Tekanan Dolar AS dan Ekspektasi Suku Bunga Federal Reserve
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kepercayaan investor terhadap emas sebagai aset aman kini sedang diuji oleh kebangkitan dominasi dolar Amerika Serikat yang dipicu oleh kebijakan moneter ketat.
Meskipun risiko geopolitik meningkat, daya tarik logam mulia perlahan terkikis akibat membengkaknya biaya peluang dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Berdasarkan laporan perdagangan pada Jumat (13/3/2026), harga emas spot (XAU/USD) ditutup melemah 1,14 persen ke level USD5.021,27 per ons dan mencatat penurunan mingguan sebesar 2,90 persen.
Penurunan beruntun dalam dua pekan terakhir ini didorong oleh indeks dolar AS yang meroket 1,66 persen ke level 100,49, yang merupakan titik tertinggi dalam hampir empat bulan.
Kondisi tersebut membuat emas yang dihargakan dalam greenback menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang lain di pasar internasional.
Mengapa Inflasi dan Suku Bunga Mematikan Momentum Emas?
Kekhawatiran akan inflasi yang terus membandel memaksa pasar untuk meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.
Menurut catatan Commerzbank, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi faktor utama yang menekan harga logam mulia di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Data menunjukkan belanja konsumen AS pada Januari meningkat tipis di atas perkiraan, dibarengi dengan inflasi inti yang tetap solid di tengah ketegangan Timur Tengah.
Suku bunga tinggi secara tradisional mengurangi minat pada emas karena investor lebih memilih instrumen yang menawarkan pendapatan tetap di tengah penguatan dolar.
Meskipun pasar tetap bullish dalam jangka panjang, harga emas terus merayap menuju level terendah sejak konflik Iran pecah akibat pergeseran alokasi aset global.
Konflik Iran dan Pemulihan Jalur Perdagangan Dubai
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menghantam Iran “sangat keras” dalam sepekan ke depan menambah lapisan volatilitas baru pada komoditas energi dan emas.
Harga minyak pun ikut mencatatkan kenaikan mingguan seiring gangguan pasokan di kawasan Teluk yang diprediksi masih akan terus berlangsung dalam jangka pendek.
Namun, harapan muncul dari sektor logistik setelah sebagian penerbangan dari Dubai mulai kembali beroperasi pekan ini untuk mendukung arus perdagangan fisik emas.
Seperti diungkapkan oleh sumber kepada Reuters, pulihnya konektivitas dari salah satu pusat emas global tersebut memungkinkan distribusi logam mulai bergerak kembali.
Di tengah guncangan ini, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap pergerakan dolar AS sebagai indikator utama penentu arah harga emas selanjutnya.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












