BankKeuangan

BRI Kuasai Ekonomi Rakyat: Untung Besar, Agen Tembus Desa

191
BRI Kuasai Ekonomi Rakyat Untung Besar, Agen Tembus Desa
BRI catat laba Rp26,5 T dan ekspansi ultra mikro masif hingga ke 67 ribu desa lewat AgenBRILink dan BRIVolution 2025.

Laba Jumbo dan Transformasi Ultra Mikro Jadi Strategi Tumbuh di Akar Rumput

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menunjukkan arah baru pertumbuhan ekonomi Indonesia lewat strategi berbasis akar rumput yang dipadukan transformasi digital agresif.

Paruh pertama 2025 ditutup BRI dengan laba bersih sebesar Rp26,53 triliun. Di saat banyak bank besar fokus pada korporasi dan digitalisasi urban, BRI justru memperluas cakupan ke segmen mikro dan ultra mikro melalui strategi holistik bertajuk “BRIVolution Reignite”.

Dengan total aset tembus Rp2.106,4 triliun, pertumbuhan BRI tidak hanya tercermin pada neraca keuangan, tetapi juga di desa-desa, pasar tradisional, hingga warung-warung kecil lewat lebih dari 1,2 juta AgenBRILink.

BRIVolution: Reorientasi Bisnis Menuju Model Sosial-Komersial

Strategi BRIVolution 2025 mengedepankan perubahan menyeluruh dari fondasi organisasi, digitalisasi channel, hingga kultur kerja dan kebijakan kredit mikro.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan perbaikan struktur dana dan efisiensi funding melalui CASA menjadi prioritas. Fokusnya ada pada peningkatan segmen ritel dan wholesale lewat penguatan brand, simplifikasi produk, serta akselerasi giro.

Selain itu, pengembangan new growth engine juga dijalankan lewat evaluasi model bisnis mikro, penguatan layanan gadai, dominasi bisnis payroll, dan akselerasi pembiayaan sektor komersial menengah.

Digitalisasi bukan sekadar alat, tetapi arsitektur inti transformasi. BRImo mencatat kenaikan user 21,2% YoY menjadi 42,7 juta pengguna, dengan transaksi Rp3.231,7 triliun. Qlola BRI untuk korporasi mencatat transaksi Rp5.970 triliun, tumbuh 33,9%.

Strategi Mikro dan Ultra Mikro: Ekspansi Tanpa Kantor, Efisiensi Tanpa Mengorbankan Layanan

BRI mengandalkan dua pilar ekspansi unik: AgenBRILink dan Holding Ultra Mikro (UMi).

Hingga Juni 2025, AgenBRILink menjangkau 67 ribu desa dengan 1,2 juta agen aktif, mencatat transaksi Rp843 triliun, naik hampir 10% yoy.

Yang mencolok, peran AgenBRILink kini bergeser dari sekadar agen transaksi menjadi “lifestyle micro provider”, yang mendistribusikan layanan keuangan, produk digital, hingga kebutuhan sosial masyarakat lokal.

Sementara itu, Holding UMi menjangkau 34,7 juta debitur aktif dengan 126 juta rekening simpanan mikro. Sinergi ini mempercepat inklusi keuangan nasional sekaligus menurunkan biaya akuisisi nasabah baru.

Kredit dan Dana Murah Tetap Jadi Motor Keuangan

Total kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp1.416,6 triliun, tumbuh 6,0% YoY. Menariknya, 80,3% dari kredit tersebut disalurkan ke segmen UMKM, menandakan komitmen BRI terhadap ekonomi rakyat.

Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tumbuh 6,7% YoY menjadi Rp1.482,1 triliun. Pertumbuhan dana murah (CASA) mencapai 10,6%, dengan porsi meningkat menjadi 65,5%.

Peningkatan ini didorong dana giro yang naik 16,1% dan tabungan naik 6,8%, mencerminkan sukses BRI dalam reorientasi funding structure yang efisien dan stabil.

