JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menetapkan 78% dari laba bersih konsolidasi tahun buku 2024 sebagai dividen tunai dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Nilainya mencapai Rp 43,51 triliun, sementara sisanya 22% atau Rp 12,27 triliun dialokasikan sebagai laba ditahan untuk memperkuat permodalan dan ekspansi bisnis.
Keputusan ini menandai peningkatan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 60%. Dengan kenaikan ini, Bank Mandiri mencatat rasio dividen tertinggi dalam sejarahnya.
Dividen Tertinggi, Pemerintah RI Terima Rp 22,62 Triliun
Dari total dividen yang dibagikan, pemerintah RI sebagai pemegang 52% saham Bank Mandiri melalui PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI akan menerima Rp 22,62 triliun. Pembayaran ini dilakukan melalui rekening yang ditunjuk oleh Menteri BUMN.
Sebagai informasi, pemerintah telah mengalihkan kepemilikan 52% saham Seri B Bank Mandiri kepada PT BKI sebagai holding operasional Danantara. Kendati demikian, saham Seri A Dwiwarna tetap berada di bawah kendali pemerintah, sehingga status pengendalian Bank Mandiri oleh negara tidak berubah.
Dengan pengalihan kepemilikan ini, dividen yang sebelumnya disetor langsung ke kas negara kini disalurkan melalui PT BKI.
Dividen Per Saham Naik 31,71%
Pembagian dividen yang tinggi ini juga berdampak positif bagi pemegang saham. Besaran dividen per lembar saham Bank Mandiri ditetapkan sebesar Rp 466,18, meningkat 31,71% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang tahun 2024, Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 55,78 triliun, mencerminkan kinerja yang solid dengan perbaikan kualitas aset.
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa kebijakan dividen ini mencerminkan komitmen manajemen dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham serta mendukung pembangunan ekonomi nasional.
“Keputusan ini menunjukkan dukungan kuat dari pemegang saham untuk mengakselerasi ekspansi bisnis Bank Mandiri ke depan,” ujar Darmawan, Selasa (25/3/2025).
Kontribusi Pajak Bank Mandiri Capai Rp 28,87 Triliun
Selain dividen, Bank Mandiri juga berkontribusi besar terhadap penerimaan negara melalui pajak dan bukan pajak. Pada tahun 2024, total kontribusi pajak Bank Mandiri mencapai Rp 28,87 triliun, meningkat 8,47% dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Darmawan, tren pertumbuhan pajak ini sejalan dengan peningkatan kinerja bisnis yang berkelanjutan.
Fundamental Bank Mandiri Tetap Kuat Pasca Pembagian Dividen
Meskipun membagikan dividen dalam jumlah besar, Bank Mandiri memastikan struktur permodalan tetap solid. Setelah pembagian dividen, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) Bank Mandiri diproyeksikan tetap kuat di kisaran 19-20% hingga akhir tahun 2025.
Bank Mandiri juga terus berinovasi dalam pengembangan digital dan ekspansi bisnis untuk mempertahankan posisinya sebagai bank terdepan di Indonesia.
“Sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi, kami optimistis kinerja Bank Mandiri akan terus membaik dengan ekspansi bisnis yang berkelanjutan,” tambah Darmawan.
Buyback Saham Senilai Rp 1,17 Triliun
Selain pembagian dividen, RUPST Bank Mandiri juga menyetujui rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 1,17 triliun. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang Bank Mandiri yang memiliki fundamental kuat dan kinerja yang terus tumbuh.
Perubahan Susunan Pengurus
Dalam RUPST kali ini, Bank Mandiri juga mengumumkan perubahan dalam jajaran direksi dan komisaris. Beberapa anggota direksi dan komisaris diberhentikan, sementara sejumlah nama baru ditunjuk sebagai pengganti.
Direksi yang Diberhentikan:
- Alexandra Askandar
- Agus Dwi Handaya
- Aquarius Rudianto
- Rohan Hafas
- Sigit Prastowo
Komisaris yang Diberhentikan:
- M. Chatib Basri
- Tedi Bharata
- Arif Budimanta
- Loeke Larasati Agoestina
- Faried Utomo
- Muliadi Rahardja
- Heru Kristiyana
- Rionald Silaban
Direksi Baru:
- M. Rizaldi
- Saptari
- Jan Winston Tambunan
- Ari Rizaldi
- Novita Widya Anggraini
Komisaris Baru:
- Kuswiyoto
- Luky Alfirman
- Yuliot
- Mia Amiati
Perubahan ini akan efektif setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan memenuhi regulasi yang berlaku.
Kinerja Bank Mandiri Kuartal Pertama 2025
Hingga Februari 2025, Bank Mandiri mencatat laba bersih secara bank only sebesar Rp 7,59 triliun, tumbuh 6% secara tahunan.
Detail Kinerja BMRI per Februari 2025:
- Pendapatan bunga: Rp 19,33 triliun (+12,64% yoy)
- Beban bunga: Rp 6,78 triliun (+26,02% yoy)
- Pendapatan bunga bersih: Rp 12,55 triliun (+6,63% yoy)
- Impairment aset keuangan: Rp 1,47 triliun (-8,69% yoy)
- Penyaluran kredit: Rp 1.307,64 triliun (+19,05% yoy)
- Total aset: Rp 1.937,46 triliun (+16,36% yoy)
- Dana pihak ketiga (DPK): Rp 1.414,42 triliun (+16,98% yoy)
Corporate Secretary Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit Bank Mandiri masih di atas rata-rata industri perbankan yang hanya mencapai 10,3% yoy.
“Kami akan terus menjaga keseimbangan antara ekspansi yang sehat dan profitabilitas yang terjaga. Strategi kami akan fokus pada sektor-sektor prospektif seperti makanan & minuman, jasa kesehatan, telekomunikasi, dan energi,” jelas Ashidiq.
Ke depan, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10-12% pada akhir tahun 2025, dengan menjaga likuiditas dan kinerja bisnis yang berkelanjutan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












