Geser Kebawah
BankHeadlineKeuangan

BI Tahan Suku Bunga 5,75% Demi Stabilitas Rupiah

105
×

BI Tahan Suku Bunga 5,75% Demi Stabilitas Rupiah

Sebarkan artikel ini
BI Tahan Suku Bunga 575 Demi Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia kembali menahan suku bunga di level 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 5,75% dalam rapat bulanan Maret ini. Keputusan ini menjadi bulan kedua berturut-turut BI menahan suku bunga demi menjaga stabilitas rupiah di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

BI Pertahankan Suku Bunga di 5,75%

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Brian Lee Shun Rong, dalam risetnya pada 19 Maret 2025, menyatakan bahwa pihaknya sebelumnya memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps guna mendukung perekonomian yang sedang melemah. Namun, aksi jual besar-besaran di pasar saham kemungkinan besar menjadi faktor utama BI menahan diri dari pemangkasan.

Sponsor
Iklan

“BI khawatir terhadap potensi arus keluar rupiah yang lebih besar serta volatilitas yang meningkat di tengah ketidakpercayaan pasar,” ujar Brian.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan BI

BI menyoroti berbagai faktor eksternal dan domestik yang mempengaruhi keputusan ini, termasuk:

Ketidakpastian Global

  • Ekspansi tarif impor AS yang dapat berdampak pada arus modal global.
  • Proyeksi bahwa The Federal Reserve (Fed) hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang 2025.

Stabilitas Rupiah dan Inflasi

  • Bank Indonesia memperkirakan inflasi akan tetap dalam kisaran 1,5%-3,5%.
  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi tetap di angka 4,7%-5,5%.
  • Intervensi pasar oleh BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Likuiditas dan Pertumbuhan Kredit

Pertumbuhan kredit pada Februari 2025 tercatat tetap stabil di angka 10,3%. Selain itu, BI mengumumkan bahwa insentif likuiditas makroprudensial (KLM) akan ditingkatkan mulai 1 April 2025, dengan pengurangan rasio cadangan wajib minimum (RRR) hingga 500 bps untuk sektor-sektor prioritas.

Namun, tidak ada perubahan kebijakan KLM lebih lanjut dalam pengumuman BI bulan ini. Selain itu, cadangan devisa Indonesia menurun sedikit menjadi US$ 154,5 miliar pada akhir Februari dari sebelumnya US$ 156,1 miliar pada Januari. Hal ini menunjukkan bahwa BI melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas rupiah.

Prospek Kebijakan BI ke Depan

Maybank Sekuritas masih mempertahankan proyeksi bahwa BI akan memangkas suku bunga sebesar 50 bps tahun ini, dengan target 5,25% pada akhir 2025. Brian menyatakan bahwa BI tetap memiliki bias pelonggaran kebijakan, meskipun pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sedikit melambat.

“Kami baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 5% untuk 2025 dari sebelumnya 5,2% dan menjadi 5,1% untuk 2026 dari sebelumnya 5,3%,” ungkap Brian.

Namun, dengan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global dan domestik, BI kemungkinan besar tidak akan melakukan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Dampak Terhadap Rupiah dan Pasar Keuangan

Rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 2,4% terhadap dolar AS sejak awal tahun 2025, tertinggal dibandingkan mata uang pasar berkembang lainnya. Dengan rencana ekspansi tarif sektor oleh Donald Trump pada April mendatang, volatilitas dolar AS diperkirakan akan tetap tinggi.

Brian menilai bahwa BI masih berpotensi menurunkan suku bunga 25 bps pada kuartal kedua jika kondisi rupiah memungkinkan. Namun, sentimen tarif dan pertumbuhan ekonomi AS yang melambat kemungkinan akan terus menjadi faktor penentu kebijakan moneter BI sepanjang tahun ini.

“Tim FX kami memperkirakan nilai tukar USD/IDR akan berada di kisaran 16.500 pada akhir 2025,” tambah Brian.

Dengan mempertahankan kebijakan suku bunga yang stabil, BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan momentum pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru