan akurasi diagnosis, AI diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengobatan dan mempercepat respons terhadap berbagai penyakit.

Sementara itu, tantangan dalam regulasi dan pengelolaan data menjadi perhatian utama yang harus segera diatasi agar inovasi ini dapat berkembang tanpa hambatan.

Dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi antara berbagai pihak, Indonesia berpotensi menciptakan sistem kesehatan yang lebih efisien, aman, dan terintegrasi.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru