Ekonomi Makro

BI Optimalkan Operasi Moneter Pro-Market

215
BI Optimalkan Operasi Moneter Pro-Market
BI optimalkan strategi pro-market: beli SBN Rp32,46 triliun, terbitkan SRBI & SVBI, dorong modal asing untuk stabilitas rupiah dan inflasi.

Strategi Pro-Market yang Diterapkan BI

Pembelian SBN dari Pasar Sekunder

JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan strategi operasi moneter pro-market untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian target inflasi.

Dalam upaya ini, BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp32,46 triliun per 17 Februari 2025 dari pasar sekunder. Langkah ini tidak hanya memperkuat operasi moneter, tetapi juga menyinergikan kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal pemerintah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, “Pembelian SBN ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter, serta mendukung pendalaman pasar uang dan pasar valas.”

Penerbitan SRBI dan Instrumen Valas

Selain pembelian SBN, BI juga menggunakan instrumen keuangan lain untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah menghadirkan modal asing sebesar Rp892,9 triliun ke dalam pasar.

Penerbitan SRBI, yang dilakukan dalam rangka implementasi dealer utama (primary dealer) sejak Mei 2024, meningkatkan transaksi di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar.

Selain itu, BI menggunakan instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) untuk menambah aliran modal asing, dengan masing-masing telah mendorong aliran modal sebesar US$3,03 miliar dan US$587 juta ke pasar keuangan dalam negeri.

Kolaborasi Kebijakan Fiskal dan Moneternya

Perry Warjiyo menjelaskan bahwa strategi operasi moneter pro-market juga merupakan bagian dari upaya konsolidasi kebijakan fiskal dan moneter.

BI berkoordinasi erat dengan pemerintah untuk memastikan bahwa pembelian SBN dan penerbitan instrumen keuangan lainnya berjalan seiring dengan kebijakan fiskal.

Sinergi ini diharapkan tidak hanya mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, tetapi juga mendorong aliran masuk modal asing untuk mendukung stabilitas ekonomi.

“Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, kami memastikan bahwa operasi moneter dapat meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan dan mencapai sasaran inflasi serta stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers pada Rabu (19/2/2025).

Analisis dan Potensi Dampak Kebijakan

Potensi Peningkatan Inflasi dan Pengendalian

Meskipun strategi pembelian SBN dan penerbitan SRBI bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar dan inflasi, ada potensi bahwa kebijakan ini juga dapat menambah jumlah peredaran uang beredar.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan bahwa peningkatan jumlah uang beredar, meskipun dalam kerangka kebijakan konsolidasi fiskal dan moneter, secara teoritis bisa memicu tekanan inflasi.

Namun, ia menekankan bahwa inflasi tidak semata-mata dipengaruhi oleh jumlah uang beredar, melainkan juga oleh faktor-faktor lain seperti distribusi barang yang terganggu.

Oleh karena itu, BI dan pemerintah harus cermat memonitor indikator inflasi untuk menghindari masalah baru yang mungkin timbul dari kebijakan ini.

Komunikasi Tujuan dan Kepercayaan Investor

Koordinator Analis Laboratorium Indonesia 45, Reyhan Noor, menyatakan pentingnya BI mengkomunikasikan dengan jelas tujuan dari pembelian SBN di pasar primer dan sekunder.

Menurutnya, transparansi dalam komunikasi strategi ini akan menjaga kepercayaan investor terhadap independensi BI dan mencegah persepsi adanya intervensi fiskal yang berlebihan.

BI harus memastikan bahwa surat utang yang dibeli sesuai dengan portofolio, sehingga tidak mengurangi kemampuan BI untuk melakukan operasi moneter sesuai mandatnya,” pungkas Reyhan.

Kejelasan komunikasi ini juga akan membantu pasar dalam memahami langkah-langkah konsolidasi kebijakan yang sedang dijalankan.

Implikasi Jangka Panjang pada Stabilitas Ekonomi

Strategi operasi moneter pro-market yang diterapkan BI memiliki implikasi jangka panjang bagi stabilitas ekonomi Indonesia.

Dengan memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui pembelian SBN dan penggunaan instrumen valas seperti SVBI dan SUVBI, BI diharapkan dapat mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Lebih jauh, kebijakan ini juga berperan dalam mendorong masuknya modal asing ke dalam negeri, yang merupakan faktor penting untuk pendanaan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, pelaksanaan kebijakan ini harus tetap mempertimbangkan sentimen pasar agar tidak menimbulkan volatilitas yang tidak diinginkan.

Langkah Konsolidasi dan Prospek Masa Depan

Pendapat Ahli dan Strategi Konsolidasi

Menurut Yusuf Rendy Manilet, keterlibatan BI dalam pembelian surat utang pemerintah merupakan bagian dari langkah konsolidasi kebijakan fiskal dan moneter.

Ia menyarankan bahwa BI harus terus mengamati konsekuensi kebijakan ini, terutama dampaknya terhadap inflasi dan stabilitas pasar keuangan.

Manilet menambahkan, “Kebijakan ini harus dijadikan acuan untuk kebijakan berikutnya, terutama mengenai peran BI dalam membeli surat utang di pasar primer dan sekunder.”

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu BI mengoptimalkan operasi moneter tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan, seperti tekanan inflasi yang tidak terkendali.

Harapan untuk Penguatan Operasi Moneter

Gubernur BI Perry Warjiyo optimis bahwa strategi operasi moneter pro-market yang terus diperkuat akan membawa dampak positif dalam jangka panjang.

Dengan koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal, BI yakin dapat mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta mendorong aliran masuk modal asing ke dalam negeri.

“Kebijakan ini akan menjadi landasan untuk stabilisasi nilai tukar dan pencapaian sasaran inflasi, sehingga ekonomi dapat didorong tanpa mengorbankan kestabilan indikator ekonomi utama,” tegas Perry.

Strategi operasi moneter pro-market yang diterapkan BI melalui pembelian SBN senilai Rp32,46 triliun dan penerbitan instrumen seperti SRBI, SVBI, dan SUVBI menunjukkan upaya konsolidasi kebijakan fiskal dan moneter yang komprehensif.

Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan, mempercepat pendalaman pasar uang dan valas, serta mendorong aliran modal asing guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian target inflasi.

Meskipun ada potensi peningkatan jumlah peredaran uang yang dapat menekan inflasi, BI berkomitmen untuk mengkomunikasikan tujuan kebijakan dengan jelas kepada investor dan menjaga kinerja portofolionya.

Pendapat para ahli menegaskan bahwa strategi ini, jika dilaksanakan dengan tepat, dapat menjadi acuan bagi kebijakan berikutnya, sekaligus memberikan landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional tanpa mengorbankan stabilitas pasar.

Dengan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal yang terintegrasi, BI optimalkan peranannya dalam mengelola ekonomi di tengah dinamika global dan menjaga kepercayaan pasar keuangan domestik.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version