Ketimpangan Bunga Bank Digital dan Beban Kredit UMKM
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saat tren suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menurun, pelaku UMKM dan nasabah konsumsi justru menghadapi bunga kredit tinggi dari bank digital.
Alih-alih menurunkan suku bunga untuk mendukung inklusi, sejumlah bank digital justru tetap mematok SBDK dua digit, bahkan ada yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Fenomena ini mencerminkan ketimpangan antara arah kebijakan makroekonomi dengan praktik bunga mikro perbankan digital.
Pelaku usaha kecil dan debitur konsumtif menjadi pihak yang paling terdampak karena bunga kredit mereka tidak mengikuti penurunan BI rate.
Keputusan perbankan digital justru lebih banyak ditentukan oleh perhitungan risiko internal dan efisiensi biaya operasional.
SBDK Bank Digital Masih Menyentuh 26 Persen
PT Bank Amar Indonesia Tbk (IDX:AMAR) misalnya, menetapkan suku bunga dasar kredit sebesar 9,69% hingga 24,04% pada April 2025.
Kredit mikro dan konsumsi non-KPR menyumbang porsi bunga tertinggi karena biaya overhead operasional mencapai 16,21%.
Margin keuntungan yang diambil Amar Bank tergolong konservatif, hanya sekitar 2% dari total beban bunga.
David Wirawan, SVP Finance Amar Bank, menegaskan bunga tinggi dibentuk melalui risk-based pricing berdasarkan risiko debitur dan kapasitas pasar.
Menurutnya, segmen UMKM dan individu belum terlayani membawa risiko inheren yang tinggi dan tidak dapat disubsidi oleh skema konvensional.
Krom dan Jago Naikkan SBDK Meski BI Rate Turun
PT Krom Bank Indonesia Tbk (IDX:BBSI) justru menaikkan SBDK dari 8,13%–8,53% pada Januari 2025 menjadi 9,02%–9,45% di April 2025.
Kenaikan ini dilakukan bersamaan dengan penyesuaian margin keuntungan bank secara bertahap.
PT Bank Jago Tbk (IDX:ARTO) turut menaikkan SBDK korporasi dari 7,41% ke 7,72% di periode yang sama, walau margin keuntungannya tetap konstan di kisaran 2%.
Hal ini menunjukkan bahwa strategi pricing bank digital lebih didorong logika bisnis internal ketimbang pergerakan suku bunga BI.
Padahal, di sisi lain, pelonggaran moneter seharusnya memberi ruang ekspansi kredit, terutama bagi UMKM yang terdampak inflasi dan pelemahan daya beli.
Allo Bank: Bunga Kredit Bisa Sampai 26,75%
Sinyal ketidaksinkronan ini juga terlihat pada PT Allo Bank Indonesia Tbk (IDX:BBHI) yang mencatat SBDK antara 10% hingga 26,75%.
Kredit konsumsi non-KPR mencatat bunga tertinggi, didorong beban overhead hingga 17,1% dan margin keuntungan sebesar 3,45%.
Direktur Umum Allo Bank, Indra Utoyo, menyebut struktur bunga didasarkan pada profil risiko masing-masing debitur.
Debitur berisiko rendah mendapat bunga lebih kompetitif, sebaliknya nasabah dengan skor kredit rendah dikenai bunga tinggi.
Indra menyebut risk premium pada kredit tanpa agunan adalah keniscayaan untuk menjaga kelangsungan portofolio.
Namun, menurutnya, kemudahan proses digital dan fleksibilitas produk sering menjadi daya tarik yang lebih besar ketimbang semata-mata bunga rendah.
Penyesuaian Bunga Kredit Tak Lagi Otomatis Ikuti BI Rate
Penyesuaian bunga kredit oleh bank digital kini tidak lagi berpatokan langsung pada BI rate, melainkan dipengaruhi kesiapan internal dan dinamika biaya dana.
David dari Amar Bank menyebut keseimbangan antara daya saing bunga dan prinsip kehati-hatian adalah kunci dalam ekosistem kredit inklusif.
Anton Hermawan, Direktur Utama Krom Bank, menegaskan bunga ditentukan proporsional sesuai risiko nasabah dan proses selektif dalam penyaluran.
Artinya, walaupun BI rate menurun, bank digital tetap berhati-hati agar tidak membuka risiko gagal bayar di segmen rentan.
Namun bagi pelaku UMKM, kondisi ini bisa menambah tekanan karena tidak mendapatkan akses kredit murah yang seharusnya terbuka di era bunga rendah.
Kesenjangan antara kebijakan moneter dan praktik bank digital menunjukkan tantangan tersendiri dalam integrasi inklusi keuangan nasional.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












