BisnisHeadlinePerdagangan & Industri

ANTM Cetak Rekor Penjualan Emas, Laba 2025 Diprediksi Naik 56%

97
ANTM Cetak Rekor Penjualan Emas, Laba 2025 Diprediksi Naik 56%
Penjualan nikel dan emas Antam naik tajam, laba 2025 diprediksi sentuh Rp6 triliun. Saham ANTM berpeluang outperform dengan valuasi menarik.

Penjualan Nikel dan Emas Antam Melejit, Laba 2025 Melonjak Tajam

JAKARTA, BursaNusantara.com – Emiten tambang PT Aneka Tambang Tbk. (IDX: ANTM) kembali menunjukkan momentum kuat di kuartal II/2025, menyusul performa cemerlang pada awal tahun.

Laporan keuangan resminya memang belum dirilis penuh, namun data operasional yang dikonfirmasi mengindikasikan akselerasi kinerja signifikan.

Volume penjualan bijih nikel dan emas mencetak rekor baru dan telah melampaui lebih dari separuh panduan tahunan.

CLSA mencatat, tren ini bisa mendorong laba bersih Antam sepanjang 2025 mencapai Rp6 triliun.

Jika tercapai, angka ini akan melesat 56% dibanding realisasi 2024 yang tercatat sebesar Rp3,85 triliun.

Ekspektasi ini membuat Antam kembali menarik perhatian investor institusi global.

Penjualan Bijih Nikel dan Emas Melesat Tajam

Sepanjang kuartal II/2025, penjualan bijih nikel Antam menembus 4,4 juta ton.

Volume ini naik 14% secara kuartalan dan 85% secara tahunan, menyentuh 59% dari target setahun penuh.

Di saat yang sama, penjualan emas juga meroket menjadi 15,6 ribu ton, naik 13% kuartalan dan 76% tahunan.

Angka tersebut sudah setara 61% dari panduan tahunan yang dicanangkan perseroan.

CLSA menyebut, ini merupakan rekor penjualan emas kuartalan tertinggi sepanjang sejarah Antam.

Kinerja tersebut menjadi katalis utama yang memperkuat proyeksi pertumbuhan laba.

Pasar juga melihat ini sebagai sinyal bahwa strategi ekspansi operasional Antam berjalan efektif.

Feronikel Turun Tajam, Tapi Profitabilitas Tetap Terjaga

Meski penjualan feronikel turun drastis 86% secara tahunan pada kuartal II/2025, laba Antam diperkirakan tetap kuat.

Sepanjang semester I/2025, penjualan feronikel tercatat hanya 5.800 ton.

Padahal, produksi feronikel selama periode tersebut mencapai 9.000 ton.

Namun, CLSA menilai kontribusi profitabilitas dari segmen bijih nikel dan emas jauh lebih dominan.

Turunnya kontribusi feronikel tidak menjadi ancaman besar terhadap kinerja laba secara keseluruhan.

Fokus pada komoditas dengan margin tinggi dinilai sebagai strategi yang tepat di tengah fluktuasi global.

Hal ini menunjukkan manajemen Antam mulai melakukan seleksi pasar secara lebih agresif.

Laba Diprediksi Sentuh Rp6 Triliun, Saham Antam Diunggulkan

Pada kuartal I/2025, laba bersih Antam telah mencapai Rp2,1 triliun.

Dengan kinerja operasional kuartal II yang kuat, CLSA memproyeksikan laba tahunan menembus Rp6 triliun.

Angka ini menjadikan Antam sebagai salah satu emiten BUMN tambang dengan pertumbuhan laba tertinggi tahun ini.

Tak hanya itu, saham ANTM juga direkomendasikan outperform oleh CLSA dengan target harga Rp3.500 per saham.

Saat ini, valuasi saham ANTM masih tergolong moderat dengan EV/EBITDA 8,7 kali dan PER 12 kali.

Valuasi ini memberi ruang upside yang cukup besar bagi investor yang mengincar sektor komoditas strategis.

Apalagi dengan kontribusi positif dari tren harga nikel dan emas global yang cenderung stabil sepanjang 2025.

Antam Fokus Ekspansi Operasional, Bukan Hanya Volume

Daya tarik Antam bukan hanya pada volume penjualan yang mencetak rekor, tapi juga dari efisiensi operasional.

Manajemen terlihat fokus pada produk dengan margin lebih tinggi dan efisiensi distribusi.

Penjualan emas dan bijih nikel kini menjadi pendorong utama pendapatan yang juga memperkuat arus kas.

Fokus tersebut membedakan Antam dari mayoritas pelaku tambang lain yang masih terpaku pada volume ekspor mentah.

Pendekatan ini dinilai pasar sebagai sinyal bahwa Antam bersiap menjadi pemain jangka panjang di industri logam.

CLSA pun menyebut bahwa transformasi struktur bisnis Antam terlihat semakin matang.

Jika keberlanjutan tren ini bisa dipertahankan, valuasi sahamnya bisa terkerek lebih cepat dari ekspektasi.

Performa Antam di kuartal II/2025 menunjukkan bahwa strategi berbasis kualitas margin, bukan sekadar volume, kini menjadi penentu arah baru dalam lanskap industri tambang Indonesia.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version