Geser Kebawah
HeadlineKriptoPasar

Bitcoin Tembus Rp1,77 M, Institusi Mulai Borong Lagi

287
×

Bitcoin Tembus Rp1,77 M, Institusi Mulai Borong Lagi

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Tembus Rp1,77 M, Institusi Mulai Borong Lagi
Harga Bitcoin menembus Rp1,77 miliar didorong pembelian institusi seperti DDC Enterprise. Strategi akumulasi jadi kunci kekuatan harga kripto.

Bitcoin Perkasa, Investor Institusional Dorong Penguatan Pasar Kripto

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar kripto menunjukkan penguatan dalam 24 jam terakhir seiring meningkatnya aktivitas akumulasi oleh institusi besar.

Bitcoin (BTC) yang merupakan aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, kini diperdagangkan di kisaran US$ 108.972 atau setara Rp 1,77 miliar per koin (kurs Rp16.267).

Sponsor
Iklan

Kenaikan ini mendorong kapitalisasi pasar kripto global naik 1,12% menjadi US$ 3,37 triliun, menurut data Coinmarketcap per Rabu pagi (9/7/2025).

Penguatan harga BTC sebesar 0,7% ini juga diikuti oleh kenaikan pada sejumlah altcoin seperti Ethereum (ETH) yang naik 2,9% menjadi US$ 2.617 dan Solana (SOL) sebesar 2% ke US$ 151.

Aksi Beli DDC Jadi Katalis Harga Bitcoin

Kembalinya institusi besar ke pasar menjadi penggerak utama. Salah satunya adalah DDC Enterprise, yang kembali membeli 230 BTC ke dalam neraca perusahaan.

Dengan akumulasi ini, total kepemilikan Bitcoin DDC meningkat menjadi 368 BTC—melampaui proyeksi fase awal dari rencana 500 BTC dalam enam bulan.

CEO DDC Enterprise, Norma Chu, menegaskan bahwa Bitcoin kini menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang perusahaan.

“Pembelian ini memperkuat komitmen kami terhadap Bitcoin sebagai aset strategis dalam neraca keuangan,” ujarnya.

Langkah agresif ini dimungkinkan oleh penggalangan dana jumbo senilai US$ 528 juta dari investor institusi seperti Anson Funds, Animoca Brands, dan Kenetic Capital.

Target jangka panjang DDC adalah memegang hingga 5.000 BTC dan menjadi perusahaan publik terdepan dalam kategori Bitcoin-based corporate treasury.

Strategy Tunda Beli, Tapi Siapkan Aksi Besar

Sementara itu, perusahaan pemegang Bitcoin korporat terbesar, Strategy, menghentikan pembelian bulanan setelah tiga bulan berturut-turut menambah BTC.

Meski terlihat seperti jeda, perusahaan menyatakan langkah ini sebagai bagian dari strategi menjelang penawaran saham senilai US$ 4,2 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk kembali membeli Bitcoin dalam jumlah besar, memperkuat dominasinya di peta kepemilikan institusi.

Hingga kini, Strategy tercatat memegang 597.325 BTC, setara 2,8% dari total suplai Bitcoin global yang beredar di pasar.

Likuiditas Spot Melemah, Tapi Institusi Masih Masuk

Di sisi lain, investor ritel dan spot market cenderung melemah dalam beberapa pekan terakhir.

Arus masuk ke ETF Bitcoin pekan lalu hanya mencatat US$ 790 juta, turun dari rerata mingguan US$ 1,5 miliar sepanjang Juni.

Tekanan ini dipicu oleh ketidakpastian makroekonomi global, serta penyesuaian suku bunga yang berdampak ke selera risiko pasar.

Meski begitu, sejumlah institusi tetap aktif menambah eksposur, termasuk Metaplanet yang terus melakukan pembelian meski volume pasar rendah.

Langkah ini turut menjaga harga Bitcoin bertahan di atas US$ 108 ribu dan menunjukkan bahwa optimisme institusional belum luntur.

BTC Jadi Aset Treasury Baru?

Fenomena baru ini menandai pergeseran peran Bitcoin dari sekadar aset spekulatif menjadi komponen aktif dalam strategi neraca keuangan perusahaan.

Jika tren ini berlanjut, BTC bukan lagi aset pinggiran, tetapi berpeluang menjadi store of value korporasi di era digitalisasi aset.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.