JAKARTA, BursaNusantara.com – Rasio Return on Equity (RoE) perbankan Indonesia menunjukkan tren melemah di kuartal I-2025. Dari deretan bank besar, hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencatatkan pertumbuhan rasio profitabilitas ini, sementara mayoritas bank lain justru mengalami koreksi.
RoE menjadi tolok ukur penting bagi pemegang saham dan calon investor dalam menilai kemampuan bank menghasilkan laba dari modal sendiri. Indikator ini juga sering digunakan untuk mempertimbangkan potensi dividen di masa mendatang.
BBCA Tangguh di Tengah Koreksi Industri
Di tengah tren negatif tersebut, BCA tampil sebagai pengecualian. Bank swasta terbesar di Indonesia itu mencatat kenaikan RoE dari 22,70% pada kuartal I-2024 menjadi 26,20% di kuartal I-2025.
Baca Juga: Kinerja ROE Bank: BBCA Unggul, Penurunan Sebagian Besar Bank
Pertumbuhan ini selaras dengan penyaluran kredit BCA yang meningkat 9,8% YoY menjadi Rp 14,1 triliun. Menurut EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, keberhasilan ini ditopang oleh ekspansi kredit yang berkualitas tinggi serta pengendalian biaya operasional yang semakin efisien.
Efisiensi tersebut terefleksi dari penurunan rasio BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) dari 43,92% menjadi hanya 39,11% di kuartal I-2025.
“Selaras dengan prospek perekonomian Indonesia yang positif, kami optimistis dapat menjaga pertumbuhan profitabilitas, sehingga RoE BCA tetap stabil,” jelas Hera.
Baca Juga: Cuma Satu yang Tetap Jadi Saham Bank Pilihan Utama pada 2025
Bank BUMN Melemah, RoE Tergerus
Berbeda dengan BCA, tiga bank besar lainnya di kelompok KBMI 4 menunjukkan penurunan RoE.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat RoE sebesar 17,20%, turun dari 20,20%. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terkoreksi menjadi 18,90% dari sebelumnya 19,70%.
Sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun dari 14,50% menjadi 13,30%.
Bank KBMI 3 Tak Luput dari Tekanan
Bank di kategori KBMI 3 pun tidak luput dari tekanan. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melaporkan RoE sebesar 12,49%, sedikit menurun dari 12,67% pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Bos BRI: Meski Saham Turun, Fundamental Solid dan Dividen Stabil
Namun Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menilai angka tersebut justru menunjukkan perbaikan dibandingkan akhir tahun 2024 yang berada di angka 10,8%.
“RoE kita di kuartal I 2025 ini malah lebih bagus dibanding akhir 2024, udah membaik,” ujarnya.
Setiyo menargetkan RoE BTN dapat mencapai 13% hingga 14% tahun ini melalui strategi penguatan dana murah dari segmen ritel, optimalisasi layanan digital, serta efisiensi biaya melalui otomatisasi proses.
CIMB Niaga Fokus Stabilkan Kinerja
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) turut mencatatkan koreksi tipis RoE dari 14,40% menjadi 14% di kuartal I-2025. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya Capital Adequacy Ratio (CAR) ke level 24,8%, serta perhitungan dividen yang memengaruhi hasil akhir.
Baca Juga: BBNI Alihkan Saham Buyback ke Direksi dan Komisaris
Namun, pihaknya tetap menargetkan stabilisasi RoE di kisaran 14%–15% pada 2025.
Faktor Tekanan RoE Menurut Analis
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai penurunan RoE perbankan disebabkan oleh beragam tekanan fundamental.
Beberapa bank diketahui memperbesar Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi peningkatan kredit bermasalah (NPL), yang otomatis menggerus laba bersih.
Tekanan lain datang dari sisi Net Interest Margin (NIM) yang tertekan akibat tingginya biaya dana, sementara suku bunga kredit tidak cukup naik untuk mengimbangi.
Baca Juga: Laba Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 6,01% di Februari 2025
Menurut Ekky, kondisi permintaan kredit juga mengalami perlambatan akibat penurunan daya beli masyarakat dan ketatnya likuiditas di pasar.
Hal ini membuat masyarakat cenderung menunda konsumsi besar, berdampak pada pertumbuhan kredit yang stagnan dan menurunkan pendapatan bunga bank.
Prospek 2025: Stabilisasi Jadi Prioritas
Menghadapi situasi yang belum sepenuhnya pulih, Ekky menyebutkan bahwa fokus bank tahun ini bukan pada ekspansi agresif, melainkan menjaga kualitas aset dan mempertahankan kestabilan operasional.
Ketidakpastian geopolitik global dan melemahnya konsumsi domestik menjadi pertimbangan utama perbankan dalam menyalurkan kredit secara selektif.
Valuasi Saham Bank Dianggap Menarik
Meski tekanan terlihat pada fundamental keuangan, sisi pasar modal justru menunjukkan sinyal positif. Harga saham bank-bank besar saat ini dinilai sudah cukup mencerminkan kondisi kinerja yang melemah.
Ekky menyatakan bahwa secara teknikal, saham sektor perbankan memiliki potensi untuk rebound dalam jangka pendek, meskipun mungkin belum mencapai level tertinggi baru.
Dengan kondisi pasar yang mulai melandai dan strategi konservatif yang dijalankan bank, investor kini mulai melirik kembali saham-saham bank yang valuasinya dianggap cukup atraktif untuk jangka menengah.







