Geser Kebawah
Internasional

Asia Pasifik Tahan Tarif AS: Diversifikasi Bisnis Jadi Kunci

112
×

Asia Pasifik Tahan Tarif AS: Diversifikasi Bisnis Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
Asia Pasifik Tahan Tarif AS Diversifikasi Bisnis Jadi Kunci
Moody's ungkap hanya 6% perusahaan Asia Pasifik yang terpapar risiko tarif AS. Strategi diversifikasi dan dominasi pasar domestik jadi kunci ketahanan sektor non-keuangan kawasan ini.

Strategi Finansial Perusahaan Asia Hadapi Tekanan Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketika gelombang proteksionisme kembali mencuat dari Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan non-keuangan di Asia Pasifik justru menunjukkan daya tahan luar biasa terhadap guncangan tarif dan ketidakpastian global.

Moody’s Ratings mencatat hanya 6% dari sekitar 450 perusahaan yang diperingkat di Asia Pasifik memiliki eksposur tinggi terhadap risiko tarif AS. Angka ini merupakan yang terendah secara global dan mencerminkan hasil dari strategi bisnis yang dibangun bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk mengendalikan arah risiko.

Sponsor
Iklan

Mayoritas perusahaan tersebut terbukti sukses meredam tekanan dari tiga jalur transmisi risiko global: perdagangan, ekonomi makro, dan keuangan.

Diversifikasi & Domestikasi Jadi Tameng Utama

Perusahaan Asia Pasifik dinilai memiliki pijakan kuat dalam operasi domestik yang besar, sekaligus strategi rantai pasok yang sudah terdiversifikasi secara geografis. Ini menciptakan lapisan pelindung alami terhadap ketidakpastian yang berasal dari ketegangan perdagangan AS.

Moody’s mengungkap 86% perusahaan yang diperingkat hanya mengandalkan kurang dari 10% pendapatan atau biaya dari AS yang dikenakan tarif. Ini mempertegas bahwa model bisnis mereka tidak lagi bertumpu pada satu sumber pendapatan atau satu jalur impor utama.

Model bisnis seperti ini memungkinkan perusahaan-perusahaan Asia Pasifik tetap gesit dalam menghadapi perubahan aturan dagang internasional.

Volatilitas Pasar Bukan Ancaman Utama

Meski tak terpapar langsung risiko tarif, perusahaan tetap menghadapi tantangan dalam bentuk volatilitas pasar dan tekanan likuiditas jangka pendek. Moody’s menyebut dua pertiga perusahaan berimbal hasil tinggi yang memiliki rating B3 ke bawah mengalami tekanan likuiditas akibat sumber kas internal yang tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan belanja modal, distribusi kepada pemegang saham, hingga pelunasan utang.

Namun demikian, ketergantungan pada pendanaan eksternal bukanlah kelemahan mutlak. Banyak perusahaan yang sudah memiliki jalur pembiayaan mapan melalui bank domestik dan asing, serta rekam jejak akses ke pasar modal lokal. Hubungan jangka panjang ini menjadi jaring pengaman yang tidak dimiliki oleh korporasi di kawasan lain.

Ketahanan Tak Datang dari Sekadar Bertahan

Penting dicatat, risiko tertinggi tetap datang dari sektor otomotif, energi, hingga transportasi seperti maskapai dan pengiriman. Sektor ini dinilai memiliki eksposur makroekonomi tertinggi terhadap dampak tarif dan perlambatan global, termasuk potensi pelemahan permintaan konsumen.

Namun laporan Moody’s menunjukkan bahwa bahkan perusahaan dalam sektor-sektor ini mampu mencatat posisi yang lebih baik daripada rekan sejenis di luar Asia Pasifik. Kuncinya terletak pada diversifikasi operasi dan ketergantungan lebih rendah terhadap pasar AS.

Ketahanan yang dibangun ini bukan semata karena keberuntungan geografis, melainkan hasil dari penataan ulang model bisnis pasca gelombang perang dagang pertama antara AS-Tiongkok beberapa tahun lalu. Banyak perusahaan sudah memitigasi ketergantungan tunggal terhadap pasar AS, bahkan mulai memperkuat penetrasi di pasar Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.

Stabilitas Default Korporasi Tetap Terjaga

Moody’s juga menyoroti bahwa meski tekanan likuiditas dan risiko pembiayaan tetap ada, potensi gagal bayar tetap terkendali. Tingkat gagal bayar korporasi Asia Pasifik yang berimbal hasil tinggi diperkirakan stabil di level 4,1% hingga akhir 2025, masih jauh di bawah rata-rata global 10 tahun yang berada di 5,7%.

Stabilitas ini diperkuat oleh peran signifikan perusahaan-perusahaan yang memiliki afiliasi kuat dengan kelompok usaha besar maupun entitas negara. Keberadaan mereka memperkuat struktur pembiayaan kawasan dan menciptakan efek penyangga dalam sistem keuangan domestik.

Momentum Asia Pacu Strategi Anti-Risiko

Tren ini mengindikasikan bahwa korporasi Asia Pasifik tidak lagi sekadar bersikap defensif. Mereka mulai bergerak proaktif membangun sistem yang tahan terhadap guncangan eksternal, termasuk tarif baru, krisis energi, hingga perubahan iklim pasar.

Kondisi ini menjadikan kawasan Asia Pasifik bukan hanya pusat manufaktur global, tetapi juga pusat ketahanan bisnis berbasis diversifikasi, efisiensi, dan koneksi domestik yang kuat. Dalam iklim global yang makin tidak menentu, pendekatan ini adalah fondasi baru bagi kelangsungan korporasi jangka panjang.