PasarSaham

BEI Buka Suspensi Saham DCII, Emiten Data Center Termahal Bangkit Lagi

170
BEI Buka Suspensi Saham DCII, Emiten Data Center Termahal Bangkit Lagi
Saham DCII kembali diperdagangkan per 6 Agustus 2025 usai suspensi 13 hari. Saham emiten data center milik Otto Toto Sugiri ini mencatat kenaikan 74.911% sejak IPO.

DCII Bangkit dari Suspensi, Saham Sultan Kembali Menggema

JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII), emiten data center legendaris dengan label saham termahal di Bursa Efek Indonesia (BEI), akhirnya kembali melantai di pasar reguler setelah resmi keluar dari suspensi sejak Rabu (6/8/2025).

Langkah otoritas bursa ini mengakhiri masa penghentian perdagangan yang berlangsung sejak 24 Juli 2025, atau selama 13 hari bursa.

BEI menyatakan keputusan ini sebagai tindak lanjut dari evaluasi terhadap dinamika harga saham DCII yang melonjak ekstrem, di mana suspensi diterapkan sebagai tindakan preventif demi menjaga perlindungan investor.

Saham DCII diketahui melonjak drastis hingga menyentuh auto reject atas (ARA) sebesar 19,99% ke harga Rp 346.725 hanya sehari sebelum suspensi diberlakukan.

Dalam sebulan terakhir saja, saham ini telah terbang 130,31%, memperkuat reputasinya sebagai aset saham paling fenomenal yang mencerminkan optimisme investor terhadap sektor infrastruktur digital.

Saham Termahal di BEI, Kapitalisasi DCII Hampir Sentuh Rp 830 Triliun

Harga saham DCII yang terus melambung mempertegas posisinya sebagai saham dengan nominal harga tertinggi di BEI, sekaligus salah satu yang paling eksklusif dari sisi kepemilikan.

Dengan harga terakhir sebelum suspensi di Rp 346.725 per lembar, kapitalisasi pasar DCII kini menembus Rp 826,5 triliun, menyaingi bahkan melampaui nilai emiten-emiten perbankan papan atas.

Kapitalisasi jumbo tersebut mencerminkan antusiasme investor terhadap prospek sektor data center yang dinilai krusial dalam era transformasi digital dan adopsi cloud secara masif di Indonesia.

Sejak resmi melantai di bursa pada 6 Januari 2021, saham DCII telah mencatatkan kenaikan harga fantastis hingga 74.911% dari harga IPO-nya di Rp 420 per saham.

Bagi investor awal yang menahan saham ini selama 4,5 tahun, pertumbuhan nilainya nyaris menyentuh 82.453% jika dihitung dari titik tertinggi sebelum suspensi.

Dari IPO Sunyi ke Kasta Sultan: Evolusi Pemegang Saham DCII

Saat pertama kali melantai di bursa, DCII hampir sepenuhnya dikendalikan oleh DCI International Holding Pte Ltd dengan kepemilikan mencapai 99,996%.

Namun seiring berjalannya waktu dan dinamika pasar, struktur kepemilikan saham DCII pun mengalami pergeseran besar yang membawa figur-figur penting masuk ke dalam daftar pemegang saham utama.

Otto Toto Sugiri kini menjadi pemegang saham terbesar secara langsung dengan porsi 29,9%, diikuti oleh Marina Budiman sebesar 22,51%, dan Han Arming Hanafia dengan 14,11%.

Nama taipan Anthoni Salim turut masuk dalam barisan investor strategis, memegang 11,12% saham DCII, menambah lapisan kredibilitas terhadap prospek jangka panjang emiten ini.

Sementara publik hanya menguasai 22,36% saham, menjadikan DCII sebagai saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan minoritas publik yang sangat terbatas.

Saham Elit yang Tak untuk Semua: Hanya 773 Pemegang Saham per Juni

DCII bukan hanya saham dengan harga tertinggi, tapi juga salah satu yang paling eksklusif dari sisi distribusi kepemilikan.

Data per 30 Juni 2025 menunjukkan jumlah pemegang saham DCII hanya 773 entitas, mencerminkan karakteristik saham dengan likuiditas terbatas namun nilai tinggi.

Kondisi ini membuat saham DCII rentan terhadap lonjakan harga ekstrem karena ketersediaan lot di pasar relatif sempit, memicu respons otomatis dari bursa seperti suspensi.

Investor yang menaruh dana di saham ini bukan hanya memburu cuan, tetapi juga memandang DCII sebagai aset strategis dalam portofolio berbasis pertumbuhan sektor digital.

DCII telah menjelma menjadi simbol transformasi digital nasional, dan kekuatan naratif ini menjadi pendorong psikologis yang mempengaruhi dinamika harganya di bursa.

Prospek Pasca-Suspensi: Risiko Tinggi, Ekspektasi Tinggi

Dengan suspensi yang telah dicabut, saham DCII kembali menghadapi sorotan tajam dari pelaku pasar, baik dari sisi regulasi maupun ekspektasi fundamental.

Di satu sisi, kenaikan harga yang tajam berpotensi menarik aksi ambil untung dalam waktu dekat, terutama dari investor yang telah menikmati lonjakan besar selama 30 hari terakhir.

Namun di sisi lain, optimisme terhadap masa depan industri data center tetap menjadi bahan bakar utama bagi investor yang melihat DCII sebagai pionir infrastruktur digital jangka panjang.

Kombinasi antara eksklusivitas, potensi pertumbuhan, dan dukungan investor strategis menjadikan DCII tetap menarik, meski tidak cocok bagi semua profil risiko.

Pasar kini menunggu arah baru harga saham DCII pasca suspensi, sekaligus mencermati apakah euforia digital ini mampu bertahan atau justru menguji ketahanan fundamental perusahaan ke depan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version