Saham ARCI Disuspensi Usai Reli Tajam, Investor Diuji: Fundamental atau Euforia?
JAKARTA, BursaNusantara.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham PT Archi Indonesia Tbk. (IDX:ARCI) pada Senin (23/6) setelah mencatat lonjakan harga kumulatif 164% sejak awal tahun.
Suspensi dilakukan di pasar reguler dan tunai sebagai bentuk perlindungan investor atas volatilitas ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat.
Harga Melejit, Volume Meledak
Saham ARCI ditutup di level Rp655 pada Jumat (20/6), naik 9,17% dalam sehari, dengan volume transaksi mencapai 195 juta lembar melonjak hampir lima kali lipat dari rata-rata 3 bulan terakhir.
Dalam sebulan, saham ini sudah naik 88,22%, dan dalam 6 bulan terakhir melonjak 162%.
Apa yang Mendorong Lonjakan Ini?
Katalis utama berasal dari temuan cadangan emas berkadar tinggi di Koridor Timur tambang Toka Tindung, Sulawesi Utara.
Direktur Utama ARCI, Rudy Suhendra, mengungkapkan bahwa hasil pengeboran menunjukkan kadar emas hingga 60 gram/ton dengan ketebalan 36 meter pada kedalaman 178–214 meter.
“Grade emas kami hampir dua kali lipat lebih besar, lebih tebal, dan kedalamannya lebih dangkal dibanding tambang lain di Asia Tenggara,” ujar Rudy dalam paparan publik 19 Juni 2025.
Namun, ia juga menegaskan bahwa data tersebut masih dalam tahap eksplorasi dan belum bisa dikonversi menjadi cadangan terukur.
Kinerja Keuangan: Mulai Pulih, Tapi Belum Stabil
Pada kuartal I-2025, ARCI mencatat pendapatan US$90,78 juta, naik 59,23% YoY, dan laba bersih US$10,28 juta tertinggi sejak 2020.
Namun, analis menilai lonjakan ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga jual emas, bukan volume produksi.
EBITDA kuartal I tercatat US$28,41 juta, naik 265,95% YoY, dengan margin laba bersih 11,33%.
Strategi Jangka Panjang: Tambang Bawah Tanah dan Energi Terbarukan
ARCI menargetkan peningkatan produksi emas sebesar 25% pada 2025, didukung oleh pembukaan kembali Pit Araren dan pengembangan tambang bawah tanah Pit Kopra yang kini sudah mencapai kedalaman 425 meter.
Selain itu, ARCI juga mulai ekspansi ke sektor energi terbarukan melalui PT Toka Tindung Geothermal, dengan target kapasitas listrik 40 MW di Bitung, Sulawesi Utara.
Analis: Waspadai Bubble, Tapi Jangan Abaikan Potensi
Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menyebut bahwa lonjakan harga ARCI belum sepenuhnya mencerminkan fundamental.
“Investor perlu membedakan antara narasi eksplorasi dan realisasi cadangan. Kalau hanya euforia, koreksi bisa tajam,” ujarnya.
Namun, analis lain menilai bahwa momentum pemulihan pasca longsor Pit Araren dan diversifikasi bisnis bisa menjadi katalis jangka menengah.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






