Geser Kebawah
BisnisEnergi

Bahlil Lahadalia dan Misi 23% Energi Terbarukan (EBT) 2025

282
×

Bahlil Lahadalia dan Misi 23% Energi Terbarukan (EBT) 2025

Sebarkan artikel ini
bahlil lahadalia dan misi 23% energi terbarukan (ebt) 2025 kompres
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23% pada 2025. Simak strategi pemerintah untuk mencapainya.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan target ambisius pemerintah untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) menjadi 23% pada tahun 2025. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendukung pengembangan energi ramah lingkungan.

Dalam kunjungannya ke peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede di Sumedang pada Senin (20/01/2025), Bahlil mengungkapkan bahwa total kapasitas listrik nasional saat ini mencapai 101 gigawatt (GW), dengan sekitar 72–75 GW dikelola oleh PT PLN (Persero). Dari kapasitas tersebut, sekitar 15–16% berasal dari EBT.

Sponsor
Iklan

“Total eksisting listrik sekarang di seluruh Indonesia 101 Gigawatt, dan dikelola PLN 72–75 Gigawatt,” ujar Bahlil. “Dari 72 Gigawatt tersebut, ada 15%–16% yang menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Target perencanaan kita di tahun 2025 itu harus sudah mencapai 23%,” tambahnya.

Langkah Strategis untuk Capai Target

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah merancang berbagai strategi. Salah satu fokus utamanya adalah pembangunan infrastruktur pendukung. “Jangan sampai pembangkit dibangun, tapi jaringan tidak siap,” tegas Bahlil. Dalam rencana pemerintah, pembangunan jaringan transmisi sepanjang 48.000 km hingga tahun 2030 menjadi prioritas untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, khususnya di wilayah terpencil.

Selain itu, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 72 triliun untuk proyek pembangkit listrik berbasis EBT. Investasi besar ini diharapkan tidak hanya meningkatkan bauran energi hijau tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% per tahun.

“Kita juga perlu meningkatkan konsumsi listrik per kapita yang saat ini berkisar antara 4.500–5.000 kVA menjadi 6.000–6.500 kVA. Ini penting agar daya saing ekonomi meningkat,” jelas Bahlil.

Tantangan dalam Pengembangan EBT

Meski demikian, berbagai tantangan masih menghadang. Salah satu kendala utama adalah koordinasi antara pembangunan pembangkit listrik dan infrastruktur jaringan transmisi. Di samping itu, menarik investasi swasta ke sektor EBT juga menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Dukungan regulasi dan insentif investasi menjadi kunci dalam mempercepat pengembangan EBT. Pemerintah diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif sehingga para pelaku usaha dapat terlibat lebih aktif dalam upaya ini.

Dampak Positif bagi Lingkungan dan Ekonomi

Jika target 23% bauran EBT tercapai, Indonesia tidak hanya akan mengurangi emisi karbon secara signifikan tetapi juga meningkatkan ketahanan energi nasional. Hal ini sejalan dengan komitmen global untuk mengatasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.

Selain itu, pengembangan EBT juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru di sektor energi hijau, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat infrastruktur energi di wilayah terpencil.

Target bauran energi baru terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 mencerminkan ambisi besar pemerintah untuk mengubah wajah sektor energi nasional. Dengan berbagai langkah strategis yang telah direncanakan, peluang untuk mencapai target ini terbuka lebar meski tantangan tetap ada. Keberhasilan upaya ini akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru