JAKARTA, BursaNusantara.com – Agung Sedayu Group dan Salim Group mulai memetakan arah baru dalam portofolio bisnis properti mereka melalui entitas publik PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK).
Fokusnya kini mengarah pada strategi jangka panjang berbasis recurring income lewat pengembangan ekosistem MICE dan properti bernilai tinggi di kawasan Central Business District (CBD) PIK2.
Langkah ini menandai pergeseran pendekatan dua raksasa bisnis tersebut dari sekadar pengembangan residensial menuju transformasi kawasan berstandar internasional yang mampu menarik aliran modal dari sektor pariwisata, hospitality, dan perdagangan.
Pusat MICE NICE Jadi Ujung Tombak Inovasi
Dalam strategi terbarunya, CBDK menggarap proyek flagship bernama Nusantara International Convention Exhibition (NICE), yang ditargetkan menjadi pusat konvensi terbesar dan paling modern di Jakarta Barat.
NICE dirancang sebagai katalis pertumbuhan ekonomi lokal berbasis event dan konferensi internasional, yang akan mulai beroperasi secara bertahap mulai Oktober 2025.
Tiga gelaran besar telah dijadwalkan sebagai pembuka: Indonesia Coffee Festival, Weddingku Exhibition, serta Franchise & License Expo Indonesia.
Baca Juga: CBDK Bidik Marketing Sales Rp2 Triliun Lewat Proyek CBD PIK2
Ini menunjukkan bahwa Agung Sedayu–Salim Group tak hanya membangun gedung, tetapi menciptakan magnet aktivitas ekonomi baru dengan pendekatan tematik dan segmentasi pasar yang terukur.
Konektivitas dan Aksesibilitas: Fondasi Ekspansi Agresif
Pemilihan lokasi di CBD PIK2 bukan kebetulan. Kawasan ini kini diperkuat oleh akses tol KATARAJA yang langsung terhubung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Hanya 7 menit waktu tempuh dari bandara, ditambah jaringan jalan strategis seperti JORR dan Tol Jakarta-Merak, menjadikan PIK2 sebagai simpul pertumbuhan baru yang sangat kompetitif dari sisi konektivitas.
Baca Juga: Akuisisi Triliunan CBDK: Dorong Pengembangan MICE dan PIK2
Dalam strategi properti, faktor aksesibilitas adalah variabel utama penentu valuasi. Agung Sedayu dan Salim Group memahami bahwa menciptakan pusat aktivitas global tak cukup dengan bangunan ikonik, tetapi harus didukung infrastruktur yang memudahkan mobilitas internasional maupun domestik.
Ekosistem Hotel Bintang Lima dan Properti Komersial
Sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem MICE, CBDK sedang membangun hotel bintang lima berkapasitas 250 kamar.
Hotel ini akan dikelola oleh anak usaha, PT Citra Kirana Bisnis Distrik (CKBD), menandakan langkah vertikal integrasi untuk mengendalikan kualitas layanan dan konsistensi branding kawasan.
Baca Juga: CBDK Bikin Heboh Pasar Saham: Transaksi Tembus Rp 1,31 Triliun
Tak berhenti di sektor hospitality, CBDK juga memperluas portofolio komersial melalui proyek seperti SOHO The Bund, Bizpark PIK2, dan Rukan Petak 9.
Semua dikembangkan dengan pendekatan mixed-use dan segmentasi bisnis kelas menengah-atas. Sementara di lini hunian, pengembangan Rumah Milenial dan Permata Hijau Residences menunjukkan upaya menyasar segmen urban muda yang dinamis dan mobile.
CBD PIK2: Model Baru Inovasi Kota Mandiri
Menurut Presiden Direktur CBDK, Steven Kusumo, visi jangka panjang Agung Sedayu dan Salim Group adalah membangun kawasan yang bukan hanya bernilai investasi tinggi, tetapi juga inklusif dan mendukung pemerataan pembangunan.
Baca Juga: CBDK Siap Buyback Saham Rp 1 Triliun, Apa Dampaknya?
Pandangan ini menyiratkan transformasi besar dalam pendekatan bisnis grup dari semula hanya “membeli dan menjual properti” menjadi “mengelola dan mengembangkan kawasan” sebagai aset jangka panjang. CBD PIK2 bukan sekadar produk, tapi platform ekonomi.
Dengan dukungan penuh dari infrastruktur, diversifikasi proyek, serta orientasi internasional, strategi ini menjadikan CBDK sebagai mesin baru penggerak ekonomi kawasan.
Melalui sinergi Agung Sedayu dan Salim Group, CBDK tak hanya membangun properti, tapi juga menciptakan masa depan lanskap urban Indonesia.









