Strategi SLA BAIC Dongkrak Kepercayaan Konsumen RI
JAKARTA, BursaNusantara.com – BAIC Indonesia mulai membuka lembar baru dalam peta persaingan otomotif nasional, bukan lewat gimik penjualan agresif atau diskon harga besar-besaran, tapi lewat pendekatan yang lebih mendasar: konsistensi layanan purnajual, khususnya dalam sistem ketersediaan suku cadang.
Dengan mencatat angka Service Level Agreement (SLA) mencapai 92% dalam kurun waktu satu tahun pertama, produsen otomotif asal Tiongkok ini mencoba membentuk identitas baru sebagai penyedia mobil tangguh dengan dukungan logistik dan layanan yang terukur dan kredibel.
Bukan Sekadar Layanan, Tapi Infrastruktur Kepercayaan
SLA 92% yang diumumkan oleh Dhani Yahya, Chief Operating Officer BAIC Indonesia, bukan sekadar angka statistik di atas kertas. Di balik angka itu, tersirat strategi menyeluruh yang berorientasi pada pembentukan kepercayaan jangka panjang, terutama dari konsumen urban yang menuntut respons cepat dan tanpa drama saat terjadi masalah teknis.
Artinya, mayoritas pemilik kendaraan BAIC di Indonesia bisa memperoleh suku cadang mulai dari yang fast moving seperti kampas rem dan oil filter hingga yang lebih kompleks dalam waktu yang masuk akal. Untuk kategori fast moving parts, pengiriman diklaim hampir instan karena sudah tersedia di seluruh jaringan dealer resmi di Indonesia.
Lebih dari sekadar memastikan barang ada, BAIC juga membangun sistem distribusi yang menjangkau luas dan mengedepankan presisi waktu dua faktor yang selama ini menjadi kelemahan utama dari banyak merek pendatang baru di pasar Indonesia.
Menjawab Kekhawatiran: Transparansi dan Buy-On-Demand
Salah satu tantangan terbesar bagi merek otomotif baru adalah menghapus keraguan konsumen terhadap aftersales service, terutama jika menyangkut suku cadang kategori slow moving, seperti transmisi atau komponen sasis. BAIC Indonesia menjawab tantangan ini dengan pendekatan transparansi pengadaan.
Jika pun terjadi kekosongan, waktu pengiriman suku cadang tersebut hanya berkisar 1–2 bulan sejak tanggal pemesanan. Durasi ini dinilai masuk akal, mengingat komponen tersebut umumnya tidak tersedia di gudang lokal dan memerlukan proses produksi khusus di pabrikan utama.
Alih-alih menutup-nutupi, BAIC memilih menyampaikan estimasi waktu kepada pelanggan secara terbuka. Model komunikasi semacam ini tak hanya menciptakan ekspektasi yang realistis, tetapi juga menumbuhkan persepsi bahwa merek ini mengutamakan integritas layanan di atas segalanya.
Konsistensi di Balik Deretan Produk Baru
Masuknya model BJ30 Hybrid di ajang GIIAS 2025 menambah daftar kendaraan BAIC yang dijanjikan masuk dalam skema SLA di atas 90%. Ini berarti perusahaan tak hanya menjual kendaraan baru, tetapi sudah memiliki fondasi sistem purnajual yang mampu menampung lonjakan permintaan pascapenjualan.
Hal ini menjadi penting, karena banyak pemain baru di industri otomotif nasional sering gagal dalam aspek ini: memperluas jajaran produk tanpa kesiapan purnajual yang memadai.
Di sisi lain, BAIC juga memperlihatkan kejelian dalam pemetaan distribusi stok, sehingga meskipun menghadapi pasar yang majemuk dan geografis yang menantang seperti Indonesia, perusahaan tetap mampu menjaga SLA-nya tetap stabil dan tinggi.
Menargetkan Posisi Lebih Dari Sekadar “Mobil Cina”
Dengan kian banyaknya merek Tiongkok yang masuk ke pasar otomotif Indonesia, BAIC Indonesia tampaknya mencoba menempuh jalur yang berbeda dari rekan senegaranya. Alih-alih bermain harga atau sekadar gimmick tampilan, mereka lebih memilih konsistensi layanan sebagai nilai jual utama.
Langkah ini terbilang strategis. Dalam jangka panjang, trust terhadap layanan purnajual akan menjadi penentu loyalitas pelanggan, bukan sekadar spesifikasi kendaraan atau desain yang atraktif.
Pernyataan Dhani Yahya bahwa layanan purnajual adalah tentang “kepercayaan dan kenyamanan jangka panjang” mencerminkan positioning merek yang ingin menempatkan BAIC bukan hanya sebagai alternatif kendaraan, tetapi sebagai mitra mobilitas harian yang andal.
Jika strategi ini dijalankan konsisten, bukan tidak mungkin BAIC akan mampu keluar dari stereotipe “mobil baru yang bikin khawatir” menjadi pemain serius dengan daya saing menyeluruh baik dari sisi produk, harga, maupun layanan purnajual.
Sinyal Perubahan untuk Pasar Otomotif Nasional?
Pencapaian SLA 92% dalam satu tahun operasional, terutama untuk merek pendatang baru, bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Ini sinyal bahwa dinamika pasar otomotif nasional akan semakin kompetitif, dan pemain lama yang selama ini merasa nyaman dengan posisinya harus mulai melihat kompetitor ini dengan lebih serius.
Dengan komitmen terhadap SLA global, pendekatan logistik yang presisi, dan kejelasan prosedur distribusi suku cadang, BAIC Indonesia tidak hanya menantang merek-merek Jepang atau Korea yang sudah mapan, tapi juga ikut menaikkan standar layanan yang seharusnya berlaku secara industri.
Langkah-langkah seperti ini akan memaksa pelaku lain untuk meningkatkan performa layanan purnajual mereka, atau bersiap ditinggalkan oleh generasi konsumen baru yang makin rasional dan taktis dalam memilih kendaraan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











