Geser Kebawah
KriptoPasar

Bitcoin Melemah di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga AS

116
×

Bitcoin Melemah di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga AS

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Melemah di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga AS
Bitcoin melemah akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga AS. Pasar kripto turun, imbal hasil obligasi global melonjak, investor waspada.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar kripto mengalami pelemahan dalam 24 jam terakhir, dipicu oleh kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang kembali menghantui investor.

Bitcoin (BTC), sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, mengalami koreksi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sponsor
Iklan

Kapitalisasi Pasar Kripto Melemah

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Jumat (7/3/2025) pukul 06.15 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 0,29% menjadi US$ 2,96 triliun dalam 24 jam terakhir. Bitcoin (BTC) melemah 0,08% dan saat ini diperdagangkan di level US$ 90.455 per koin atau setara Rp 1,47 miliar (kurs Rp 16.330).

Ethereum (ETH) juga mengalami penurunan sebesar 1,26% ke level US$ 2.208 per koin, sementara Binance Coin (BNB) justru naik tipis 0,03% menjadi US$ 597 per koin.

Pengaruh Kebijakan Tarif dan Suku Bunga

Dikutip dari CoinDesk, faktor utama yang menekan pasar kripto bukan lagi ketidakpastian tarif, melainkan lonjakan suku bunga global. Pada perdagangan Kamis (6/3/2025), pasar saham AS sempat menguat setelah Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengumumkan bahwa Meksiko akan dibebaskan dari tarif 25% untuk barang dan jasa dalam perjanjian dagang sebelumnya.

Pengumuman ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Donald Trump melalui media sosial, memberikan sentimen positif sesaat bagi pasar.

Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama. Indeks Nasdaq anjlok hingga 2,3% pada sesi siang, sementara Bitcoin turun ke US$ 88.500, mencatat pelemahan hampir 1% dalam 24 jam terakhir.

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Global

Di tengah dinamika kebijakan ekonomi, lonjakan imbal hasil obligasi global menjadi perhatian utama investor. Jerman mencatat salah satu kejatuhan pasar obligasi terburuk dalam sejarah, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun (Bund) melonjak lebih dari 40 basis poin ke level 2,83%.

Jepang juga mengalami lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun (JGB) sebesar 6 basis poin menjadi 1,51%, lebih dari dua kali lipat dibanding enam bulan lalu.

Pasar AS turut terdampak, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun AS melonjak lebih dari 20 basis poin dalam 48 jam terakhir menjadi 4,30%. Quinn Thompson dari Lekker Capital menilai lonjakan imbal hasil ini sebagai indikasi potensi stagflasi yang dapat berdampak negatif pada aset berisiko seperti kripto.

Data Ketenagakerjaan AS Jadi Fokus Investor

Investor kini menantikan rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan pada Jumat (8/3/2025). Ekonom memperkirakan Nonfarm Payrolls AS bertambah 160 ribu pekerjaan pada Februari, naik dari 143 ribu pada Januari. Sementara itu, tingkat pengangguran diprediksi tetap stabil di 4%.

Jika angka ketenagakerjaan lebih tinggi dari perkiraan, suku bunga kemungkinan akan naik lebih tinggi lagi, yang dapat semakin menekan pasar saham dan aset kripto. Dalam kondisi ini, Bitcoin dan altcoin lainnya berpotensi mengalami volatilitas yang lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.