Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Aksi Jual Asing Saham Perbankan: IHSG Anjlok 5,91% Sepekan

69
×

Aksi Jual Asing Saham Perbankan: IHSG Anjlok 5,91% Sepekan

Sebarkan artikel ini

Gelombang Risk-Off Global Menekan Performa Bursa Domestik

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar modal Indonesia sedang berada dalam tekanan luar biasa seiring kaburnya modal asing secara masif yang meluluhlantakkan stabilitas indeks harga saham gabungan.

Sentimen negatif ini memaksa investor untuk segera mengatur ulang strategi portofolio guna menghindari risiko kerugian yang lebih dalam di tengah ketidakpastian geopolitik.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam sebesar 3,05 persen ke level 7.137,21 pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026).

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif mingguan dengan total penurunan mencapai 5,91 persen, menandai koreksi mingguan ketiga berturut-turut bagi pasar saham nasional.

Sepanjang sebulan terakhir, performa indeks domestik telah merosot signifikan hingga 13,09 persen akibat memburuknya sentimen global dan lonjakan harga minyak dunia.

Apakah Big Banks Masih Menjadi Safe Haven Investor?

Investor asing terpantau melepas saham sektor perbankan secara agresif dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi sasaran utama aksi jual.

Berdasarkan data BEI, saham BBRI mencatat nilai jual bersih (net sell) asing sebesar Rp971,99 miliar dalam sepekan hingga menyeret harganya turun 4,36 persen ke posisi Rp3.510.

Tekanan serupa menimpa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang membukukan net sell Rp538,04 miliar dengan harga terkoreksi 4,62 persen menjadi Rp4.750 per unit.

Aset perbankan lainnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), juga dilepas asing masing-masing senilai Rp386,94 miliar dan Rp273,58 miliar.

Koreksi tajam ini tidak terbatas pada sektor keuangan, mengingat saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) merosot hingga 19,18 persen dengan nilai net sell mencapai Rp100 miliar.

Emiten komoditas dan konsumsi seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turut tertekan dengan pelemahan harga masing-masing sebesar 8,87 persen dan 5,98 persen.

Mengapa Konflik Timur Tengah Mengancam Fiskal Nasional?

Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa aksi jual massal ini sejalan dengan meningkatnya preferensi investor terhadap aset berisiko rendah (risk-off) di tingkat global.

Koreksi di bursa saham Wall Street telah memberikan dampak berantai terhadap mayoritas bursa saham Asia, termasuk Indonesia yang harus menghadapi arus keluar modal asing sebesar Rp1,23 triliun dalam sepekan.

Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi perhatian utama karena berpotensi menambah beban fiskal pemerintah jika melampaui asumsi APBN.

Aktivitas transaksi pasar pada akhir pekan tercatat mencapai Rp13,64 triliun dengan dominasi 656 saham yang mengalami penurunan harga.

Faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran turut membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu (wait and see) dan lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi.

Pihak bursa mencatat volume perdagangan mencapai 26,88 miliar saham, menunjukkan tingginya intensitas perpindahan tangan aset di tengah volatilitas yang meningkat.

Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Memuat Grafik...

Tinggalkan Balasan