JAKARTA, BursaNusantara.com – Dalam dunia investasi yang semakin kompleks dan serba cepat, Warren Buffett kembali menegaskan bahwa pendekatan klasik tetap relevan.
Dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway 2025, legenda investasi itu mengungkapkan kembali filosofi utamanya yang kerap bertolak belakang dengan praktik lazim Wall Street.
Alih-alih terobsesi pada angka laba rugi, Buffett menempatkan neraca keuangan sebagai sumber utama dalam mengevaluasi bisnis.
“Saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat neraca daripada laporan laba rugi,” tegasnya di hadapan para pemegang saham.
Baca Juga: Kunci Warren Buffett Hadapi Inflasi: Investasi dan Karakter
Menurutnya, laporan laba bisa dihias atau dimanipulasi tanpa benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya.
Ia mencontohkan bagaimana penerbitan saham baru, peningkatan utang, atau bahkan penggunaan laba ditahan bisa menciptakan kesan pertumbuhan yang menyesatkan.
Fokus pada Keseimbangan dan Nilai Jangka Panjang
Bagi Buffett, yang menjadi tolok ukur sesungguhnya bukanlah seberapa besar perusahaan mencetak laba, melainkan apakah nilai kekayaan bersih perusahaan benar-benar bertambah tanpa harus menambah utang atau mencairkan kepemilikan.
Inilah mengapa ia memberi perhatian ekstra pada neraca, yang menurutnya menyimpan informasi yang lebih sulit dimanipulasi.
Baca Juga: Nasihat Warren Buffett: Kunci Kesuksesan Jangka Panjang di Pasar Saham
Ia menyukai bisnis yang memiliki “parit ekonomi” keunggulan kompetitif jangka panjang seperti kepemilikan eksklusif atas jaringan pengiriman logistik atau posisi pasar yang sulit ditiru.
Jejak Serupa dalam Strategi Greg Abel
Pendekatan ini tidak berhenti di Buffett saja. Greg Abel, wakilnya yang telah lama dipersiapkan untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Berkshire, juga memiliki pemahaman yang sama mendalam soal struktur keuangan.
Berasal dari latar belakang akuntansi dan pernah menjadi auditor di PwC, Abel menegaskan pentingnya analisis menyeluruh sebelum bertindak cepat dalam setiap keputusan akuisisi.
Baca Juga: 4 Rahasia Warren Buffett: Kunci Sukses Untuk Segala Hal
Ia menyatakan bahwa keputusan bisnis yang tampak cepat sejatinya didukung oleh proses panjang di belakang layar. “Jangan pernah meremehkan jumlah bacaan dan pekerjaan yang dilakukan untuk bersiap bertindak cepat,” ujar Abel.
Dengan gaya manajemen yang teliti dan penuh persiapan, Abel memperkuat keyakinan pasar bahwa warisan strategi Buffett akan tetap terjaga.
Antisipasi Risiko, Bukan Sekadar Mengejar Untung
Salah satu cerita yang menegaskan filosofi kehati-hatian Buffett adalah saat pertama kali meninjau keuangan MidAmerican, perusahaan yang kemudian diakuisisi Berkshire. Ketimbang menyoal performa operasional, perhatian Buffett langsung tertuju pada neraca, terutama kontrak derivatif yang tertera di sana.
Julukan derivatif sebagai “senjata pemusnah massal” mencerminkan betapa seriusnya Buffett menilai instrumen ini. Dalam pandangannya, derivatif berisiko tinggi bisa menghancurkan perusahaan dalam sekejap, sebagaimana pernah dialami Enron.
Baca Juga: BEI Luncurkan Foreign Index Futures, Peluang Global
Abel, yang saat itu berada di MidAmerican, menjelaskan bahwa kontrak derivatif yang dimiliki hanya digunakan untuk lindung nilai, bukan spekulasi. Penjelasan tersebut memuaskan Buffett dan keputusan untuk mengakuisisi perusahaan pun diambil.
Namun cerita belum berakhir di sana. Ketika harga listrik melonjak akibat krisis energi 18 bulan kemudian, Buffett kembali bertanya bukan untuk mencari angka keuntungan, melainkan untuk menguji prinsip: apakah posisi derivatif MidAmerican bersifat spekulatif.
Abel menjawab tegas, “Kami tidak menghasilkan lebih banyak uang dibanding enam bulan sebelumnya karena seluruh derivatif benar-benar digunakan untuk mendukung bisnis.”
Jawaban ini mempertegas bahwa prinsip kehati-hatian bukan sekadar retorika, melainkan dijalankan secara disiplin.
Melanjutkan Warisan dengan Pendekatan Adaptif
Ke depan, Greg Abel diyakini akan tetap menggunakan prinsip yang diwariskan Buffett, namun dengan nuansa yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.
Ia tidak akan mengambil risiko besar hanya untuk mengejar akuisisi raksasa yang bisa mengguncang stabilitas perusahaan.
Meski begitu, gaya Abel tidak sepenuhnya fotokopi Buffett. Ia lebih terbuka terhadap sinergi sektoral antar anak usaha Berkshire, khususnya dalam sektor ritel, yang selama ini berjalan sangat otonom.
Model akuisisi khas Berkshire yang memberi otonomi penuh kepada perusahaan target menjadi daya tarik utama bagi bisnis keluarga yang ingin mempertahankan identitas dan kontrol.
Namun model ini kerap mengorbankan peluang integrasi operasional antar unit bisnis.
Abel mengakui kelebihan model tersebut, tetapi ia juga memberikan sinyal bahwa jika ada peluang untuk eksplorasi lebih lanjut antarunit, ia tidak akan menutup diri. “Bisnis Berkshire berjalan sangat otonom, dan hal itu masih berlaku,” kata Abel.
Namun ia menambahkan, bila ada kesempatan strategis yang muncul dalam suatu sektor, ia siap untuk duduk dan berdiskusi lebih jauh.
Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa kelanjutan arah Berkshire tidak akan stagnan melainkan bergerak hati-hati namun penuh kesiapan terhadap peluang baru yang mungkin muncul.









