Bursa Nikel Indonesia Ditetapkan Meluncur 2026
JAKARTA, BursaNusantara.com – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengumumkan langkah strategis dalam mendirikan bursa logam domestik untuk kontrak berjangka nikel. Target peluncuran bursa ini dijadwalkan pada paruh pertama tahun 2026.
Langkah ini disebut telah mendapatkan persetujuan pemerintah sebagai bagian dari upaya penguatan posisi Indonesia dalam pasar logam global.
APNI Ingin Kendalikan Harga Nikel Global
Sekretaris Jenderal APNI, Meidy Katrin Lengkey, menyampaikan pengumuman ini saat Konferensi & Ekspo Mineral Kritis Indonesia Shanghai Metals Market pada 3 Juni malam.
Bursa logam yang tengah disiapkan akan mulai dari kontrak nikel pig iron. Ke depan, cakupan akan diperluas ke produk nikel lain serta logam strategis lainnya.
“Ambisi kami adalah mengendalikan dunia melalui nikel,” ujar Meidy di hadapan peserta forum internasional tersebut.
Sistem Bursa Akan Adopsi LME dan SHFE
APNI saat ini tengah menyusun konsep dan struktur bursa dengan merujuk pada mekanisme London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).
Dengan sistem yang mengadopsi bursa global, APNI berharap bursa logam Indonesia mampu bersaing dan menjadi referensi harga regional.
Sejak pelarangan ekspor bijih nikel pada 2020, Indonesia aktif menarik investasi di sektor hilir untuk membangun kapasitas peleburan dalam negeri.
Dukungan dan Tantangan dari Bursa Internasional
Edric Koh dari LME menyambut baik rencana APNI, menilai kebutuhan penemuan harga regional penting untuk melengkapi harga global saat ini.
Ia menekankan bahwa dinamika lokal Indonesia bisa menjadi variabel penting dalam pembentukan harga nikel yang lebih representatif.
Namun, Daniel McElduff dari Abaxx Exchange mengingatkan agar perencanaan bursa mempertimbangkan aspek regulasi dan utilitas komersial produk secara hati-hati.
Menurutnya, kesuksesan bursa akan bergantung pada apakah produk yang ditawarkan benar-benar menarik partisipasi aktif dari pelaku pasar.
Indonesia Punya Modal Besar untuk Dominasi
Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan memiliki cadangan global paling besar. Dominasi ini menjadi alasan kuat bagi APNI untuk memperjuangkan kedaulatan harga logam.
Dengan peluncuran bursa domestik, Indonesia berpeluang tidak hanya sebagai eksportir, tapi juga penentu harga global di masa mendatang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











