Geser Kebawah
BankKeuangan

BNI Tawarkan Bunga Deposito Stabil, Pilihan Aman di Tengah Gejolak

77
×

BNI Tawarkan Bunga Deposito Stabil, Pilihan Aman di Tengah Gejolak

Sebarkan artikel ini
BNI Tawarkan Bunga Deposito Stabil, Pilihan Aman di Tengah Gejolak
Di tengah sentimen pasar dan ketidakpastian global, BNI tetap tawarkan bunga deposito stabil hingga 3% per tahun. Simak analisis tren dan relevansinya.

Deposito Masih Relevan, BNI Jaga Bunga Tetap Stabil

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah dinamika pasar keuangan global dan tren investasi digital yang semakin beragam, deposito masih bertahan sebagai pilihan konservatif untuk menyimpan dana.

Bank Negara Indonesia (BNI/IDX:BBNI) menawarkan bunga deposito mulai dari 2,25% hingga 3% per tahun, berlaku per 26 Juni 2025.

Sponsor
Iklan

Skema bunga BNI tidak berubah sejak 2022, mencerminkan strategi stabilitas di tengah ketidakpastian.

Untuk nominal di bawah Rp 100 juta, bunga 3% berlaku jika dana disimpan selama 24 bulan.

Suku bunga ini juga berlaku seragam untuk nasabah ritel hingga korporasi dengan nominal di atas Rp 100 miliar.

Dianggap Kuno, Tapi Tetap Bertahan di Pasar Tradisional

Di era platform investasi digital yang menjanjikan return tinggi, deposito memang kerap dianggap produk konvensional.

Namun kenyataannya, jutaan nasabah masih mengandalkan deposito sebagai tempat menyimpan dana cadangan.

Segmen utama produk ini umumnya berasal dari kalangan konservatif seperti pensiunan, UMKM mapan, hingga institusi pendidikan.

Alasan mereka sederhana: bunga tetap, bebas risiko pasar, dan dijamin LPS.

BNI, sebagai bank pelat merah, memanfaatkan persepsi ini untuk memperkuat loyalitas nasabah konservatif.

Suku Bunga Tak Berubah Sejak 2022, Apa Strateginya?

Menariknya, bunga deposito BNI yang berlaku hari ini masih mengacu pada kebijakan 31 Oktober 2022.

Di saat bank-bank lain mulai menyesuaikan bunga menyusul tren suku bunga acuan, BNI memilih mempertahankan.

Langkah ini bisa dimaknai sebagai upaya mempertahankan likuiditas berbasis dana murah.

BNI tampaknya tidak memburu agresivitas dana mahal, melainkan menjaga stabilitas struktur dana jangka menengah.

Di sisi lain, hal ini memberi pesan kuat kepada pasar bahwa BNI berada dalam kondisi likuid yang sehat.

Simulasi Return: Apakah Deposito Masih Kompetitif?

Untuk dana Rp 100 juta dengan tenor 12 bulan, bunga 3% akan menghasilkan bunga bruto Rp 3 juta.

Setelah pajak 20%, return bersih menjadi Rp 2,4 juta atau sekitar Rp 200 ribu per bulan.

Jika dibandingkan dengan inflasi tahunan 3% (asumsi BI), maka secara riil bunga deposito BNI saat ini hanya menyamai inflasi.

Artinya, deposito BNI lebih cocok sebagai tempat menyimpan likuiditas pasif, bukan untuk akumulasi kekayaan.

Meski demikian, bagi sebagian besar nasabah, kepastian nominal jauh lebih penting daripada potensi return tinggi tapi fluktuatif.

Sentimen Pasar dan Implikasi Geopolitik

Di tengah konflik Israel-Iran dan tekanan harga komoditas, banyak investor institusi justru kembali memburu aset aman.

Instrumen berbasis fixed income seperti deposito kembali dilirik sebagai bantalan risiko portofolio.

Dalam konteks ini, BNI menjadi salah satu bank yang mampu menawarkan jaminan stabilitas melalui struktur bunga tetap.

Kepercayaan publik pada BNI juga diperkuat oleh statusnya sebagai BUMN dan anggota Himbara.

Bukan hanya individu, entitas pemerintah daerah juga kerap menjadikan BNI sebagai mitra simpanan dana idle.

Pandangan Analis: “Bukan Return, Tapi Disiplin Likuiditas”

Menurut Mohamad Ali, Analis Senior BursaNusantara.com, fungsi utama deposito di era saat ini bukan sekadar mencari imbal hasil.

“Deposito hari ini bukan soal mengejar bunga, tapi menjaga disiplin likuiditas dan kepastian waktu pencairan,” ujarnya.

Ali menambahkan, banyak pelaku pasar ritel yang tergoda imbal hasil tinggi dari instrumen berisiko, namun mengabaikan risiko likuiditas saat butuh dana mendesak.

“Dalam deposito, tidak ada drama harga pasar. Kita tahu kapan jatuh tempo, tahu jumlah yang diterima, itu keunggulannya,” lanjut Ali.

Ia menyarankan agar masyarakat tidak mengabaikan fungsi diversifikasi.

“Jangan seluruh dana dimasukkan ke saham, kripto, atau reksa dana. Deposito tetap perlu, apalagi untuk dana darurat atau kas operasional,” pungkasnya.

Kapan Waktu yang Tepat Menempatkan Dana di Deposito?

Waktu terbaik menaruh dana di deposito adalah saat suku bunga acuan stabil atau menurun.

Kondisi saat ini cukup ideal karena Bank Indonesia telah menahan BI Rate di level moderat.

Meski bunga 3% bukan yang tertinggi di pasar, kestabilan dan reputasi BNI jadi nilai tambah.

Strategi yang bisa diterapkan adalah menempatkan dana dalam skema laddering—memecah dana ke beberapa tenor agar fleksibel.

Dengan demikian, nasabah bisa tetap menikmati bunga tetap sambil menjaga fleksibilitas likuiditas bulanan.

Pilihan Konservatif dengan Citra Modern

Meski dianggap “kuno”, BNI mulai memperkuat citra digital dari produk deposito.

Lewat mobile banking BNI, nasabah kini bisa membuka dan mencairkan deposito tanpa harus ke cabang.

Digitalisasi inilah yang membuat produk lama seperti deposito tetap relevan di tengah era disruptif.

BNI juga menyediakan opsi perpanjangan otomatis (ARO) dan simulasi digital yang membantu nasabah menghitung bunga secara real time.

Dalam konteks digitalisasi layanan, BNI sukses mengemas konservatisme menjadi solusi modern.

Narasi Stabilitas di Tengah Gejolak

Di tengah berita ketidakpastian geopolitik, fluktuasi pasar saham, dan tekanan inflasi global, stabilitas menjadi aset.

BNI hadir bukan dengan janji return spektakuler, melainkan kepastian nominal dan ketenangan pikiran.

Dalam lanskap perbankan yang semakin kompetitif, strategi ini memberi diferensiasi yang kuat di segmen konservatif.

Bagi mereka yang mencari kepastian, bukan volatilitas, deposito BNI tetap relevan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan