Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melonjak 4,40% ke level Rp4.030 pada perdagangan 17 Februari 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika pasar modal yang penuh fluktuasi dan diwarnai aktivitas perdagangan yang intens.
Pasar saham menunjukkan minat tinggi pada BBRI. Data terbaru mengungkapkan 265,74 juta saham BBRI ditransaksikan dengan frekuensi 48.832 kali. Nilai transaksi mencapai Rp1,06 triliun, mencerminkan partisipasi besar investor.
Volume dan Nilai Transaksi
Data Bloomberg menunjukkan volume perdagangan BBRI mencapai 265,74 juta saham. Frekuensi transaksi tercatat 48.832 kali, sedangkan nilai transaksi mencapai Rp1,06 triliun. Angka ini menunjukkan likuiditas tinggi dan minat investor yang kuat.
Pergerakan harga yang melonjak ke Rp4.030 juga didorong oleh volume perdagangan yang besar. Investor domestik dan asing sama-sama aktif berpartisipasi, mencerminkan optimisme pasar terhadap kinerja BBRI.
Net Buy oleh Broker
Beberapa broker besar turut mendukung pergerakan saham BBRI. UBS Sekuritas Indonesia mencatat net buy sebesar Rp195,1 miliar, sedangkan Mandiri Sekuritas membeli bersih Rp186,2 miliar. JP Morgan Sekuritas Indonesia juga mencatat net buy sebesar Rp116,1 miliar.
Investor asing mencatat net buy sebesar Rp372 miliar. Nilai transaksi pembelian asing ini menambah momentum positif yang mendorong kenaikan saham BBRI pada hari itu.
Analisis dan Rekomendasi Trading
CGS International Sekuritas dalam trading idea pada 18 Februari 2025 merekomendasikan BBRI dengan strategi spec buy. Mereka menetapkan support di level Rp3.940. Rekomendasi cut loss diberikan jika harga menembus di bawah level tersebut.
Menurut CGS, jika harga tidak break di bawah Rp3.940, potensi kenaikan saham BBRI dapat mencapai kisaran Rp4.120 hingga Rp4.210 dalam jangka pendek. Prediksi ini menunjukkan peluang trading yang menarik bagi para investor aktif.
Valuasi dan Dividen Menarik
RHB Sekuritas menilai valuasi BBRI terbilang menarik. Saat ini, estimasi price to book value (P/BV) untuk tahun 2026 mencapai 1,7 kali. Selain itu, rasio pembayaran dividen BBRI naik menjadi 85%, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pembagian keuntungan kepada pemegang saham.
BBRI telah membayar dividen interim sebesar Rp135 per saham. Diperkirakan dividen final akan mencapai sekitar Rp204 per saham, memberikan imbal hasil dividen sekitar 5%. Hal ini menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif.
Kinerja Keuangan Tahun 2024
Sepanjang tahun 2024, BBRI mencatat laba bersih sebesar Rp60,2 triliun. Namun, pertumbuhan laba terhambat karena pertumbuhan kredit hanya 7% yoy, jauh dari target 10-12%. Selain itu, biaya kredit (CoC) meningkat ke 3,23%, lebih tinggi dari panduan ≤3%.
Loan to deposit ratio (LDR) BBRI mencapai 99,21% pada Desember 2024, hampir tak berubah dari September 2024. Meski LDR tinggi, kondisi ini mencerminkan likuiditas yang ketat di sektor perbankan nasional.
Proyeksi dan Risiko
Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menyoroti bahwa likuiditas ketat di semester II-2024 kemungkinan akan berlanjut pada kuartal I-2025. BBRI menurunkan panduan margin bunga bersih (NIM) 2025 menjadi 7,3-7,7% dari 7,74% pada 2024.
Risiko utama terletak pada kenaikan biaya kredit (CoC) yang diproyeksikan mencapai 3,35%. Meskipun ekspansi kredit dan pertumbuhan pendapatan bunga bersih diharapkan tumbuh 11% yoy, kenaikan CoC menjadi faktor pembatas pertumbuhan laba BBRI.
Sentimen Pasar dan Harapan Investor
Fluktuasi saham BBRI dalam sepekan terakhir menunjukkan tren kenaikan sebesar 10,87%, namun dalam satu bulan, saham anjlok hingga 15%. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan kredit yang melambat dan tingginya biaya kredit.
Investor berharap bahwa strategi perbaikan internal, pengendalian risiko kredit, dan stabilisasi NIM dapat segera tercapai. RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga baru sebesar Rp5.400, meskipun revisi proyeksi laba menunjukkan pertumbuhan 8% yoy pada 2025.
Saham BBRI melonjak 4,40% ke level Rp4.030 pada 17 Februari 2025 didorong oleh volume perdagangan tinggi dan net buy signifikan dari broker domestik serta asing. Valuasi yang menarik, dengan P/BV 1,7 kali dan rasio dividen 85%, menambah daya tarik investasi.
Namun, kinerja keuangan BBRI tahun 2024 menunjukkan beberapa tantangan, seperti pertumbuhan kredit yang melambat dan biaya kredit yang meningkat. Penurunan margin bunga bersih dan potensi risiko kredit menuntut perbaikan strategi internal.
Para analis dan investor tetap optimis dengan target harga baru Rp5.400, meskipun proyeksi laba tumbuh lebih lambat. Keterbukaan informasi dan pengendalian risiko akan menjadi kunci pemulihan kepercayaan pasar.
Baca terus update dan analisis mendalam mengenai perkembangan pasar modal serta kinerja BBRI hanya di BursaNusantara.com, sumber terpercaya berita dan informasi ekonomi di Indonesia.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











