Gaya HidupSeni & Hiburan

BABYMONSTER Disorot Dunia: YG Diduga Langgar Hak Cipta Lagu J.J. Fad

267
BABYMONSTER Disorot Dunia YG Diduga Langgar Hak Cipta Lagu J.J. Fad
YG Entertainment dituding gunakan melodi lagu Supersonic milik J.J. Fad tanpa izin dalam rilisan terbaru BABYMONSTER, Hot Sauce.

BABYMONSTER Kena Sorot, YG Entertainment Diambang Skandal Hak Cipta Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Industri K-Pop kembali diguncang kontroversi setelah label raksasa YG Entertainment dituding melakukan pelanggaran hak cipta atas lagu “Hot Sauce” milik grup baru mereka, BABYMONSTER.

Tudingan tersebut bukan datang dari kalangan biasa, melainkan langsung dari grup hip-hop legendaris asal Amerika, J.J. Fad, yang menuduh YG telah menggunakan melodi lagu mereka “Supersonic” tanpa izin.

Melalui akun TikTok resminya, J.J. Fad mengunggah perbandingan dua lagu tersebut dan menyatakan bahwa interpolasi Supersonic dalam Hot Sauce dilakukan tanpa komunikasi maupun kompensasi.

Unggahan itu memantik diskusi luas di jagat media sosial, baik di kalangan penggemar K-Pop maupun komunitas musik internasional.

Tuduhan Interpolasi Tak Berizin, Dilematis Namun Familiar

Dalam dunia musik, interpolasi adalah teknik produksi di mana elemen melodi dari lagu lama direkam ulang untuk karya baru, berbeda dari sampling yang menggunakan suara asli.

Teknik ini memang lazim digunakan di K-Pop, bahkan oleh nama-nama besar seperti BLACKPINK hingga IVE.

Namun, meskipun interpolasi tidak menggunakan rekaman asli, penggunaan elemen tersebut tetap wajib meminta izin resmi dari pemegang hak cipta lagu asli.

Dalam kasus ini, J.J. Fad menyebut YG Entertainment tidak pernah menghubungi mereka ataupun memberikan kompensasi.

Sikap terbuka J.J. Fad di media sosial pun dinilai sebagai upaya publik yang tegas, sekaligus langkah hukum potensial jika tidak ada penyelesaian.

“Masalahnya, mereka tidak pernah meminta izin untuk menggunakannya, atau membayar biayanya,” tegas J.J. Fad di unggahan mereka.

Supersonic: Lagu Legendaris yang Dilindungi Pengaruh dan Sejarah

Supersonic bukan sekadar lagu, tapi simbol penting dalam sejarah musik rap perempuan.

Dirilis ulang sebagai bagian dari debut album mereka pada 1988, lagu ini melambungkan nama J.J. Fad lewat label Ruthless Records milik Eazy-E.

Supersonic sempat bertahan di tangga lagu Billboard selama delapan minggu, masuk Top 10 Dance Chart, dan menjadi tonggak sejarah dengan nominasi Grammy pertama bagi grup rap perempuan.

Tak heran jika para personel J.J. Fad sangat protektif terhadap hak atas lagu tersebut.

Bagi mereka, Supersonic adalah warisan budaya yang tidak bisa digunakan begitu saja demi keuntungan komersial pihak lain.

Posisi mereka diperkuat dengan fakta bahwa “Hot Sauce” dari BABYMONSTER saat ini tengah didistribusikan secara global, dimonetisasi di berbagai platform digital.

Ini artinya, potensi pelanggaran hak cipta bisa menjadi persoalan hukum lintas negara, dengan cakupan yang serius bagi YG Entertainment.

YG Entertainment Bungkam, Tapi Sorotan Tak Terbendung

Hingga artikel ini diturunkan, YG Entertainment belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut.

Sikap diam ini justru memperbesar kecurigaan publik dan memicu tekanan dari media internasional.

Dalam kultur K-Pop modern, setiap kontroversi terkait etika produksi sangat berisiko terhadap reputasi grup maupun agensi.

Jika tuduhan ini tidak ditanggapi secara terbuka, bukan tidak mungkin BABYMONSTER ikut terdampak secara komersial maupun sosial.

Fans internasional sudah mulai membandingkan kredibilitas YG dengan label lain yang dinilai lebih transparan dalam urusan lisensi.

Media musik di AS pun mulai mengangkat isu ini sebagai studi kasus pelanggaran hak kekayaan intelektual antarnegara.

Yang menjadi sorotan bukan hanya kesalahan hukum, tapi bagaimana YG sebagai label besar tidak memberi contoh tata kelola hak cipta yang baik di industri kreatif global.

BABYMONSTER dalam Pusaran: Risiko Brand Hingga Karier Jangka Panjang

Sebagai grup baru yang tengah naik daun, BABYMONSTER kini berada dalam posisi rentan.

Lagu “Hot Sauce” baru saja dirilis 1 Juli 2025 dan dijadwalkan masuk dalam mini album kedua mereka Oktober mendatang.

Namun sorotan terhadap kontroversi ini bisa memengaruhi performa streaming, tayangan video musik, hingga undangan tampil di acara musik internasional.

Jika konflik ini terus bergulir tanpa penyelesaian, imej BABYMONSTER sebagai grup global yang sedang berkembang bisa terganggu.

Meskipun para member tidak terlibat langsung dalam proses produksi, nama mereka tetap akan dikaitkan dengan skandal ini selama YG belum memberikan klarifikasi.

Hal ini menciptakan tekanan psikologis dan reputasional yang besar, terutama bagi grup rookie yang masih dalam tahap pembentukan citra.

Persoalan seperti ini bisa membatasi ruang gerak promosi dan memperkeruh jalur ekspansi BABYMONSTER ke pasar musik Amerika.

Industri Musik Global Mulai Soroti Praktik Interpolasi K-Pop

Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana praktik interpolasi di industri K-Pop perlu mulai ditata lebih profesional.

Selama ini, banyak agensi besar di Korea mengadopsi pendekatan sampling dan interpolasi dari tren Barat, tapi belum seluruhnya menerapkan standar hukum internasional dalam pelaksanaannya.

Kasus BABYMONSTER vs J.J. Fad dapat menjadi titik balik untuk mendorong reformasi etika lisensi musik dalam ekosistem K-Pop.

Terlebih, banyak lagu K-Pop modern kini ditulis oleh produser global, dengan kontribusi dari berbagai negara.

Artinya, tata kelola hak cipta harus sejalan dengan sistem hukum multinasional.

Jika tidak, maka industri K-Pop berisiko kehilangan kredibilitas sebagai sektor kreatif global yang selama ini dibanggakan.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version