BankHeadlineKeuangan

Bank Ramai Tambah Modal, Peluang Investor Baru Terbuka Lebar

80
kualitas kredit perbankan membaik, bank mandiri, bca, bni kompres
Kualitas kredit perbankan Indonesia semakin membaik pada 2024. Bank Mandiri, BCA, dan BNI mencatat perbaikan NPL dan strategi mitigasi risiko yang kuat.

Bank Gencar Perkuat Permodalan dan Kepatuhan Free Float

JAKARTA, BursaNusantara.com – Sejumlah bank nasional sedang bersiap melakukan penguatan permodalan melalui berbagai skema, mulai dari pemenuhan aturan free float Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga aksi korporasi seperti rights issue.

Langkah ini sekaligus membuka jalan masuk bagi investor baru, baik domestik maupun asing.

Aturan BEI mewajibkan setiap emiten memiliki minimum free float sebesar 7,5% dari total saham yang beredar di publik. Meski demikian, masih ada sejumlah bank yang belum memenuhi ambang tersebut.

Bank Maspion dan JTrust Pacu Kepatuhan Free Float

PT Bank Maspion Indonesia Tbk (IDX:BMAS) menjadi salah satu bank yang belum memenuhi ketentuan ini. Free float BMAS tercatat hanya 1,56%, jauh di bawah batas minimum.

Sekretaris Perusahaan Bank Maspion, Iwan Djayawasita, menyatakan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan pemegang saham pengendali, Kasikorn Vision Financial Company Pte. Ltd., guna mengurangi porsi saham yang dimiliki.

Bank Maspion juga tengah menjajaki kerja sama dengan calon investor strategis dan saat ini dalam proses due diligence. Seluruh proses dijalankan dengan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara itu, PT Bank JTrust Indonesia Tbk (IDX:BCIC) mencatatkan free float sebesar 6,17%. Direktur Kepatuhan dan Corporate Legal JTrust Bank, Felix I. Hartadi, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan sejumlah investor, namun belum dapat mengungkapkan identitas mereka.

Direktur Keuangan JTrust Bank, Helmi A. Hidayat, menambahkan bahwa masuknya investor baru merupakan bagian dari strategi kuasi reorganisasi. Tujuannya adalah menghapus kerugian akumulasi dari periode sebelum akuisisi oleh JTrust Group.

Helmi menyatakan bahwa setelah proses rampung, bank berharap dapat mulai membagikan dividen pada tahun depan. Per Maret 2025, modal inti JTrust tercatat Rp 3,3 triliun dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 13,08%.

Bank Banten Siapkan Rights Issue PMHMETD VIII

Upaya memperkuat permodalan juga dilakukan oleh PT Bank Pembangunan Daerah Banten (Perseroda) Tbk (IDX:BEKS). Bank ini sedang bersiap menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) VIII.

Menurut prospektus yang dirilis di BEI pada 28 April 2025, BEKS akan menerbitkan saham baru senilai Rp 50 per saham. Jumlah ini setara dengan 17,97% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue.

Namun, harga pelaksanaan rights issue belum diumumkan. Sehingga, besaran dana yang akan dihimpun belum bisa ditentukan saat ini.

BEKS tercatat memiliki modal inti Rp 1,3 triliun per Maret 2025, dengan rasio CAR sebesar 42,40%. Rights issue menjadi opsi lanjutan untuk memperkuat struktur modal di tengah tingginya rasio kecukupan modal.

OJK Dorong Aksi Modal dan Free Float Bank

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau kondisi permodalan perbankan, khususnya bagi bank yang CAR-nya mendekati batas minimum 10%.

OJK meminta bank-bank tersebut segera melakukan penambahan modal, baik dari pemegang saham pengendali maupun melalui masuknya investor strategis. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas sektor perbankan nasional.

Selain itu, OJK juga mendorong agar bank-bank yang belum memenuhi ketentuan free float segera melakukan aksi korporasi. Alternatifnya antara lain adalah rights issue atau divestasi sebagian saham oleh pemegang saham pengendali.

Investor Asing Antusias Masuk Sektor Perbankan RI

Potensi masuknya investor baru turut menarik perhatian regulator. Menurut Dian, OJK terus menerima permohonan perizinan dari investor asing yang tertarik memperkuat permodalan bank nasional.

Minat investor asing terhadap sektor perbankan Indonesia dinilai masih tinggi. Contohnya adalah akuisisi saham Grup Lippo oleh Hanwha Group asal Korea di Nobubank.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penguatan modal dan kepatuhan terhadap ketentuan free float tak hanya menjadi keharusan regulasi, tetapi juga peluang besar untuk mendatangkan investasi jangka panjang ke industri perbankan nasional.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version