Geser Kebawah
PasarSaham

Antam Percepat Proyek Ekosistem Baterai EV Terbesar Di Dunia

146
×

Antam Percepat Proyek Ekosistem Baterai EV Terbesar Di Dunia

Sebarkan artikel ini
Antam Percepat Proyek Ekosistem Baterai EV Terbesar Di Dunia
Antam bersama mitra strategisnya mempercepat proyek ekosistem baterai EV senilai Rp 240 triliun, termasuk pembangunan pabrik RKEF dan HPAL di Halmahera Timur.

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam terus mengakselerasi pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) yang bernilai fantastis, mencapai US$ 16 miliar atau setara dengan Rp 240 triliun. Proyek yang dinamakan Proyek Dragon ini diklaim sebagai satu-satunya di dunia yang mencakup seluruh rantai pasok baterai EV dalam satu negara.

Proyek Strategis Antam: Ekosistem Baterai EV

Direktur Utama Antam, Nico D. Kanter, menegaskan bahwa proyek ini menjadi prioritas utama perseroan pada tahun 2025. Antam menggandeng konsorsium strategis dari Tiongkok, yakni Contemporary Brunp Lygend (CBL), yang terdiri dari produsen baterai terbesar dunia Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), Brunp, serta Lygend.

Sponsor
Iklan

“Kami menargetkan konstruksi pabrik Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dan pengembangan Kawasan Industri Buli di Halmahera Timur, Maluku Utara, dapat dimulai tahun ini,” ujar Nico dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada Kamis (13/3/2025).

Antam mengelola kawasan industri tersebut melalui anak usahanya, PT Feni Haltim (FHT), yang akan menjadi pusat produksi bahan baku baterai EV. Selain itu, Antam juga tengah mempersiapkan pembangunan pabrik High-Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk memperkuat rantai pasok produksi nikel sulfat yang menjadi bahan utama baterai EV.

Hilirisasi Bauksit: Ekspansi Kapasitas Produksi

Selain fokus pada ekosistem baterai EV, Antam juga mempercepat hilirisasi bauksit. Setelah sukses menyelesaikan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) tahap pertama di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun, perusahaan kini menargetkan ekspansi SGAR tahap kedua.

“Pada tahun 2025, kami akan menyelesaikan bankable feasibility study (BFS) dan final investment decision (FID) untuk proyek SGAR fase II yang akan menggandakan kapasitas produksi menjadi 2 juta ton alumina,” tambah Nico.

Manufaktur Logam Mulia di Gresik

Proyek strategis lainnya yang tengah digarap Antam adalah pembangunan pabrik manufaktur logam mulia di kawasan ekonomi khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) di Gresik. Pabrik ini akan memproduksi emas batangan dan koin dengan kapasitas produksi mencapai 5 juta keping per tahun.

Sinergi antara Antam dan PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam proyek ini juga mencakup pembelian bahan baku emas sebanyak 30 ton per tahun dengan tingkat kemurnian 99,99%.

“Target kami pada 2025 adalah menyelesaikan penunjukan konsultan proyek (PMC), kontraktor EPC, serta tahap perbaikan tanah sebelum masuk ke konstruksi sipil dan engineering,” tutup Nico.

Dengan strategi ekspansi yang agresif ini, Antam menunjukkan komitmennya dalam mendukung industri hilirisasi mineral dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik serta produk logam strategis lainnya.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan