HeadlineInternasional

Amerika Serang Iran, Dunia Kecam Aksi Agresi Trump

69
Donald Trump Umumkan Serangan Amerika Serikat Hancurkan Nuklir Iran
Donald Trump nyatakan Amerika Serikat sukses hancurkan fasilitas nuklir Iran. Serangan ini sinyal keras bagi ancaman global dari Timur Tengah.

Amerika dan Israel Memulai Kekacauan: Serangan ke Iran Jadi Titik Nyala Konflik Baru

JAKARTA, BursaNusantara.com – Dunia kembali diguncang setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke jantung fasilitas nuklir Iran, sebuah tindakan yang dinilai banyak pihak sebagai pemicu kekacauan besar di kawasan Timur Tengah.

Serangan ini dilakukan secara sepihak tanpa mandat internasional, mengincar instalasi vital pengayaan nuklir Iran di Natanz dan Esfahan.

Presiden Donald Trump mengklaim bahwa tindakan itu bertujuan “menghentikan ancaman”, namun bagi banyak pengamat, justru inilah titik mula eskalasi konflik regional yang lebih luas.

Alih-alih mencegah perang, Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, dituding memperuncing ketegangan geopolitik dan membuka babak baru instabilitas global.

Agresi Sepihak: Tidak Ada Peringatan, Tidak Ada Proses Diplomatik

Serangan terhadap Iran dilakukan secara mendadak, tanpa peringatan sebelumnya dan di luar kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Amerika bertindak sebagai hakim sekaligus algojo, mengebom fasilitas nuklir Iran yang selama ini diawasi lembaga internasional seperti IAEA.

Sementara Iran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai, Amerika malah menggunakan narasi terorisme untuk melegitimasi serangan militer.

Tindakan ini memperlihatkan bagaimana Amerika dan Israel menjalankan kebijakan luar negeri berbasis dominasi dan kekuatan militer, bukan diplomasi dan hukum internasional.

Trump sendiri dalam pidatonya menyebut bahwa Iran harus “dipaksa berdamai”—sebuah retorika yang menyerupai doktrin perang agresif, bukan ajakan penyelesaian damai.

Israel Berperan Aktif di Balik Layar: Intelijen dan Kolaborasi Serangan

Keterlibatan Israel dalam operasi ini bukan rahasia, bahkan dibanggakan secara terbuka oleh Donald Trump.

Ia memuji Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menyebut bahwa koordinasi militer antara Amerika dan Israel merupakan “yang terbaik dalam sejarah.”

Dukungan Israel terlihat tidak hanya dalam pengumpulan data intelijen, tapi juga dalam asistensi teknis dan strategi lapangan.

Kehadiran militer Israel dalam agresi ini memperkuat persepsi bahwa kedua negara tersebut telah merancang serangan ini jauh sebelum alasan keamanan diumumkan ke publik.

Kawasan yang telah lama dibayangi konflik politik kini kembali berada di ambang perang terbuka akibat aksi dua negara yang mengambil keputusan sepihak dan memaksakan kekuatan militer mereka.

Mengulangi Pola Lama: Dominasi Amerika di Timur Tengah

Serangan terhadap Iran memperlihatkan bahwa Amerika masih berusaha mempertahankan hegemoni di kawasan melalui jalan militer.

Selama puluhan tahun, Washington aktif mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Timur Tengah dengan dalih “membasmi terorisme”, namun faktanya justru memperburuk keadaan.

Dari Irak, Suriah, hingga Libya, jejak kehancuran dan kekacauan yang ditinggalkan AS menjadi bukti bahwa intervensi militer bukanlah solusi.

Kini Iran menjadi target berikutnya dalam daftar panjang korban agresi Amerika, dengan alasan yang sama: “mencegah ancaman sebelum terlambat.”

Padahal, kekuatan nuklir terbesar dunia itu sendiri menyimpan ribuan hulu ledak dan belum pernah mengizinkan pengawasan setransparan negara-negara yang mereka tuduh.

Trump Gunakan Retorika Agama dan Patriotisme untuk Legitimasi Perang

Dalam pidatonya, Donald Trump memadukan pesan militeristik dengan retorika agama yang emosional, menyebut “Tuhan memberkati Amerika, Israel, dan Timur Tengah.”

Ia memuji pasukan militernya sebagai “pahlawan besar”, sembari mengklaim serangan ini sebagai langkah moral demi keamanan global.

Namun banyak pihak melihat itu hanya sebagai pembungkus narasi perang yang sesungguhnya sarat kepentingan politik dan dominasi kawasan.

Retorika seperti itu juga kerap digunakan untuk membenarkan intervensi militer sebelumnya yang justru menimbulkan bencana kemanusiaan besar di berbagai negara.

Kali ini, Iran dijadikan simbol baru musuh global, dan Trump menjadikannya alat untuk menunjukkan kekuatan militer sebagai solusi tunggal.

Ancaman Serangan Lanjutan: Kekacauan Belum Berakhir

Donald Trump tidak berhenti pada klaim keberhasilan menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Ia secara terbuka menyatakan bahwa masih banyak target strategis Iran yang siap dihancurkan dalam waktu singkat.

Pernyataan ini menimbulkan kecemasan global bahwa AS dan Israel tidak berhenti pada satu operasi saja, tapi siap mengeksekusi gelombang serangan berikutnya.

Ini berarti, jika Iran melakukan pembelaan atau serangan balasan, maka perang terbuka bisa terjadi kapan saja.

Agresi ini tidak hanya mengancam Iran, tapi juga membuka peluang intervensi kekuatan besar lainnya yang selama ini menentang dominasi AS dan Israel.

Dunia Hadapi Bahaya Baru: Ketegangan Bisa Menjadi Konflik Global

Dengan memulai serangan militer tanpa persetujuan internasional, Amerika dan Israel menempatkan dunia dalam posisi sangat rapuh.

Ketegangan antar negara adidaya bisa meningkat, blok geopolitik bisa bergeser, dan kemungkinan lahirnya aliansi tandingan semakin nyata.

Pemerintah-pemerintah di Eropa, Rusia, dan Asia telah menunjukkan keprihatinan mereka atas serangan ini, dan menyatakan pentingnya diplomasi segera dilakukan.

Namun, dengan Trump terus memanaskan situasi melalui pidato dan ancaman lanjutan, peluang diplomasi semakin mengecil.

Jika Amerika Serikat tidak menghentikan pendekatan militerisnya, dunia bisa terjebak dalam krisis keamanan baru yang lebih luas dari sebelumnya.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version