Geser Kebawah
KriptoPasar

Bitcoin Tahan Gejolak, Emas Tertekan di Tengah Ketidakpastian

338
×

Bitcoin Tahan Gejolak, Emas Tertekan di Tengah Ketidakpastian

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Tahan Gejolak, Emas Tertekan di Tengah Ketidakpastian
Bitcoin bertahan di US$ 104.000 meski konflik Iran-Israel memanas dan The Fed pertahankan suku bunga tinggi, sementara harga emas justru melemah.

Bitcoin Semakin Tangguh Saat Ketegangan Global Meningkat

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Israel serta sikap hawkish The Fed yang menahan suku bunga tetap tinggi, harga Bitcoin justru menunjukkan ketahanan luar biasa.

Bitcoin (BTC) bertahan di kisaran US$ 104.000 meski pasar modal global seperti Nasdaq melemah akibat kekhawatiran inflasi dan ketegangan politik.

Sponsor
Iklan

Pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang mendukung serangan ke fasilitas nuklir Iran membuat risiko geopolitik melonjak.

Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar mencari instrumen alternatif yang tahan terhadap guncangan makroekonomi.

Namun, tidak seperti biasanya, emas justru gagal menjadi pelindung nilai dan turun 2,5% dalam sepekan terakhir.

Harga emas tergelincir dari US$ 3.420 pada 13 Juni 2025 menjadi US$ 3.335 per 20 Juni 2025.

Penurunan ini terjadi setelah The Fed menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga akan berlangsung sangat hati-hati hingga 2027.

Ketua The Fed Jerome Powell menyebut inflasi masih bisa meningkat sehingga ruang pelonggaran sangat terbatas.

Hal ini menekan minat investor terhadap aset logam mulia yang sebelumnya dianggap aman saat risiko global meningkat.

Bitcoin Mulai Dilirik Sebagai Aset Strategis

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyatakan bahwa kekuatan Bitcoin di tengah tekanan makroekonomi adalah cerminan perubahan pandangan pasar global.

Ia menyebut bahwa Bitcoin bukan lagi semata-mata instrumen spekulatif, melainkan kini mulai dianggap sebagai poros strategi aset jangka panjang.

Menurutnya, aset kripto seperti Bitcoin semakin dianggap relevan dalam kondisi geopolitik dan moneter yang tidak menentu.

Antony menyatakan bahwa karakteristik Bitcoin yang tidak dikendalikan oleh otoritas pusat membuatnya unggul dalam menghadapi tekanan inflasi.

“Bitcoin tidak bisa dicetak ulang seperti fiat dan memiliki batas suplai maksimum 21 juta koin,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa struktur ini memberi keunggulan strategis sebagai alat pelindung nilai jangka panjang.

Di saat otoritas moneter seperti The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi, investor mulai mencari instrumen netral yang tidak mudah dimanipulasi.

Bitcoin, menurutnya, menawarkan ketahanan politik dan struktur pasar yang terbuka dan transparan.

Hal ini menjadi alasan mengapa aset digital ini tetap stabil di saat emas justru mengalami tekanan.

Realokasi Kepercayaan Investor

Antony mengungkapkan bahwa pergeseran minat terhadap Bitcoin mencerminkan realokasi kepercayaan dari aset tradisional menuju aset digital.

Ia menegaskan bahwa minat investor terhadap Bitcoin kini didasari pendekatan yang lebih dewasa dan strategis.

“Investor saat ini mulai membangun portofolio dengan pola pikir jangka panjang, bukan sekadar mengejar volatilitas jangka pendek,” katanya.

Strategi seperti Dollar-Cost Averaging (DCA) menurutnya semakin populer karena mendorong akumulasi aset secara konsisten.

Hal ini menjadi refleksi dari tumbuhnya kesadaran investor atas pentingnya diversifikasi dalam era ketidakpastian.

Bitcoin pun mulai menempati posisi unik sebagai pelengkap, bukan pengganti, aset tradisional seperti emas.

Menurut Antony, keduanya bisa berperan sebagai pelindung nilai, tetapi melalui pendekatan dan konteks yang berbeda.

“Bitcoin dan emas tidak harus saling meniadakan,” jelasnya.

Emas masih dianggap kuat karena memiliki legitimasi ribuan tahun, sedangkan Bitcoin unggul di era digitalisasi ekonomi.

Keduanya bisa berjalan beriringan dalam portofolio yang terstruktur dan dinamis.

Regulasi Kripto Kian Mendukung Stabilitas Pasar

Di sisi lain, perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat dan Indonesia memberikan angin segar bagi pasar.

Antony menyambut baik langkah regulatif terhadap stablecoin yang dinilainya sebagai pondasi penting bagi pertumbuhan ekosistem kripto.

Ia menyoroti pentingnya kerangka hukum yang jelas agar investor merasa aman dan ekosistem tumbuh secara berkelanjutan.

Menurutnya, pengawasan oleh OJK di Indonesia menjadi sinyal positif bagi masa depan kripto di pasar domestik.

Langkah-langkah ini disebutnya mampu mendorong adopsi yang lebih luas dan membangun kepercayaan publik terhadap aset digital.

Dengan semakin jelasnya aturan, pelaku pasar dapat mengembangkan inovasi tanpa harus waswas terhadap ketidakpastian hukum.

Regulasi yang tepat akan menjembatani dunia keuangan konvensional dan ekonomi digital yang sedang berkembang pesat.

Masa Depan Emas dan Bitcoin di Tengah Tekanan Global

Di tengah konflik geopolitik dan kebijakan moneter ketat, performa Bitcoin dan emas menunjukkan arah yang bertolak belakang.

Ketahanan Bitcoin di level tinggi mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fungsinya sebagai aset perlindungan di era baru.

Sebaliknya, emas kini mulai kehilangan sebagian daya tariknya akibat tekanan suku bunga tinggi dan prospek inflasi yang masih membayangi.

Antony menilai bahwa investor akan semakin selektif dalam menentukan instrumen pelindung nilai ke depan.

Kekuatan Bitcoin sebagai aset yang tidak terikat pada satu negara atau kebijakan menjadi daya tarik utama dalam situasi global saat ini.

Investor yang mengadopsi strategi jangka panjang dengan pendekatan disiplin akan lebih mampu bertahan dalam kondisi ekstrem.

Menurutnya, ekosistem kripto akan terus berkembang seiring meningkatnya literasi digital dan dukungan regulasi global.

Bitcoin telah memasuki fase adopsi yang lebih matang, meninggalkan stigma spekulatif yang selama ini melekat.

Kini, saat dunia bergerak menuju ekonomi berbasis data dan digitalisasi, Bitcoin hadir sebagai salah satu simbol transisi zaman.

Aset ini bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang filosofi kebebasan finansial, keterbukaan, dan kontrol individu atas nilai kekayaan mereka.

Saat dunia terus bergolak, satu hal menjadi semakin jelas lanskap investasi global telah berubah secara fundamental.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan