Transformasi Bisnis BUMI Menuju Sumber Daya Alam Terdiversifikasi
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bumi Resources Tbk (IDX:BUMI) mulai bergerak agresif mendiversifikasi bisnis dari batu bara ke emas dan mineral lain.
BUMI membidik akuisisi tambang emas di Australia dengan estimasi produksi 100 ribu troy ounce per tahun.
Produksi tersebut berada di atas capaian anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (IDX:BRMS), yang tahun ini diproyeksikan hanya 65 ribu oz.
Namun, produksi BRMS diperkirakan akan menyalip BUMI dalam waktu dekat karena ekspansi tambang dan eksplorasi bawah tanah.
Sucor Sekuritas mencatat transformasi BUMI sebagai agenda multi tahun untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.
BUMI menargetkan 50% kontribusi EBITDA berasal dari bisnis non-batu bara pada 2030.
Kontribusi tersebut akan ditopang oleh ekspansi di sektor emas, alumina, gasifikasi batu bara, dan tembaga.
Potensi Tambang Emas dan Smelter Bauksit Dorong Pertumbuhan
BUMI membidik tambang emas Australia dengan internal rate of return (IRR) hingga 33% sebagai fondasi ekspansi anorganik.
Selain itu, BUMI juga mengincar tambang bauksit serta pembangunan smelter alumina dengan nilai investasi US$ 1,5 miliar.
Restrukturisasi keuangan membuat debt to equity ratio (DER) BUMI turun drastis menjadi 0,5 kali.
Dengan rasio utang tersebut, BUMI dinilai memiliki fleksibilitas tinggi untuk mencari pendanaan ekspansi.
Sucor Sekuritas menilai BUMI dalam posisi ideal untuk mengakselerasi pertumbuhan di sektor sumber daya alam yang kini tengah naik daun.
Akuisisi dan pengembangan smelter diharapkan memperkuat diversifikasi portofolio bisnis BUMI ke depan.
Bisnis Batu Bara Tetap Jadi Penopang Laba dalam Jangka Pendek
Meski tengah transformasi, batu bara tetap menjadi tulang punggung pendapatan BUMI untuk jangka pendek.
BUMI mencatatkan produksi stabil di kisaran 80-85 juta ton per tahun, didukung cadangan 940 juta ton dan sumber daya 4,5 miliar ton.
Produksi ini dijalankan oleh dua anak usaha, PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia, yang mampu menjaga biaya kas hanya US$ 50-65 per ton.
Sucor Sekuritas menyebut BUMI akan diuntungkan dari penyesuaian tarif royalti sebagai pemegang izin usaha pertambangan khusus (IUPK).
Tarif royalti BUMI berpotensi turun signifikan dari 28% menjadi 19%, memperbaiki margin operasional.
Penurunan ini menjadi insentif tambahan bagi BUMI untuk mempertahankan daya saing di tengah fluktuasi harga global.
Proyeksi Kinerja dan Target Harga Saham BUMI
Meski tahun ini kinerja diprediksi melemah, proyeksi tahun depan menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat.
Sucor Sekuritas memperkirakan laba bersih BUMI tahun ini turun menjadi US$ 66 juta akibat tekanan harga jual rata-rata (ASP).
Namun, tahun depan laba bersih diproyeksi naik 14% menjadi US$ 72 juta, didukung stabilisasi harga batu bara dan efisiensi biaya bahan bakar.
Efek dari penurunan tarif royalti juga diprediksi meningkatkan margin laba bersih BUMI secara signifikan.
Sucor Sekuritas menginisiasi coverage saham BUMI dengan target harga Rp 160 dan memberikan rekomendasi beli.
Saat berita ini ditulis, saham BUMI turun 1,5% ke level Rp 126, membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.








