Internasional

AS Desak Setop Impor Minyak Rusia, China dan India Tak Gentar

272
AS Desak Setop Impor Minyak Rusia, China dan India Tak Gentar
Meski ditekan AS, China, India, dan Turki tetap impor minyak murah Rusia untuk jaga margin dan pasokan energi. Ini alasan dan risikonya.

Tekanan AS Menguat, Tapi Pasar Minyak Rusia Makin Mengakar

JAKARTA, BursaNusantara.com – Presiden AS Donald Trump kembali mengambil langkah agresif di panggung energi global dengan mendesak China dan India menghentikan pembelian minyak dari Rusia.

Langkah ini diklaim sebagai bagian dari strategi Washington untuk menekan Kremlin agar menyepakati gencatan senjata di Ukraina.

Namun realitas geopolitik dan kebutuhan energi berkata lain.

Di balik tekanan politik yang mengemuka, Rusia justru berhasil memperluas pangsa pasarnya ke Asia, menjadikan minyak sebagai alat geopolitik sekaligus senjata ekonomi.

Ketika sanksi Barat menghalangi jalur distribusi tradisional ke Eropa, pasar Asia terbukti menjadi penyelamat krusial bagi perekonomian Rusia.

Kini, para pembeli utamanya bukan sekadar pelanggan, tapi sekutu energi strategis yang sulit digoyang.

China, India, dan Turki Kuasai Jalur Minyak Rusia

Sejak Uni Eropa memboikot mayoritas minyak Rusia pada awal 2023, tiga negara Asia langsung mengambil alih jalur distribusi tersebut: China, India, dan Turki.

Ketiganya kini menjadi pembeli utama ekspor energi Rusia, termasuk minyak, gas, dan batu bara.

China menempati posisi pertama dengan transaksi senilai USD 219,5 miliar, disusul India USD 133,4 miliar, dan Turki USD 90,3 miliar.

Angka ini menunjukkan bukan hanya ketergantungan yang tinggi, tapi juga kesadaran negara-negara tersebut akan keuntungan ekonomi dari transaksi tersebut.

India misalnya, sebelum invasi Ukraina, nyaris tidak pernah mengimpor minyak Rusia dalam volume besar.

Kini, mereka menjadi pemain utama dalam aliran minyak Moskow ke Asia.

Minyak Diskon Jadi Kunci Daya Tarik

Minyak Rusia saat ini dijual dengan harga jauh di bawah standar Brent, patokan internasional.

Ini menjadi magnet bagi kilang di Asia yang ingin menjaga margin keuntungan tanpa mengorbankan pasokan.

Dengan harga minyak murah, kilang-kilang di India dan China mampu meningkatkan efisiensi produksi bahan bakar seperti solar dan bensin.

Dalam konteks tekanan inflasi global dan tingginya permintaan energi domestik, pilihan untuk membeli minyak diskon dari Rusia bukanlah sekadar keputusan ekonomi biasa, tetapi strategi bertahan.

Rusia Raup Triliunan Rupiah Meski Disanksi

Meski dibatasi oleh embargo dan sanksi Barat, Kremlin tetap memperoleh pendapatan besar dari sektor energi.

Hanya pada Juni 2025 saja, Rusia meraup USD 12,6 miliar dari penjualan minyak, menurut Sekolah Ekonomi Kyiv.

Lembaga Ukraina itu memperkirakan total pendapatan ekspor minyak Rusia tahun ini akan mencapai USD 153 miliar.

Dana tersebut sangat vital, tak hanya menopang anggaran negara tetapi juga mendukung nilai tukar rubel dan belanja militer Rusia.

Inilah sebabnya AS terus berupaya menekan aliran uang tersebut.

Namun langkah mereka terhambat oleh kenyataan bahwa banyak negara non-Barat menolak terlibat dalam sanksi kolektif.

Armada Bayangan, Jurus Rusia Hindari Blokade G7

Rusia secara sistematis menghindari batas harga yang diberlakukan G7 dengan membentuk “armada bayangan”.

Armada ini terdiri dari kapal-kapal tua yang diasuransikan dan dioperasikan oleh perusahaan yang berbasis di negara non-pengambil sanksi.

Skema ini memungkinkan Rusia tetap menyalurkan minyak ke luar negeri tanpa melibatkan jalur logistik yang dikontrol Barat.

Dengan demikian, tekanan dari AS dan sekutunya menjadi tidak efektif karena secara hukum tidak bisa menjangkau negara atau perusahaan di luar koalisi.

Bahkan, negara anggota UE seperti Hongaria pun masih menerima minyak Rusia melalui jalur pipa.

Presiden Viktor Orban secara terbuka mengkritik sanksi energi Eropa, menegaskan bahwa kepentingan domestik lebih utama dari solidaritas geopolitik.

Resistensi Terhadap Tekanan AS Semakin Mengeras

Meskipun Trump secara terbuka meminta China dan India untuk memutus kerja sama minyak dengan Rusia, belum ada indikasi bahwa permintaan ini akan diindahkan.

Sebaliknya, kedua negara tetap konsisten dalam strategi energi nasional mereka yang berfokus pada efisiensi biaya dan ketahanan pasokan.

Bagi mereka, urusan energi bukan semata soal politik global, melainkan kebutuhan nyata dalam negeri yang tidak bisa dikompromikan.

Tekanan eksternal dianggap sebagai intervensi terhadap kedaulatan energi dan strategi pembangunan nasional.

Kedekatan dengan Rusia pun memberi keuntungan negosiasi yang lebih besar dalam lanskap multipolar saat ini.

Jika AS ingin mengakhiri aliran uang ke Moskow, diplomasi ancaman tampaknya bukan pilihan efektif.

Perubahan hanya bisa terjadi bila Washington mampu menyediakan alternatif energi yang murah, stabil, dan bebas risiko geopolitik bagi negara-negara seperti India dan China.

Tanpa itu, minyak Rusia akan terus mengalir ke Asiadan uang pun tetap mengalir ke Kremlin.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version