Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

BBCA Tertekan, Investasi Anthoni & Dwimuria Jadi Sorotan

120
×

BBCA Tertekan, Investasi Anthoni & Dwimuria Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
bbca tertekan, investasi anthoni & dwimuria jadi sorotan kompres
Saham BBCA melemah ke Rp8.975, dengan net sell Rp214 miliar. Anthoni Salim dan Dwimuria Investama tetap jadi pemain kunci di pasar modal.

Dinamika Pergerakan Saham BBCA

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pada perdagangan Jumat, 14 Februari 2025, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan tipis sebesar 0,28% dan ditutup pada level Rp8.975 per saham.

Dalam periode tersebut, tercatat transaksi sebanyak 116,27 juta lembar dengan frekuensi 23.400 kali dan nilai transaksi mencapai Rp1,04 triliun.

Sponsor
Iklan

Meskipun angka penurunan ini tampak kecil secara persentase, tekanan pasar semakin terasa dengan adanya net sell oleh investor asing yang mencapai Rp214 miliar pada hari itu.

Data menunjukkan bahwa selama satu bulan terakhir, aksi jual asing di saham BBCA mencapai Rp4,08 triliun, dan selama tiga bulan, saham BBCA anjlok sebesar 11,14%.

Analisis Riset MNC Sekuritas

MNC Sekuritas, melalui riset terbarunya, mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA. Namun, target harga saham BBCA diturunkan dari Rp12.400 menjadi Rp11.300.

Penurunan target harga ini disebabkan oleh revisi estimasi laba untuk tahun 2025 dan 2026 yang diperkirakan tumbuh sebesar 6% dan 8% secara berturut-turut.

Estimasi ini disesuaikan dengan kondisi pasar yang semakin ketat, terutama likuiditas perbankan, pelemahan daya beli, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

Penilaian terbaru ini menyiratkan bahwa, meskipun saham BBCA sedang mengalami tekanan, fundamental perusahaan tetap menarik dalam jangka panjang.

Peran Pemegang Saham Utama

Kepemilikan Anthoni Salim

Di antara pemegang saham BBCA, nama konglomerat Anthoni Salim masih tercatat sebagai salah satu pemain utama.

Berdasarkan data per 31 Desember 2024, Anthoni Salim menggenggam 855.239.635 lembar saham atau sekitar 0,69% dari total saham BBCA, menjadikannya pemegang saham nomor 6.

Meskipun jumlah saham yang dimilikinya tetap sama dibandingkan dengan data per 31 Januari 2024, posisi Anthoni Salim mengalami penurunan karena dilampaui oleh BBH Boston S/A GQG Partners Emerging Markets Equity Fund yang memiliki 873.752.230 lembar saham (0,71%).

Dengan asumsi harga saham BBCA pada 14 Februari 2025 di Rp8.975, nilai kepemilikan Anthoni Salim diperkirakan mencapai sekitar Rp7,67 triliun.

Dominasi Dwimuria Investama Andalan

Sementara itu, PT Dwimuria Investama Andalan masih mempertahankan posisi sebagai pemegang saham terbesar BBCA dengan menguasai 67.729.950.000 lembar saham atau 54,94% dari total saham.

Saham ini dimiliki oleh dua tokoh besar, yaitu Robert Budi Hartono (51%) dan Bambang Hartono (49%) yang merupakan pemilik Grup Djarum. Nilai total kepemilikan Dwimuria Investama atas saham BBCA diperkirakan mencapai sekitar Rp607,8 triliun.

Struktur kepemilikan ini menunjukkan stabilitas dan kekuatan finansial yang mendukung fundamental BBCA di pasar modal.

Implikasi dan Strategi Investasi

Tekanan Pasar dan Peluang Akumulasi

Meskipun saham BBCA mengalami tekanan dengan aksi jual oleh investor asing yang cukup besar, hal ini bisa menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham pada level harga yang lebih rendah.

Strategi “buy the dip” dinilai tepat ketika fundamental perusahaan masih kuat dan dukungan dari pemegang saham utama seperti Anthoni Salim dan Dwimuria Investama tetap terjaga.

Penurunan harga saham ke level Rp8.975 per saham memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh potensi apresiasi nilai saham ketika kondisi pasar membaik.

Prospek Pertumbuhan dan Target Harga

Revisi target harga dari Rp12.400 ke Rp11.300 oleh MNC Sekuritas mencerminkan estimasi konservatif di tengah kondisi pasar yang menantang. Meskipun demikian, proyeksi pertumbuhan laba untuk tahun 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 6% dan 8% menandakan bahwa BBCA memiliki potensi untuk pulih dan tumbuh secara berkelanjutan.

Investor disarankan untuk terus memantau pergerakan harga dan data fundamental yang berkaitan, seperti perkembangan daya beli masyarakat dan likuiditas perbankan, yang akan berdampak langsung pada kinerja saham BBCA di masa depan.

Risiko Eksternal dan Pengaruh Makro

Fluktuasi ekonomi global dan tekanan dari aksi jual investor asing merupakan risiko yang perlu diwaspadai. Selain itu, faktor-faktor eksternal seperti inflasi, kebijakan moneter The Fed, dan ketidakpastian geopolitik juga dapat mempengaruhi dinamika harga saham BBCA.

Oleh karena itu, strategi investasi harus disesuaikan dengan analisis risiko yang cermat dan pemantauan kondisi pasar secara berkala. Dengan pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor ini, investor dapat mengelola portofolio mereka dengan lebih efektif dan mengambil keputusan yang optimal.

Kesimpulan

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan tipis ke level Rp8.975 per saham pada 14 Februari 2025, didukung oleh transaksi sebesar 116,27 juta lembar dan nilai transaksi mencapai Rp1,04 triliun.

Tekanan pasar yang terlihat dari net sell Rp214 miliar hari itu dan penurunan nilai saham selama satu bulan serta tiga bulan terakhir menjadi tantangan tersendiri bagi BBCA.

Meski demikian, rekomendasi buy dari MNC Sekuritas menunjukkan bahwa fundamental BBCA masih kuat.

Dukungan signifikan datang dari pemegang saham utama, seperti Anthoni Salim yang memiliki 0,69% saham (nilai sekitar Rp7,67 triliun) dan dominasi dari Dwimuria Investama Andalan yang menguasai 54,94% saham dengan nilai mencapai Rp607,8 triliun.

Hal ini menandakan adanya kepercayaan kuat dari investor institusional terhadap kinerja jangka panjang perusahaan.

Bagi investor, kondisi pasar saat ini dapat menjadi peluang untuk mengakumulasi saham BBCA dengan strategi “buy the dip.” Walaupun ada risiko eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, potensi pemulihan fundamental BBCA tetap menjanjikan.

Dengan pemantauan yang cermat terhadap perkembangan pasar dan strategi investasi yang tepat, saham BBCA dapat memberikan keuntungan maksimal di masa mendatang.

Investasi yang dilakukan oleh para pemegang saham utama menunjukkan bahwa, meskipun saham mengalami tekanan, fundamental perusahaan tetap solid.

Langkah strategis untuk menjaga kestabilan harga dan meningkatkan likuiditas pasar diharapkan akan membantu BBCA pulih dari tekanan ini dan tumbuh kembali seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi global.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan