BisnisPerdagangan & Industri

Antam Kantongi Kredit Jumbo Rp8,2 Triliun, Siap Genjot Ekspansi

183
Antam Kantongi Kredit Jumbo Rp8,2 Triliun, Siap Genjot Ekspansi
Antam (ANTM) teken perjanjian kredit jumbo senilai US$500 juta dengan sindikasi bank asing dan lokal untuk ekspansi bisnis jangka panjang, termasuk belanja modal dan akuisisi.

Kredit Sindikasi US$500 Juta Jadi Amunisi Baru Antam

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) resmi mendapatkan fasilitas kredit jumbo senilai total US$500 juta dari sindikasi bank multinasional, memperkuat fondasi ekspansinya di tengah kompetisi ketat sektor pertambangan strategis.

Perjanjian kredit itu ditandatangani pada 1 Agustus 2025 dan diumumkan dalam keterbukaan informasi pada 4 Agustus 2025.

Perjanjian tersebut mengukuhkan Antam sebagai debitur utama, dengan sindikasi dipimpin oleh DBS Bank Ltd., MUFG Bank Ltd., PT Bank SMBC Indonesia Tbk, Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapore Branch, dan United Overseas Bank (UOB) Limited.

Sebagai pihak pendukung, PT Bank DBS Indonesia ditunjuk sebagai agen pendanaan dan UOB Limited bertindak sebagai koordinator tunggal.

Manajemen Antam menegaskan, kesepakatan ini merupakan transaksi material sesuai ketentuan POJK 17/2020 dan juga memenuhi kategori fakta material dalam POJK 31/2015.

Namun demikian, transaksi ini bukan merupakan transaksi afiliasi maupun benturan kepentingan sebagaimana yang diatur dalam POJK 42/2020.

Strategi Pendanaan Jangka Panjang Mulai Diimplementasikan

Antam mulai membangun kerangka kerja pendanaan sejak April 2025 melalui penandatanganan surat mandat dengan sindikasi bank berskala internasional.

Surat mandat tersebut menunjuk UOB Limited sebagai koordinator tunggal, sekaligus menunjuk lima bank lainnya sebagai mandated lead arrangers, underwriters, dan bookrunners (MLAUB).

Langkah ini merupakan strategi proaktif Antam dalam memastikan kesiapan pendanaan jangka panjang yang fleksibel, terukur, dan adaptif terhadap berbagai kebutuhan bisnis di masa depan.

Penandatanganan final perjanjian fasilitas pada awal Agustus menandai babak baru dalam mobilisasi dana yang digunakan secara terukur dan terstruktur.

Fasilitas pinjaman ini tak hanya ditujukan untuk modal kerja, namun juga mencakup belanja modal (capex), pembiayaan akuisisi strategis, dan pembayaran berbagai pengeluaran sehubungan dengan fasilitas tersebut.

Struktur Fasilitas A dan B: Dua Pilar Likuiditas Antam

Antam mendapatkan dua jenis fasilitas dari sindikasi: Fasilitas A dan Fasilitas B.

Fasilitas A merupakan pinjaman berjangka (term loan facility) sebesar US$250 juta yang akan digunakan untuk kebutuhan jangka panjang seperti akuisisi aset atau ekspansi infrastruktur.

Fasilitas B berupa kredit bergulir (revolving credit facility) senilai US$250 juta yang dapat digunakan secara fleksibel sesuai kebutuhan likuiditas operasional.

Keduanya memiliki tenor yang sama, yakni 60 bulan sejak tanggal perjanjian, yang berarti jatuh tempo di Agustus 2030.

Pendekatan dual-fasilitas ini memungkinkan Antam menjaga keseimbangan antara stabilitas pembiayaan proyek jangka panjang dan kelincahan dalam pembiayaan kebutuhan jangka pendek.

Efisiensi Biaya Modal Lewat Suku Bunga Kompetitif

Dari sisi biaya, manajemen Antam berhasil meraih suku bunga yang tergolong kompetitif, dengan struktur bunga gabungan antara margin tetap dan suku bunga acuan global.

