JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Central Asia Tbk (BCA/BBCA) mencatatkan laba bersih bank only sebesar Rp 8,97 triliun dalam dua bulan pertama 2025. Angka ini tumbuh 8,33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,28 triliun.
Pertumbuhan laba bersih BCA pada Februari 2025 juga lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencatat kenaikan 5,82% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 4,73 triliun. Kinerja positif ini didukung oleh pendapatan bunga yang mencapai Rp 14,87 triliun, naik 5,01% (yoy), sementara beban bunga menyusut 1,48% (yoy) menjadi Rp 1,99 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih perseroan mencapai Rp 12,88 triliun, tumbuh 6,18% (yoy).
Strategi Efisiensi Dorong Profitabilitas
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari strategi menjaga profitabilitas dengan efisiensi biaya dana (cost of fund).
“Tekan cost of fund dan jangan jor-joran kasih bunga kredit di bawah Surat Berharga Negara (SBN), nggak masuk akal,” ujar Jahja kepada Investor Daily, Senin (17/3/2025).
Pendekatan ini mendorong pertumbuhan kredit yang tetap tinggi meskipun bunga kredit tidak ditawarkan secara agresif. Kredit BCA per Februari 2025 mencapai Rp 900,66 triliun, tumbuh 13,98% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan Januari 2025 yang tumbuh 15,07% (yoy). Total aset BCA juga meningkat 4,3% (yoy) menjadi Rp 1.427,41 triliun.
Kebijakan Bunga Kredit yang Terukur
Pada ajang BCA Expoversary 2025, perseroan menegaskan bahwa mereka tidak menawarkan suku bunga terendah, melainkan bunga yang terjangkau dan sesuai dengan kemampuan nasabah. Jahja menekankan pentingnya transparansi dalam penetapan bunga kredit.
“Kami nggak mau menutup-nutupi, kami mau terbuka kepada nasabah, pilih yang terjangkau, artinya Anda punya kemampuan untuk membayar total cicilan sampai akhir,” kata Jahja.
Mulai 28 Februari 2025, suku bunga dasar kredit (SBDK) BCA ditetapkan sebagai berikut:
- Kredit korporasi: 7,89%
- Kredit ritel: 8,32%
- Kredit usaha kecil dan menengah: 8,35% – 8,38%
- Kredit pemilikan rumah/apartemen: 9,22%
- Kredit konsumer non-KPR/non-KPA: 6,42%
CASA dan Efisiensi Biaya Dana
Salah satu faktor utama di balik pertumbuhan laba BCA adalah upaya mendorong dana murah (current account saving account/CASA). Hingga Februari 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA mencapai Rp 1.117,68 triliun, naik 3,9% (yoy). Rinciannya:
- Giro: Rp 352,91 triliun (+6,22% yoy)
- Tabungan: Rp 568,6 triliun (+5,63% yoy)
- Deposito: Rp 196,17 triliun (-4,41% yoy)
Penurunan deposito ini meningkatkan porsi CASA BCA menjadi 82,85% dari total DPK, memungkinkan biaya dana tetap rendah. BCA dikenal sebagai bank dengan rasio CASA terbesar di Indonesia, memanfaatkan posisinya sebagai bank transaksional.
Tantangan Likuiditas dan Persaingan dengan SBN Ritel
BCA mengakui bahwa migrasi dana simpanan ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel menjadi tantangan. Namun, sebagai agen penjual SBN, BCA tetap mendapatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Jahja menyebut bahwa meskipun ada kanibalisasi hingga 30-40% dari dana DPK ke SBN, likuiditas BCA tetap terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 77-78%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan yang mencapai 87,64%.
Proyeksi Kinerja 2025
BCA menargetkan pertumbuhan kredit konservatif sebesar 6-8% (yoy) tahun ini. Namun, Direktur BCA Haryanto T. Budiman menyatakan bahwa realisasi akhir tahun bisa lebih tinggi, bergantung pada kondisi pasar.
“Kami optimis, tapi tetap harus waspada. Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti daya beli masyarakat dan kebijakan suku bunga,” ujar Jahja.
Dalam hal profitabilitas, BCA memasang target:
- Return on asset (ROA): 3,6-3,8%
- Return on equity (ROE): 21-23%
- Cost to income ratio (CIR): 33-34%
Dengan momentum Idulfitri mendekat, BCA optimistis pencairan kredit akan meningkat, terutama untuk modal kerja korporasi dan UMKM.
“Biasanya, menjelang Lebaran, pencairan modal kerja meningkat. Oleh karena itu, pertumbuhan kredit di kuartal pertama kami perkirakan tetap baik,” ujar Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim.
Meski menghadapi tantangan eksternal, BCA tetap optimistis menjaga pertumbuhan berkelanjutan dengan strategi efisiensi, peningkatan CASA, dan pengelolaan risiko yang prudent.