Efisiensi pendanaan BRI tercermin pada penurunan Cost of Fund (CoF) menjadi 3,6% dan Cost of Deposit (CoD) terjaga di 3,0%.

Likuiditas dan Permodalan Jadi Penopang Ekspansi Jangka Panjang

Dari sisi likuiditas, BRI menjaga LDR di level sehat 84,97%, LCR di 150,5%, dan NSFR sebesar 125,6%. Ini menunjukkan ruang tumbuh masih luas, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.

Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI juga mencapai 25,01%, termasuk yang tertinggi di industri nasional, memberi keleluasaan ekspansi tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.

PPOP meningkat menjadi Rp58,3 triliun, naik 2,2% YoY, menunjukkan kestabilan pendapatan operasional meski tekanan eksternal masih berlangsung.

Manajemen Risiko dan Kualitas Aset Jadi Fondasi Kepercayaan Investor

Rasio kredit bermasalah atau NPL BRI turun ke 3,04% dari tahun sebelumnya. Hal ini berkat strategi selektif dalam pertumbuhan, digitalisasi proses penagihan, dan pemulihan kredit bermasalah.

NPL Coverage sebesar 188,84% menjadi bukti kehati-hatian manajemen dalam mengantisipasi potensi krisis dan menjaga kepercayaan investor maupun regulator.

Direktur Manajemen Risiko Mucharom menegaskan bahwa kekuatan pencadangan ini tidak hanya menjaga neraca tetap sehat, tetapi juga memberi fleksibilitas jika ada gejolak ke depan.

Digitalisasi Proses Bisnis Mikro: Kecepatan Jadi Daya Saing

Untuk bisnis mikro, BRI melakukan reengineering proses berbasis empat pilar: SDM, model bisnis, kebijakan produk, dan kemampuan analisis data.

Langkah ini bertujuan mempercepat pencairan kredit, meningkatkan ketepatan profiling, serta memberikan layanan yang relevan dengan kebutuhan pelaku usaha mikro.

Akhmad Purwakajaya, Direktur Mikro BRI, menegaskan bahwa tantangan pelaku usaha mikro hari ini bukan hanya permodalan, tapi akses, kecepatan, dan kepercayaan. Empat area transformasi itu menjawab ketiganya secara terintegrasi.

Inklusi Keuangan dan Pemberdayaan: Menjawab Tugas Sejarah

BRI tidak hanya bicara ekspansi, tetapi juga transformasi sosial.

Program Desa BRILian sudah menjangkau 4.625 desa. Program KlasterkuHidupku mendampingi 41.217 klaster usaha. Platform LinkUMKM telah dimanfaatkan lebih dari 12,9 juta pelaku UMKM.

Selain itu, BRI juga mengelola 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 16 ribu pelatihan kewirausahaan.

Agus Noorsanto, Wakil Direktur Utama BRI, menyatakan bahwa BRI tidak akan pernah kehilangan orientasi sosialnya. “Kami bukan hanya bank. Kami fasilitator pembangunan ekonomi rakyat.”

BRI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp83,88 triliun kepada 1,8 juta debitur hingga Juni 2025, termasuk UMKM yang menjadi penyokong Program Makan Bergizi Gratis pemerintah.

Masa Depan: BRI Bukan Lagi Bank, Tapi Ekosistem Ekonomi Mikro

Laba besar dan aset jumbo bukan lagi headline utama BRI. Yang lebih penting adalah bagaimana BRI mengubah lanskap ekonomi nasional dari bawah ke atas.

Di era ketika bank cenderung menutup cabang fisik dan berfokus pada digitalisasi, BRI justru memperkuat jaringannya ke desa, memperbesar perannya dalam ekonomi sosial, dan memperkaya platform digital inklusif.

Ke depan, posisi BRI akan lebih menyerupai national economic backbone ketimbang sekadar institusi keuangan, dengan misi besar membangun ekonomi mikro yang tangguh, inklusif, dan kompetitif secara global.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version