Sawah Jadi "Lautan": 2.873 Hektare Padi di Kudus Terancam Gagal Panen Total
KUDUS – Sektor pertanian di Kabupaten Kudus sedang berada dalam titik nadir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus melaporkan sebanyak 2.873 hektare lahan sawah masih terendam banjir sejak awal Januari 2026.
Empat kecamatan terdampak parah dengan ketinggian air yang sangat mengkhawatirkan, mencapai 100 cm.
Kondisi ini memicu alarm waspada bagi ketahanan pangan lokal, mengingat ribuan hektare tanaman padi tersebut kini di ambang gagal panen (puso) massal.
Jeritan Petani: Modal Jutaan Lenyap Sekejap
Dampak finansial dari bencana ini dirasakan langsung oleh para petani. Jasan, seorang petani dari Desa Karangrowo, mengungkapkan bahwa sawahnya kini menyerupai lautan. Padahal, padi miliknya hanya tinggal menunggu kurang dari satu bulan untuk memasuki masa panen.
“Kerugian cukup besar. Satu kotak sawah saja biaya pupuk, obat, hingga tenaga kerja mencapai Rp3 juta. Saya punya 10 kotak sawah di sini,” keluh Jasan dengan nada getir pada Minggu (25/1/2026).
Langkah Darurat: Dari Pompanisasi hingga Klaim AUTP
Menanggapi krisis ini, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, bergerak cepat dengan menyiapkan dua skema solusi:
- Jangka Pendek: Optimalisasi pompanisasi untuk membuang genangan air dari lahan pertanian yang sekiranya masih bisa diselamatkan.
- Jangka Panjang: Perencanaan pembangunan embung di titik-titik rawan banjir sebagai wadah penampungan air permanen.
Selain infrastruktur, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Pangan tengah melakukan pendataan masif guna pengajuan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Langkah ini krusial untuk memberikan kompensasi finansial bagi petani agar mereka memiliki modal kembali untuk menanam setelah air surut.
Menanti Uluran Tangan Pemerintah Pusat
Pemkab Kudus juga telah mengusulkan bantuan benih dan asuransi gagal panen kepada pemerintah pusat. Kecepatan proses verifikasi data di lapangan akan menentukan seberapa cepat bantuan ini turun ke tangan petani.
Jika bantuan tidak segera direalisasikan, dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan stok gabah yang berujung pada kenaikan harga beras di pasar lokal dalam beberapa bulan ke depan.











