BCA Pertegas Dominasi dengan Laba Tertinggi dan Kredit Agresif
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengukuhkan diri sebagai bank paling agresif dan menguntungkan di Indonesia sepanjang paruh pertama 2025.
Tak hanya membukukan kredit konsolidasi hingga Rp959 triliun atau tumbuh 12,9% yoy, BCA juga mencatatkan laba bersih jumbo Rp29,02 triliun, naik 7,96% dibanding tahun lalu.
Pencapaian ini membuat manajemen BCA mantap tidak mengubah Rencana Bisnis Bank (RBB), dengan alasan seluruh indikator telah berjalan sesuai jalur yang ditargetkan.
Di tengah tren sektor perbankan yang cenderung menahan ekspansi, keputusan BCA ini menjadi sinyal kuat ke pasar bahwa bank swasta terbesar ini tetap menjadi benchmark pertumbuhan dan efisiensi.
Pertumbuhan Kredit BCA Melampaui Industri
Kredit konsolidasi BCA tumbuh jauh di atas rata-rata industri yang hanya naik 7,77% yoy per Juni 2025.
Segmen korporasi menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp451,8 triliun, naik signifikan 16,1% yoy, menunjukkan keyakinan sektor riil terhadap pembiayaan jangka panjang dari BCA.
Kredit komersial dan UKM masing-masing tumbuh 12,6% dan 11,1%, memperlihatkan keseimbangan antara ekspansi korporasi dan segmen menengah.
Sementara kredit konsumer turut menopang pertumbuhan, dengan peningkatan 7,6% yoy menjadi Rp226,4 triliun, utamanya dari KPR dan KKB.
Komposisi kredit yang merata di berbagai segmen membuat portofolio pembiayaan BCA solid dan relatif tahan terhadap volatilitas eksternal.
Laba Bersih dan Pendapatan BCA Tumbuh Konsisten
Kenaikan laba bersih hingga Rp29,02 triliun sebagian besar ditopang oleh pendapatan bunga bersih (NII) sebesar Rp42,5 triliun, tumbuh 7% yoy.
Pendapatan non bunga juga naik 10,6% menjadi Rp13,7 triliun, menandakan kuatnya diversifikasi bisnis BCA di tengah tekanan sektor keuangan.
Yang menarik, di saat industri mengalami penurunan net interest margin (NIM), BCA justru membukukan kenaikan dari 5,7% menjadi 5,8%.
Ini mempertegas posisi BCA sebagai bank dengan pricing power tinggi dan efisiensi biaya pendanaan yang unggul.
Meski cost of credit naik tipis dari 0,3% menjadi 0,5%, kualitas aset tetap terkendali, membuktikan manajemen risiko yang adaptif dan konservatif.
Strategi Tanpa Revisi RBB: Kepercayaan Diri atau Risiko Terselubung?
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, secara tegas menyatakan tidak ada revisi pada RBB 2025, dan target kredit tetap di kisaran 6-8%.
Keputusan ini menunjukkan kepercayaan penuh terhadap ketahanan operasional BCA di tengah tantangan eksternal seperti proteksionisme AS dan gejolak geopolitik.
Namun, di sisi lain, sikap ini juga membuka ruang pertanyaan: apakah optimisme ini didasari kalkulasi konservatif atau ekspektasi stimulus fiskal yang belum pasti terealisasi?
Meski begitu, Hendra menegaskan BCA terus menjaga komunikasi erat dengan nasabah eksportir-impor dan siap menjadi mitra strategis di tengah ketidakpastian global.
Fokus BCA tahun ini tetap pada penguatan produk dan layanan digital sebagai pilar pertumbuhan jangka panjang.
Prospek Semester II: Momentum Ekspansi atau Uji Ketahanan?
Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, melihat semester II akan menjadi periode penting untuk ekspansi pembiayaan seiring membaiknya likuiditas sistem perbankan.
Faktor pendukung lainnya adalah potensi stimulus fiskal dan proyek pemerintah yang mulai berjalan, yang diyakini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
John menambahkan, kebijakan Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan turut menciptakan ruang pelonggaran likuiditas.
Secara makro, kondisi ini ideal untuk mendukung akselerasi penyaluran kredit, khususnya di sektor produktif dan konsumer.
Namun BCA tetap akan mengedepankan prinsip kehati-hatian mengingat tekanan dari sektor eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Likuiditas dan Kualitas Aset Tetap Terjaga
Total dana pihak ketiga (DPK) BCA naik 5,7% yoy menjadi Rp1.190 triliun, dengan rasio CASA sebesar 82,5%, yang merupakan struktur pendanaan paling murah dan stabil di industri.
Pertumbuhan CASA sebesar 7,3% menjadi Rp982 triliun menjadi cermin kepercayaan nasabah terhadap sistem layanan BCA yang unggul.
Dengan LDR berada di level 78%, likuiditas BCA tergolong longgar meskipun naik dari tahun lalu di angka 72,7%.
Rasio loan at risk (LAR) turun ke 5,7% dari 6,4%, dan NPL stabil di 2,2%, mengindikasikan kualitas pinjaman yang solid meski ekspansi dilakukan secara agresif.
Pencadangan terhadap NPL dan LAR masing-masing 167,2% dan 68,7%, mempertegas kesiapan BCA menghadapi potensi risiko kredit.
Total aset bank bersandi saham BBCA ini menyentuh Rp1.504 triliun, naik 5,5% yoy, memperkuat posisi BCA sebagai pemimpin absolut di sektor perbankan nasional.
Narasi Baru: BCA Sebagai Sinyal Pemulihan Ekonomi?
Melihat capaian dan strategi BCA, dapat disimpulkan bahwa perbankan swasta ini bukan sekadar mengikuti tren pemulihan, tetapi justru menjadi arsitek utama pertumbuhan ekonomi.
Ketika mayoritas bank memilih konservatif, BCA tampil sebagai institusi yang percaya diri menghadapi kompleksitas global dengan manajemen risiko modern dan penguasaan pasar yang solid.
Dalam konteks kebijakan fiskal dan moneter yang mulai sinkron, peran BCA ke depan akan makin strategis sebagai penggerak pembiayaan sektor riil dan penjaga stabilitas perbankan nasional.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











