Tren Persaingan Ketat di Industri Telekomunikasi
Persaingan di sektor telekomunikasi Indonesia masih berlangsung ketat, dengan operator besar seperti Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), XL Axiata (EXCL), dan Telkom Indonesia (TLKM) saling berebut pangsa pasar. Tekanan harga yang tinggi membuat emiten telekomunikasi harus beradaptasi dengan strategi harga yang kompetitif untuk mempertahankan dan meningkatkan basis pelanggan.
Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, industri telekomunikasi masih akan mengalami perang tarif setidaknya hingga pertengahan 2027. Salah satu faktor utama adalah model bisnis yang masih didominasi oleh pelanggan prabayar, yang cenderung lebih sensitif terhadap harga dan lebih mudah berpindah operator.
Seiring dengan perkembangan teknologi, persaingan di sektor ini tidak hanya melibatkan tarif data, tetapi juga kualitas layanan, kecepatan jaringan, serta integrasi dengan berbagai layanan digital seperti fintech, entertainment, dan Internet of Things (IoT). Operator yang mampu menawarkan layanan bernilai tambah diperkirakan akan memiliki daya saing lebih baik di tengah perang harga yang berkepanjangan.
Ramadan sebagai Momentum Katalis Positif bagi Saham ISAT, EXCL, dan TLKM
Nafan juga menyoroti bahwa periode Ramadan dapat menjadi pendorong utama bagi peningkatan trafik data. Selama bulan suci ini, konsumsi data seluler biasanya melonjak akibat peningkatan aktivitas digital, termasuk komunikasi, hiburan, dan transaksi online.
“Saya pikir momentum Ramadan bisa meningkatkan trafik data perusahaan telekomunikasi seperti ISAT, EXCL, dan TLKM,” ujar Nafan saat dihubungi, Minggu (2/3).
Selain itu, daya beli masyarakat yang relatif terjaga baik menjadi faktor lain yang mendukung kinerja emiten telekomunikasi selama periode ini. Hal ini diharapkan mampu meredam dampak dari persaingan harga yang terus berlangsung.
Di sisi lain, momentum Ramadan juga mendorong peningkatan aktivitas digital di sektor e-commerce dan perbankan digital, yang berkontribusi pada peningkatan trafik jaringan. Beberapa operator telekomunikasi bahkan telah mempersiapkan strategi khusus, seperti paket data khusus Ramadan, kerja sama dengan platform streaming, hingga peningkatan kapasitas jaringan di daerah dengan populasi tinggi.
Konsolidasi dan Proyeksi Persaingan Harga
Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus, menilai bahwa industri telekomunikasi Indonesia sedang menuju konsolidasi menjadi industri dengan tiga pemain utama. Integrasi jaringan XL-Smart (EXCL dan Smartfren) diperkirakan akan selesai pada pertengahan 2027, yang dapat menciptakan ekosistem yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Namun, sebelum konsolidasi selesai, persaingan harga masih akan terjadi. “Kami memperkirakan persaingan harga seluler kemungkinan akan berlanjut selama periode konsolidasi telekomunikasi, bisa sampai pertengahan 2027,” kata Aurelia.
Sementara itu, penggabungan usaha ISAT dan XLSmart berpotensi meningkatkan kapasitas jaringan serta kualitas layanan mereka. Hal ini memungkinkan ekspansi ke luar Pulau Jawa, yang selama ini masih didominasi oleh Telkomsel.
Dalam jangka panjang, konsolidasi diharapkan dapat memberikan efisiensi operasional yang lebih baik bagi operator, memungkinkan mereka untuk fokus pada pengembangan layanan digital dan infrastruktur jaringan yang lebih baik. Namun, dalam jangka pendek, perang harga masih akan mendominasi industri ini, sehingga margin keuntungan operator tetap berada dalam tekanan.
Dampak Suku Bunga dan Regulasi Spektrum terhadap Saham ISAT, EXCL, dan TLKM
Nafan juga mencatat bahwa tren suku bunga yang lebih rendah dapat menjadi katalis positif bagi industri ini. Penurunan suku bunga akan mengurangi biaya pinjaman, yang pada akhirnya dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan telekomunikasi.
Di sisi lain, lelang spektrum 1,4 GHz yang dijadwalkan berlangsung pada 2025 akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi strategi ekspansi operator. Pemerintah berencana menggunakan spektrum ini untuk meningkatkan penetrasi fixed broadband di Indonesia, yang dapat berdampak pada bisnis telekomunikasi secara keseluruhan.
Regulasi pemerintah juga menjadi faktor penting dalam pertumbuhan industri telekomunikasi. Kebijakan terkait pembagian spektrum, aturan roaming nasional, serta insentif bagi pengembangan infrastruktur di daerah tertinggal akan sangat menentukan arah industri dalam beberapa tahun mendatang.
Proyeksi ARPU dan Yield Data Emiten Telekomunikasi
Dalam analisisnya, Indo Premier Sekuritas memperkirakan bahwa Average Revenue Per User (ARPU) sektor telekomunikasi masih dapat tumbuh dengan CAGR 3,0% pada 2024-2027. Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan CAGR 5,3% yang terjadi pada periode 2020-2023.
Sementara itu, Yield Data diperkirakan akan menurun sebesar 1,9% CAGR akibat persaingan harga yang terus berlangsung. Namun, peningkatan konsumsi data dengan rata-rata 1 GB per pengguna per tahun diharapkan mampu menopang pertumbuhan industri secara keseluruhan.
Perubahan pola konsumsi data juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Penggunaan layanan berbasis video seperti YouTube, TikTok, dan layanan streaming semakin mendominasi konsumsi data pengguna. Hal ini memberikan peluang bagi operator untuk meningkatkan monetisasi melalui paket data khusus atau kerja sama dengan penyedia konten.
Rekomendasi Saham ISAT, EXCL, dan TLKM
Berdasarkan analisis dari beberapa sekuritas, berikut rekomendasi saham untuk tiga emiten utama di sektor telekomunikasi:
1. Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT)
- Rekomendasi: Buy
- Target Harga: Rp 2.700 per saham
- Proyeksi: Pertumbuhan pendapatan 6,6% yoy pada 2025, didukung oleh ekspansi jaringan dan peningkatan trafik data.
- Analis: KB Valbury Sekuritas (Steven Gunawan, 12 Februari 2025)
2. XL Axiata (EXCL)
- Rekomendasi: Buy
- Target Harga: Rp 2.850 per saham
- Proyeksi: Akuisisi pelanggan fixed broadband dari LinkNet memperkuat posisinya sebagai ISP terbesar kedua di Indonesia.
- Analis: MNC Sekuritas (Christian Sitorus, 13 Februari 2025)
3. Telkom Indonesia (TLKM)
- Rekomendasi: Buy
- Target Harga: Rp 3.680 per saham
- Proyeksi: Strategi multi-brand dan FMC memperkuat posisi TLKM dalam persaingan industri.
- Analis: BRI Danareksa Sekuritas (Niko Margaronis, 21 Februari 2025)
Industri telekomunikasi masih menghadapi tantangan besar dalam bentuk persaingan harga yang ketat hingga setidaknya 2027.
Namun, momentum Ramadan dapat memberikan katalis positif bagi saham ISAT, EXCL, dan TLKM dengan meningkatnya konsumsi data.
Investor yang ingin berinvestasi di sektor ini disarankan untuk mempertimbangkan saham ISAT, EXCL, dan TLKM, yang memiliki prospek pertumbuhan menjanjikan di tengah persaingan industri yang dinamis.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