Untuk kreditur luar negeri, margin ditetapkan sebesar 1,025%, sedangkan untuk kreditur dalam negeri sebesar 1,075%.

Keduanya dikombinasikan dengan suku bunga acuan SOFR (Secured Overnight Financing Rate) yang dikelola oleh CME Group Benchmark Administration Ltd.

Struktur ini menunjukkan daya tawar Antam dalam negosiasi pembiayaan global, serta kepercayaan sindikasi bank terhadap prospek dan kredibilitas Antam sebagai emiten tambang milik negara.

Model pembiayaan berbasis SOFR juga mengindikasikan penguatan transparansi dan integrasi Antam dalam sistem keuangan internasional.

Momentum Baru di Tengah Ekspansi Komoditas Strategis

Kesepakatan ini datang di saat Antam terus memperluas eksistensinya di sektor hilirisasi nikel, emas, dan logam tanah jarang, di tengah mendorong daya saing global industri pertambangan Indonesia.

Pendanaan jumbo ini membuka peluang lebih luas bagi Antam untuk merealisasikan proyek-proyek strategis tanpa mengandalkan pembiayaan berbasis utang jangka pendek yang rentan terhadap fluktuasi pasar.

Dengan dukungan sindikasi global yang terdiri dari bank-bank papan atas di Asia, Antam menandai babak baru dalam strategi ekspansi yang lebih agresif namun tetap terukur.

Keputusan untuk tidak melibatkan transaksi afiliasi maupun potensi konflik kepentingan juga memperkuat transparansi tata kelola perusahaan di mata investor publik.

Langkah ini juga menjadi pesan tegas bahwa Antam berkomitmen membangun struktur pendanaan yang profesional, terbuka, dan bertumpu pada fundamental bisnis yang kuat.

Dukungan Lembaga Keuangan Asing Cerminkan Daya Tarik Antam

Dilibatkannya lembaga keuangan besar dari Singapura dan Jepang dalam struktur sindikasi bukan hanya soal pendanaan, namun juga validasi kredibilitas Antam di mata institusi global.

Hal ini semakin memperkuat posisi Antam sebagai pionir BUMN tambang yang sukses mengakses pasar pinjaman internasional secara langsung, dengan tata kelola yang setara dengan korporasi global.

Kehadiran UOB, MUFG, dan SMBC menjadi bukti bahwa Antam memiliki fundamental yang menarik di tengah meningkatnya minat global terhadap komoditas energi bersih dan logam strategis.

Dengan struktur sindikasi yang matang dan rencana penggunaan dana yang jelas, Antam dinilai mampu mengelola pinjaman jumbo ini secara produktif, efisien, dan akuntabel.

Pinjaman sindikasi tersebut juga membuka jalan bagi pendanaan proyek hilirisasi nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik yang tengah diprioritaskan pemerintah.

Antam Siapkan Lompatan Besar, Pasar Tunggu Aksi Nyata

Kucuran kredit jumbo senilai Rp8,2 triliun menjadi modal krusial Antam untuk melompat ke level berikutnya sebagai pemain utama di sektor pertambangan strategis Asia Tenggara.

Investor kini menunggu eksekusi konkret dari rencana belanja modal dan akuisisi yang dijanjikan manajemen.

Ekspektasi pasar akan kian tinggi, terutama jika Antam mampu mengumumkan proyek investasi baru yang didukung langsung dari dana hasil pinjaman ini.

Kinerja keuangan kuartal III/2025 akan menjadi tolok ukur pertama efektivitas strategi pembiayaan ini terhadap operasional dan profitabilitas perusahaan.

Pasar menanti, dan Antam ditantang untuk membuktikan bahwa kredit jumbo ini bukan hanya transaksi pembiayaan, melainkan kendaraan untuk mencetak pertumbuhan eksponensial yang berkelanjutan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version