IHSG "Freeze"! Bos Bursa Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Ketetapan MSCI
JAKARTA – Pasar modal Indonesia sempat diguncang kepanikan hingga memicu trading halt setelah munculnya ketetapan terbaru dari MSCI.
Menanggapi situasi “darurat” ini, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya memberikan klarifikasi mendalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
Pihak Bursa menegaskan bahwa situasi ini berkaitan erat dengan metodologi klasifikasi data investor, terutama terkait komponen free float.
Bukan Pasif, BEI Sedang “Berlari”
Bos Bursa menegaskan bahwa BEI, OJK, dan KSEI terus melakukan perbaikan. Namun, ia mengakui adanya celah antara data yang tersedia dengan standar metodologi yang diminta MSCI.
“Kami sudah melakukan perbaikan data free float, tapi mungkin belum memuaskan metodologi mereka. MSCI meminta data spesifik pada pertengahan Januari, dan pengembangan sistem kami memang memerlukan waktu agar sesuai dengan standar global,” ungkap Bos Bursa dalam sesi penjelasan resminya.
Misi Edukasi: Korporasi Lokal Juga Trading!
Salah satu poin krusial adalah perbedaan definisi ‘Others’ dan ‘Corporate’ dalam data investor. BEI kini sedang berupaya mengedukasi MSCI bahwa banyak institusi korporasi di Indonesia yang aktif melakukan trading, bukan sekadar buy and hold.
“Kami ingin tunjukkan bahwa korporasi kita adalah institusi finansial yang aktif bertransaksi. Tujuannya agar MSCI tidak asal meng-exclude saham-saham potensial dari indeks mereka,” tambahnya.
Benchmark Global: Belajar dari India
Untuk mengatasi masalah transparansi, BEI kini melakukan benchmarking ke bursa-bursa besar dunia, salah satunya India. Klasifikasi investor akan diperketat agar lebih transparan dan dapat diakses publik secara luas.
Poin-poin transformasi bursa ke depan:
- Klasifikasi Investor yang Detail: Memilah jenis korporasi, private equity, hingga fiduciary fund.
- Transparansi Data Publik: Semua data perbaikan akan dipublikasikan secara terbuka, bukan hanya untuk MSCI.
- Roadmap Likuiditas: BEI menyiapkan aturan baru untuk meningkatkan kedalaman pasar (market deepening) guna menyambut bonus demografi 2045.
“Kami responsif. Transparansi data adalah harga mati. Ada atau tidaknya sorotan MSCI, peningkatan likuiditas adalah target utama kami,” pungkas Bos Bursa dengan nada optimis.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












